
Rasa tidak nyaman itu ada saat sang bos bertingkah aneh, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak mau menyerah hanya karena cobaan begitu saja, lagi pula bosnya hanya bersikap sinis, tidak ada perlakuan kasar yang harus membuat ia mundur. Bukannya bentakan itu sudah biasa karyawan dapatkan? Karena kenyataannya seorang bos itu selalu benar.
Pagi ini Fira sudah menebar senyum di setiap orang-orang yang berpapasan dengan dirinya, untuk pagi ini ia akan memulai hari dengan senyum bukan dengan wajah kecut lagi.
"Dihh,, Anak gadis lagi bahagia ini ya?" goda Meli.
"Tahu aja mbak." Fira terkekeh kecil.
Mereka tak sadar ada dua telinga yang sedang mendengarkan obrolan mereka, bahkan ia mengerutkan kening tak paham.
'gadis? bukannya dia sudah menikah?'
Kaivan memilih mengabaikan, mungkin nanti dia juga akan tahu. Meskipun dalam hati ia sangat penasaran, entah mengapa ia begitu ingin tahu semua tentang gadis itu?
"Kalo boleh tahu, bahagia kenapa nih?" Tanya meli kepoh
"Ihh mbak kepo, maaf ya mbak tapi rahasia," Meli hanya memutar bola matanya jengah, gadis ini selalu saja bisa bikin orang penasaran sekaligus kesal.
Setelah mengobrol dengan pembahasan tidak berfaedah, Fira mulai melangkah masuk ke ruangan sang bos. Tapi bertapa terkejut dirinya melihat Kaivan sudah berada dibalik pintu. Entah kenapa bosnya berada disana.
"Ehh, pak Kaivan? Tumben pagi-pagi udah datang pak," tuanya sedikit canggung. "Saya masuk ya, pak?"
"Anda sudah didalam, nona. mau masuk kemana lagi?" Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Fira semakin Canggung, ia hanya menyengir malu.
__ADS_1
'Bodoh lu Fira, bikin malu aja pagi-pagi!'
"Baiklah saya akan mulai bekerja. Permisi, pak." Gadis itu mulai melangkah dengan diiringi tatapan tajam Kaivan, membuat ia merasa tak nyaman.
Ada rasa paling memalukan, inilah yang dirasakan gadis itu. Niat hati untuk memulai hari dengan baik, sekarang sudah hancur karena mood nya kembali buruk dicampur rasa malu yang masih menghiasi otak kecilnya.
*****
Jam pulang kantor sudah datang lima menit lalu, Fira dengan semangat menyusun barangnya untuk segera pulang.
Jika ditanya kemana sang bosnya, pria itu sudah menghilang dari jam istirahat tadi. Fira tidak tahu ada urusan apa, karena sang bos hanya bilang ada urusan penting sebelum pergi. Ia tidak ambil pusing masalah pribadi bosnya, yang ingin ia lakukan sekarang keluar dari bangunan megah ini dan pergi mengurus sesuatu yang sangat penting baginya dengan kak Abi.
"Assalamualaikum kak, udah lama tunggu ya?" Sambil mengambil tangan kakaknya untuk disalami dibalas dengan usapan lembut di kepala adiknya.
Perjalanan yang cukup menyenangkan di tengah malam yang dihiasi lampu-lampu jalan, membuat suasana begitu sejuk dan indah. Fira yang dibonceng tentu saja bisa menikmatinya sepuas hati, sedangkan sang kakak lebih memilih fokus membawa motornya.
"Aku harap kali ini adalah kabar bahagia,"
"Apa yang kamu harapkan, dek?" Tanya Abi lembut.
"Melihat kakak menikah, lalu hidup bahagia dengan keluarga kecilmu nanti." Fira membayangkan sambil tersenyum saat angin malam menerpa wajahnya. “Itulah harapan ku untuk sekarang,” ucapny lagi.
"Kenapa kamu ingin sekali kakak menikah dek? Kau tahu, kakak sudah berjanji untuk menjagamu sampai seseorang yang aku percayai mengambil mu dan bisa membahagiakan mu lebih baik dari kakak."
__ADS_1
Fira mendengus kesal. "Lupakan janji itu kak! Sekarang aku memaksamu untuk menikah, dan kau harus setuju dengan pilihanku kali ini." Ujarnya sedikit memaksa. “Kamu sudah cukup tua, butuh waktu berapa lama lagi menunggu? Lagi pula setelah menikah kau juga tidak akan meninggalkan ku, yang ada aku akan mendapatkan saudara ipar untuk menjadi temanku.”
Abi hanya terkekeh kecil. sebenarnya ini bukan pertama kali adiknya ini menjodoh-jodohkan dirinya dengan teman-temannya, bahkan Fira juga pernah nekat mencari jodoh untuk kakaknya. Tapi tetap Abi belum bisa membiarkan adiknya, jika nanti ia sudah menikah pasti fokusnya bukan lagi pada Fira, tapi pada istri dan anak-anaknya kelak.
"Apa kamu tidak takut tinggal sendirian?"
"Apanya yang takut? Fira udah besar kak, lagi pula umur kakak sudah sangat tua," ejeknya yang kali ini langsung mendapat protes dari Abi. "Lagi pula setelah menikah kakak akan tinggal dirumah kita bersama istrimu, aku juga akan menjadi Tante yang baik untuk keponakan ku,”
"Sudah. berhentilah mengoceh adik kecil, kau tidak lihat kakakmu ini sedang membawa Motor? kamu tidak ingin pulang malam ini ke rumah sakit bukan?"
Fira memukul pelan punggung kakaknya, ia selalu kesal jika sudah membahas jodoh. Dirinya benar-benar terlihat seperti ibu-ibu yang takut anaknya menjadi perjaka tua.
Asalkan kalian tahu, kali ini dirinya tak tanggung-tanggung untuk mencari jodoh kakaknya, melihat sifat Abi yang dingin dan tak ingin dekat dengan gadis diluar sana membuat Fira sangat takut. Kemarin Fira bertemu dengan sahabat ayahnya, dia seorang pria yang ramah dan pemilik sebuah pesantren. Kebetulan saat itu dirinya bertamu dirumah bapak itu hanya untuk menanyakan kabarnya, tapi siapa sangka sang bapak malah ingin menjodohkan putrinya dengan kakaknya.
Demi kebaikan bersama, Fira rela sepulang bekerja langsung mengajak kakaknya untuk bertemu dengan sahabat ayahnya. Dan semua ini sudah direncanakan dengan matang oleh Fira sendiri.
Aku tidak ingin berharap lebih, tapi aku meminta padamu ya Allah berikanlah jodoh yang terbaik untuk kakakku.” Gumam gadis itu dalam hati.
Ia kembali menikmati suasana malam yang sangat indah ini dengan harapan yang memucah. Karen Fira tahu semua yang akan terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan Allah, dan dirinya hanya bisa berencana tanpa tahu penentuan akhirnya.
*******
Salam rindu 😘😘
__ADS_1