
Darendra sudah hampir satu jam menunggu Abian, namun adiknya itu tidak kunjung datang. Daren mulai terlihat kasal, "Mam, dimana dia? aku sudah menunggunya terlalu lama." ujar Daren terlihat sedikit emosi karena Abian sangat tidak bertanggung jaeab dengan janji yang sudah mereka buat.
"Mami tidak tau, dia keluar siang tadi dan dia bilang akan segera kembali." jawabnya dengan nada hawatir, Diana takut kedua anaknya bertengkar karena masalah yang akan Daren selesaikan ini. Diana melihat jika Abian masih bersikeras merebut Aneuly, jantung nya semakin berdebar membuat kepala wanita paruh baya yabg masih terlihat muda itu sedikit nyeri.
"Kalau begitu, aku akan mencarinya." ujar Daren langsung berdiri dan hendak melangkah.
"Daren, mami titip jangan sampai ada yang terluka di antar kalian." pinta Diana karena bagaimana pun kedua pria itu adalah anaknya Daren hanya mengangguk pelan lalu pergi.
Sementara di tempat lain, Abian memaksa Aneuly untuk ikut denganya pria itu sangat nekat membawa Aneuly keluar dari kediaman Darendra.
"Abian, ada apa lagi?" tanya Aneuly.
Abian melepaskan lengan Aneuly saat mereka sampai di sebuah taman di tengah kota, "Aneuly aku mohon. Beri aku kesempatan sekali saja, kamu sudah mengenalku lebih dulu sebelum mengenal ka Daren!" ujar Abian memohon pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku sudah pernah bilang Bian! aku memang lebih dulu mengenal kamu, tapi itu hanya sebatas teman dan tidak lebih." ujar Aneuly dengan napas panjang nya. "Dan lagi, aku lebih dulu mencintai Kakakmu."
Abian terduduk lemas di sebuah bangku taman, dia tau jika Aneuly dan Kakaknya mempunyai hubungan tapi dia berharap jika Aneuly memberinya kesempatan sekali saja dalam hidupnya.
"Apa aku sama sekali tidak berarti untukmu?" tanya Abian sambil menundukan kepalanya.
"Abian, kamu harus melihat ketiga keponakanmu. Mereka sudah sangat dekat denganku dan berharap jika aku menjadi Mommy nya dan juga istri dari Daddy nya. Kamu harus mengalah untuk keempat orang itu, aku tau suatu hari nanti kamu akan menemukan wanita yang jauh lebih cantik dan baik dariku." ujar Aneuly mendoakan masa depan Abian sahabatnya itu.
"Tentu saja, aku menyayangi mereka." ujar Aneuly jujur sejak awal Aneuly sangat menyukai ketiga anak itu dan menyayanginya seperti anaknya sendiri.
"Jangan mencariku jika aku menghilang beberapa hari ini," pintanya karena dia belum siap bertemu lagi dengan Aneuly saat melihat orang yang dia cintai bersama pasanganya.
Aneuly mengangguk karena Abian butuh waktu untuk menyendiri dan menetralkan pikiranya kembali.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Aneuly." pinta Abian sambil memeluk sahabatnya yang mungkin tidak akan dia temui lagi karena dirinya tidak tau sampai kapan akan menghindar dari Aneuly dan Kakak nya Darendra.
Sementara seseorang yang sejak tadi melihatnya sudah tidak tangan lagi menahan emosinya yang mulai meledak, Darendra berjalan dengan cepat menuju dua orang yang sedang berpelukan itu.
"Kurang ajar!" sentak Daren menarik baju Abian agar menjauh dari tubuh Aneuly. Keduanya pun terlepas dan dan kaget melihat kehadarin Daren yang entah dari mana datangnya.
Bugh...
Daren memukul perut Abian begitu saja karena tidak dapat menahan emosi yang sedang meledak-ledak, Abian tersungkur dan terjatuh mencium pasir di taman itu.
.
to be continued...
__ADS_1