Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
tiada hari tanpa penyesalan


__ADS_3

Fira berjalan tak bersemangat, ia mendorong sedikit lebih kuat pintu rumahnya agar terbuka. Biasanya kakaknya sudah pulang jam segini, karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Hari ini benar-benar capek baginya, karena udah Pertamina kali ia bekerja membuat ia belum terbiasa. Tapi tidak apa-apa, meskipun tubuh lelah tapi hati bahagia, ini semakin karena kehendak karena itu ia tidak ingin mengeluh.


Dirinya seharusnya sudah pulang dari kantor jam empat sore, tapi ia memilih nongkrong di warung kopi dengan Alya tadi sebelum pulang.


"Kak! Fira pulang!” teriak Fira masih dengan lesu.


‘Kok kak belum pulang ya? biasanya cepat.’ Gumam Fira bingung


Tadi pagi kakaknya tidak membawa motor, jadi ia tidak bisa menandakan sudah pulang apa belum. Ia mencoba mencari Abi ke kamar kakaknya itu, dan sangat terkejut melihat kak Abi yang sedang menggigil kedinginan .


"Ya Allah! Kakak sakit?" Fira berteriak heboh saat merasakan tubuh Abi sangat panas. Gadis itu hampir saja menangis jika tidak dibujuk kakaknya untuk tidak kawatir. Tapi namanya melihat kakaknya sakit tetap saja Fira tidak bisa diam.


"Kok bisa sampai sakit kak? Pasti telat makan lagi kan?"


"Apa sangkutannya makan sama demam, dek?" Fira mencebik bibirnya, saat sakit seperti ini pun kakaknya masih saja protes. Toh jawab saja ia kenapa, biar hatinya senang karena bisa mengomeli kakaknya.


"Ya lah ... Kalo kakak telat makan jadi kekurangan gizi dalam tubuh kakak, makanya bisa sakit karena kekurangan stamina!" Sungut Fira tak terima.


"Terserah mu lah, dek." Jawab Abi lesu, sudah tak Sanggup lagi berdebat.

__ADS_1


Fira mulai mengambil obat untuk menurunkan panas tubuh kakaknya, tak lupa ia juga membuat bubur untuk makan malam kakaknya. Bahkan ia tidak sempat berganti pakaian, ia juga seakan lupa jika tadi merasa lelah dan kecapean.


Seperti inilah mereka, saling melengkapi agar tak merasa kekurangan kasih sayang keluarga. Meskipun hidup tanpa kedua orang tuanya, tanpa sanak saudara, mereka tetap bahagia dengan saling berbagi kasih sayang. Meskipun Fira itu manja kelihatannya, tapi sebenarnya ia adalah perempuan yang kuat. Dirinya hanya akan maka bila bersama sang kakak, agar pria itu merasa dibutuhkan dalam hidupnya, Ehh maksudnya sangat dibutuhkan.


"Makan dulu ya kak?"


"Gak mau, pahit dek."


Bukan Fira namanya mau mengalah, dengan sedikit kuat ia menyentak tangan kakaknya supaya terduduk dari tidurnya. "Gak ada alasan, kalo mau sembuh ya makan, minum obat!" pelan-pelan Abi tetap menelan makanannya yang terasa begitu pahit di tenggorokan, jika membantah lagi mungkin nanti adiknya akan berubah menjadi emak-emak menyerupai nenek lampir, jika itu terjadi tamatlah riwayatnya.


“Nah begini kan enak, bisa cepat sembuh.” Ucap Fira seolah-olah sedang menasihati seorang anak kecil.


Abi hanya bisa mencebik kesal. Padahal biasanya dia yang sering bilang begitu kalau Fira sakit, tapi sekarang adiknya malah meledeknya. Tapi meskipun begini ia tetap tidak membantah, lebih baik ia menikmati layanan adik Solehah nya.


Di sebuah kamar seorang pria sedang berdiam diri dalam cahaya remang yang membuat suasana dikamar itu begitu sunyi. Rasanya sangat menyedihkan saat ada rasa yang tak nyaman didalam dirinya. Karena kesalahannya dimasa lalu sekarang ia harus menebus dosa dengan rasa penyesalan yang tak berujung.


Sore ini ia baru saja mendapatkan kabar yang sangat mengguncang dunia Kaivan, kabar dari mantan istrinya yang ia sakiti sekarang dikabarkan depresi parah sehingga diharuskan untuk ditawarkan. Rasa bersalah itu semakin membesar, sehingga sesak di dadanya semakin melebar.


Suara ponsel membuat lamunan Kaivan terganggu, dengan rasa tidak ada semangat ia mencoba mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa si penelepon.


"Halo," Ucap Kaivan menyapa orang sabrang.

__ADS_1


"Assalamualaikum nak,"


Kaivan memejamkan matanya, kenapa ibunya harus menelepon di waktu yang tidak tepat. "Ada apa Bu?"


"Jawab dulu salam ibu nak," Kaivan hanya menjawabnya dengan mendengus kesal, cukup ia hanya menjawab dalam hati.


"Ibu tahu kamu masih marah nak, ibu minta maaf." Terdengar suara bergetar disana.


"Sudahlah Bu, tidak usah membahas itu lagi!" Ucapan sedikit ketus, pertanda ia tidak menyukai pembahasan itu.


"Apa kamu tidak mau lagi bertemu dengan ibu lagi? Pulanglah nak, ibu sangat merindukan mu." Isak tangisnya mulai terdengar, berharap agar hati anaknya itu luluh. Tapi ia sudah lupa ia sendirilah yang sudah membeku hati anaknya, bagaimana bisa ia sekarang luluh begitu mudah hanya dengan air mata penyesalan.


"Akan ku pikirkan, Setelah aku ada Waktu." Setelah mengucapkan itu Kaivan langsung mematikan sambungan telepon mereka, tanpa salam seperti biasa.


Aku tidak membenci ibu, karena sesungguhnya bukan dirimu yang bersalah tapi kebodohan ku yang membuat hubungan ini hancur. Aku masih malu, pada ayah dan ibu yang dengan egois juga membuat kehidupan kalian menderita. Tapi aku juga tidak membenarkan perlakuan mu ibu, yang ikut dalam rumah tangga ku, membuat aku merasakan kesal dan sesal yang tak berujung.


Disini lah kesalahan dirinya yang tidak bisa berkomitmen dalam hidup. Memilih menuruti hawa ***** yang pada akhirnya malah membuatnya hidup hancur. Jika dulu ia lebih pintar, lebih memilih logika dari pada hati mungkin ini semua tidak terjadi.


Penyesalan memang datang terakhir, dan Kaivan sudah merasakan sendiri hasil dari perbuatannya.


******

__ADS_1


Jangan lupa Tinggalkan jejak cantik kalian 😁🖤


Salam cinta Ara putri 😘❤️💖


__ADS_2