
Kaivan baru saja pulang dari kantor, wajah lelah benar-benar terpampang jelas. Dikantor tak ada Fira seperti biasa, membuat ia tak bersemangat sedikit pun, karena pikirannya selalu memikirkan sang istri tercinta.
Seharian ini ia tak hanya disibukkan dengan pekerjaan, tapi pikirannya yang selalu ke pikiran sang istri. Ingin rasanya ia pulang lebih cepat, tak ia juga tak mungkin membuat pekerjaan nya semakin menumpuk. Tapi tak apa, karena besok ia akan mengizinkan wanita itu kembali bekerja, jadi mereka akan selalu bersama.
“Bu, Fira mana?” tanya Kaivan pada Bu Salma.
Bu Salma yang sedang meletakkan teh, langsung menoleh saat ditanya.
“Pergi tadi, nak Kaivan.”
Kaivan mengernyit heran “kemana dia Bu? “
“Gak tau nak, tapi tadi buru-buru perginya.”
Kaivan mulai merasa cemas. Seharian ini ia tidak menelepon wanita itu Apa mungkin dia marah? Tapi marah kenapa? Hanya karena tak ditelepon wanita itu sampai kabur dari rumah.
“Dari jam berapa, Bu?”
__ADS_1
“Sekitar jam dua belas siang. Dia sudah pergi.”
Kaivan mencoba menghubungi nomor Fira, tapi hanya terdengar suara wanita yang mengatakan nomor tak terjawab. Kaivan merasa frustrasi, kemana ia harus mencari istrinya?
Kaivan Langsung menyambar kunci mobilnya, saat ia ingin keluar mencari istrinya, Fira masuk dengan wajah yang tak bersemangat.
Kaivan Langsung bernafas lega melihat istrinya pulang dalam keadaan baik-baik saja, ia langsung merengkuh tubuh kecil itu dalam dekapannya.
“Astaga, kamu kemana saja?”
Fira membiarkan saja tubuhnya dipeluk, ia juga menikmati kecupan yang diberikan Kaivan dipuncak kepalanya. Sebenarnya ia terkejut, karena sedari masuk tadi ia asyik melamun.
Kaivan tak menjawab ia terus mengeratkan pelukannya, sekarang ia bisa bernafas lega, padahal tadi ia sudah berpikir kemana-mana. Memikirkan istrinya kabur membuat ia terkekeh geli sekarang, bagaimana pikiran gila itu muncul?
“Kenapa kamu gak hubungi mas seharian ini?” Kaivan melepaskan pelukan mereka, menatap wajah istrinya dengan serius, “kamu dari mana? Kok seharian keluar? Gak minta izin lagi.” Masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tapi melihat wajah sendu istrinya membuat ia mengurungkan niatnya.
“Maaf ... Aku gak kemana-mana, Cuma pergi ketemu kak Abi.”
__ADS_1
Fira menatap sang suami balik, ia merasa sudah terjadi sesuatu selama ia pergi. Jika mengingat pembicaraannya dengan Abi tadi membuat ia menjadi berpikir, apakah pernikahan mereka akan bertahan lama? Atau mungkin malah berakhir begitu saja?
Rasa cemas mulai menyeruak dalam hatinya, memikirkan ia akan berpisah dengan Kaivan entah kenapa membuat ia setakut ini.
“Ada apa? Kenapa wajah mu tegang begitu?”
Fira gelagapan mendengar pertanyaan suaminya, dengan cepat ia mengubah ekspresi wajah. Ia tak ingin Kaivan tahu apa yang sedang ia pikirkan, bagaimana pun ia belum seterbuka itu pada sang suami.
“Aku tidak apa-apa ... Maaf tadi aku pergi tidak bilang-bilang. Aku hanya rindu dengan kakak, karena kesenangan aku jadi lupa menghubungi mu,”
Kaivan mengangguk mengerti, ia tak bertanya lagi. Melihat wajah istri sudah kembali baik, meskipun terbesit sedikit rasa curiga, tapi tak masalah, ia tahu istrinya tak mau berbagi masalah dengannya.
“Ayo ke kamar, aku sudah rindu memelukmu.” Tanpa menunggu lama Kaivan langsung mengendong tubuh Fira tanpa minta izin dulu.
Fira yang tiba-tiba digendong, ia berteriak minta diturunkan. Tapi Kaivan tak peduli, meskipun mendapatkan pukulan ringan dari istrinya, Kaivan malah tertawa bahagia.
“Mas! Turuni Fira ... Nanti jatuh!” Pekikan wanita tetap tak Kaivan gubris.
__ADS_1
Kaivan tertawa keras, mengendong Fira itu cukup mudah baginya. Tubuh istrinya itu kecil dan kurus, jadi tak terasa berat baginya. Merasa lelah berteriak, Fira memilih diam saja, toh kalau jatuh dari tangga gak dirinya seorang tapi juga Kaivan.
******