
Waktu sudah berlalu dengan cepat, dan sekarang Fira sudah bisa bernafas lega melihat kakaknya baik-baik saja setelah hampir satu Minggu mengurung diri di dalam kamar.
Siapa yang menyangka, pria yang berlagak begitu cuek selama ini ternyata juga menyimpan perasaan yang dalam pada sang mantan. Fira bahkan sampai syok melihat Tingkah kakaknya yang mogok makan karena patah hati, memang ya masalah cinta sulit untuk dipahami.
“Melamun lagi?” Kaivan menatap jengah istrinya.
Fira sedikit terkejut melihat suaminya yang sudah pulang dari kantor. Entah mengapa akhir-akhir ini ia menjadi takut untuk menatap wajah suaminya, karena itu Fira sering kali menghindar.
Hari ini dirinya kembali tidak bekerja, karena Kaivan melarang istrinya itu bekerja saat melihat Fira yang masih sering melamun.
“Malah gak dijawab ... Suami pulang itu kamu sambut dengan senyum dong, dek. Ini malah dicuekin.”
Fira menunduk, membuat Kaivan semakin gemas. Entah mengapa istrinya ini begitu pendiam sekarang, Kaivan belum tahu apa yang terjadi, tapi ia yakin ada sesuatu yang mengganggu istrinya belakangan ini.
“Kamu udah makan, dek?”
“Udah ... Mas Kai mau makan?”
__ADS_1
Kaivan menggeleng, ia sudah makan diluar saat ada pertemuan tadi, jadi ia menolak tawaran sang istri.
Fira tampak kecewa, padahal ia tadi sudah berusaha memasak untuk suaminya tanpa bantuan sang asisten rumah tangga. Tapi ia juga tak ingin Kaivan tahu, dia takut terlalu berharap malah membuat Kaivan jijik padanya.
“Ya sudah, mas mau mandi dulu?” pamit Kaivan meninggalkan Fira yang kembali melamun.
Sikap Kaivan yang tidak peka, ditambah rumor pria itu yang sangat buruk dengan mantan istrinya, membuat Fira menjadi sedikit takut. Takut jikalau dirinya bertingkah keterlaluan akan membuat ia diperlakukan sama seperti mantan istri Kaivan terdahulu.
Fira menghampiri meja makan dengan lesu, terpaksa ia makan sendirian lagi. Ia menatap tangga yang dinaiki Kaivan tadi, sepertinya pria itu tak ada niat untuk turun. Makan dalam diam ditemani dengan air mata yang ingin keluar dengan deras, entah mengapa dirinya terlihat begitu menyedihkan sebagai seorang istri.
Kesepakatan berakhir saat saat pengorbanannya sia-sia. Kecewa dengan keputusan yang diambilnya karena terburu-buru, tapi di satu sisi dirinya juga bersyukur bisa menikah dengan Kaivan. Tapi disini ia takut hubungan ini tidak bertahan lama.
Fira tak terlalu mengenal kehidupan suaminya, apa mungkin Kaivan mencintai seseorang diluar sana.
****
Kaivan merasa perubahan Fira semakin besar, gadis yang dulu begitu ceria dan suka membantahnya entah hilang kemana sekarang.
__ADS_1
Setiap duduk melamun, bahkan saat jam kerja sering kali wanitanya ini melaju kesalahan.
“Dek, kamu kenapa?”
Fira yang sedang menyusun hasil rapat, mendongak melihat wajah suaminya.
“Aku ... Gak apa-apa kok mas,” jawab Fira singkat.
Kaivan menggenggam tangan Fira, membimbing wanitanya itu untuk duduk disebelah-Nya.
“Kamu tidak mungkin tidak apa-apa, dek. Hampir seminggu ini kamu selalu melamun, apa yang kamu pikirkan?”
Fira tersenyum kecut, bagaimana mungkin dirinya bisa mengatakan pada Kaivan, jika yang dia cemaskan sekarang adalah suaminya sendiri.
“Maaf, mas. Fira cuman mikirin kak Abi ... Tak perlu kawatir kan aku, semuanya akan baik-baik saja.” Fira menjauh dari Kaivan, kembali ia mengumpulkan berkas-berkas rapat.
Kaivan yang tak ingin memaksa istrinya untuk bercinta, memilih membiarkannya saja.
__ADS_1