
Semalaman menjaga kakak yang sedang sakit membuat Fira harus bergadang, meskipun begitu sedikit pun tidak ada keluhan dari dirinya, ia sangat ikhlas dan senang hati melakukan itu.
"Kak, Fira berangkat kerja dulu ya?" Pamitnya. "Sudah Adek siap bubur sama obat yang kakak makan nanti, jangan lupa!" Gadis itu terus saja mengoceh untuk mengingatkan sang kakak.
"Iya dek... Sana pergi." Usir Abi kesal.
Setelah mengentakkan kakinya dengan kesal Fira pergi meninggalkan kamar Ab, kakaknya ini bukanya bersyukur dapat adik perhatian, tapi malah mengusir dirinya! lagi pula waktunya tinggal sedikit lagi, jika lebih lama berdebat dengan kakaknya bisa terlambat nanti.
Sedangkan Abi hanya terkekeh kecil. Setelah adiknya itu meninggalkan rumah mereka, barulah ia mencoba bangun dan memakan makanan yang disiapkan Fira.
Aku bersyukur banget masih punya keluarga kayak Lo dek, jika saja dia gak ada mungkin sekarang aku tidak punya tujuan hidup.
Dengan semangat Abi menyuapi makanan itu, meskipun adiknya sangat manja tapi soal masak tidak perlu ditakutkan lagi, lagian manja cuma sama dia kalo sama orang lain gak akan ia boleh in, kecuali belahan jiwa adiknya nanti.
*****
Fira sampai dikantor dengan selamat, ia tersenyum lebar saat dirimu tidak terlambat hari kedua ini. Saat menjadi karyawan baru seseorang harus berperilaku baik, jika tidak ingin langsung dipecat.
"Pagi Bu Sofi," Sapa Fira.
"Pagi ... Eh, eh kamu! kesini sebentar," panggil sang bosannya itu. Fira yang sudah terlanjur melewati Bu Sofi memilih untuk kembali berbalik..
"Ada apa Bu?"
__ADS_1
"Saya cuma mau menyampaikan pesan dari sekretaris pak Kaivan, kamu disuruh ke ruangan sang bos."
Fira merasa heran dengan ini, kenapa ia di panggil ke ruangan sang CEO? Ia rasa tidak ada membuat kesalahan saat masuk ke ruangan pak Kaivan kemarin.
"Loh... kok gitu Bu? ini gak akal-akalan ibu Sofi lagi kan? ingin mengerjai saya?" pertanyaan Fira hanya dijawab dengan dengus kesal Sofi.
"Terserah!"
Fira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang dirinya sedang dilanda kebingungan, jika pergi ia takut ini hanya tipuan Bu Sofi, tapi jika benar-benar dipanggil bagaimana?
"Aduh, bikin pusing aja pagi-pagi!" Gerutunya kesal.
Mau tak mau dirinya harus pergi ke ruang bosnya, tapi untuk sekarang lebih baik dia kembali keruangannya bekerja dulu, hari masih terlalu pagi mungkin sang bos belum datang.
Waktu berlalu dan sekarang Fira tidak bisa menghindar lagi, dengan langkah ragu ia menuju ruang sang atasan. Biarlah apapun yang terjadi, ia akan mencoba menerima jika dirimu dipecat nanti, dirinya bisa mencari pekerjaan baru, meskipun rasanya sangat dulu untuk didapatkan.
"Selamat siang pak," sapa Fira sopan.
"Mm, silakan duduk." Fira memilih menurut, padahal lidahnya sudah gatal ingin bertanya.
Astaga bos ... Tidak bisakah lebih cepat? dia tidak tahu saja, aku sudah mau pipis di celana ini!!
Berteriak dalam hati menyampaikannya pun tak berani, berhadapan seperti ini saja dirinya sudah gugup apalagi berbicara hal yang tidak penting itu.
__ADS_1
"Jadi? Anda sudah tahu, kenapa saya panggil Anda?" Suara berat pria didepannya ini membuat lamunan Fira terganggu.
"Tidak pak," jawabnya gugup.
"Baiklah ... Berhubung sekretaris saya sedang tidak ada, jadi saya sendiri yang menyampaikan pada Anda." Kaivan menatap tajam Fira yang menunduk. "Mulai hari ini Anda menjadi Asisten saya!"
"Apa?" Saking kagetnya, dirinya hampir saja memukul meja. Kaivan juga tidak kalah kagetnya dengan respons yang diberikan gadis itu, membuat ia melotot tajam. "Maksud saya, kenapa?" Tanya Fira kembali memelankan suaranya.
Jika diawal memang rencananya untuk menjadi asisten pak Kaivan, tapi sekarang beda lagi. Setelah mendengar gosip kantor dan melihat sendiri bagaimana tatapan sang bos, nyalinya sedikit menciut. Mungkin sifat centilnya didepan cowok ganteng akan menghilang bila didepan Kaivan, entah mengapa tubuhnya hanya bisa diam kaku hanya karena tatapannya.
"Apanya yang kenapa?"
"Maksud saya, kenapa tiba-tiba pak? Bukannya kemarin bapak menolak ya,” Untung diri tidak gugup saat berbicara, sehingga ia tidak malu-maluin didepan bos tampannya ini.
"Karena saya butuh seseorang menyiapkan keperluan saya dan membatu saya jika dalam waktu terdesak." Fira mengangguk-angguk mengerti.
"Baiklah pak, saya terima." Putus Fira, meskipun hatinya tak rela.
"Sebenarnya saya tidak membutuhkan keputusan kamu, karena dari awal Anda memang sudah seharusnya begitu. Jadi jangan terlihat sangat terbebani seperti itu!" Fira yang mendengar ucapan santai tapi menusuk hatinya itu, mendelik tak suka. Apa harus Kaivan berbicara seperti itu?
"Salah pak Kaivan sendiri, kenapa menolak kemarin." perkataan Fira yang tidak kalah tajam membuat Kaivan melotot tak suka.
"Berani sekali kau! Jika bukan karena rasa penasaran ku, sudah aku pecat kau!"
__ADS_1
****
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 😘😘😘😘