Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
tidak perhatian


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan waktu untuk pulang, Fira mulai menyusun laporan yang ada ditangannya saat membantu pak Kaivan tadi. Sekarang ia akan pulang lebih cepat, agar bisa beristirahat lebih lama.


Tadi siang ia bahkan sangat mengantuk. Sedangkan sang bos sekaligus calon suaminya itu tidak ada perhatian sedikit pun. Setelah meninggalkan pekerjaan yang begitu banyak, pria pemarah itu pergi meeting bersama sang sekretarisnya, meninggalkan dirinya seharian.


“Kamu mau kemana?”


Fira sedikit terkejut mendengar suara Kaivan yang baru masuk, ternyata pria itu baru kembali setelah seharian pergi.


“Pulang, pak.” Gadis itu terus saja menyusun barang-barangnya, tak ingin melihat pria itu.


“Kamu pulang? Aku belum mengizinkan nya!”


Fira menarik nafas panjang, “aku rasa hari ini tidak ada jadwal lembur ... Tidak ada alasan ku disini lagi,” ucap Fira sedikit ketus.


Ternyata pria itu benar-benar tidak peka, padahal dirinya terlihat sangat lelah. Seharusnya ia membantu dirinya untuk diantar kan pulang, bukan malah ditambahkan pekerjaan.


“Aku bos disini! Jangan mengatur ku!”


Gadis itu menarik nafas lelah, sekarang ia mulai bosan dengan situasi ini. Ia lebih rela dipecat dari pekerjaannya ini, dan pria kejam ini membatalkan pernikahan aneh mereka. Karena dirinya benar-benar tidak mau menikah dengan Kaivan yang begitu kejam, cerita yang dikatakan Mbak Meli masih terngiang di telinganya, dan itu bagaikan mimpi buruk sekarang.


“Pak, jam kerja sudah habis dari lima belas menit. Aku tidak dibayarkan untuk lembur sekarang, apalagi hanya berdebat dengan mu, pak.” Gadis itu mulai berani menjawab.


“Untuk apa aku bayar? Toh, semua uang aku juga akan menjadi milikmu nanti.” Fira berdecak kesal mendengar kata itu. Sekarang kepalanya semakin berdenyut sakit, mungkin karena kekurangan tidur membuat kepalanya terasa pening seharian ini.


“Aku tidak mau! Lebih baik batalkan saja pernikahan aneh ini!”


“Kamu! Berani sekali ...,” ucapan Kaivan terpotong saat melihat perubahan dari wajah Fira yang kian memucat. Tak butuh waktu lama gadis itu mulai terhuyung akan jatuh, tapi dengan sigap Kaivan menariknya.

__ADS_1


“Kamu kenapa?” Rasa kawatir tak bisa lagi Kaivan sembunyikan, dengan lembut ia membawa gadisnya masuk kedalam pelukan.


“Kepalaku sakit,” rengek Fira tanpa sadar.


Kaivan membopong tubuh Fira kembali ke sofa, membiarkan gadis itu beristirahat sejenak. Baru menjadi calon istrinya sehari, Kaivan sudah begitu perhatian padanya, tak tahu nanti. Sepertinya Fira benar-benar bisa mencuri perhatian duda Tampan itu dengan baik.


“Apa perlu ke rumah sakit?”


“Tidak ... Aku hanya perlu pulang. Kak Abi bisa merawat ku,”


Kaivan kembali berdecak kesal mendengar ucapan gadis itu, entah kenapa ia tidak senang mendengar Fira yang begitu bergantung pada kakaknya. Ingin rasanya Kaivan melarang gadis itu pulang dan tinggal bersamanya, ia juga bisa merawat gadis ini dengan baik.


“Kamu pulang saja bersama ku? Rumahku lebih dekat dari kantor,” ucap Kaivan, mencoba menawarkan gadis itu tapi malah langsung dijawab gelengan.


“Gak mau! Kamu bukan siapa-siapa ku, aku belum boleh pergi ke rumah mu!”


“Pak,”


“Mmm?”


“Aku gak mau nikah sama kamu, pak.”


Bukannya marah, Kaivan hanya tersenyum kecut mendengar perkataan gadis itu. Kaivan merenggangkan pelukannya, membiarkan gadis itu menjauh darinya untuk sekarang.


“Kenapa? Apa aku pria yang tidak masuk kedalam tipemu?”


Gadis itu menggeleng cepat, “bukan begitu ... Hanya saja kamu tidak menyukai ku, aku juga tidak menyukai mu, bagaimana bisa kita menikah.”

__ADS_1


“Setelah menikah rasa suka itu akan datang dengan sendirinya, kamu tidak perlu kawatir.”


“Jika tidak berhasil?”


“Kita akan berpisah.”


Fira menatap nanar wajah Kaivan yang tanpa beban mengatakan pisah. Ya, bagi seorang laki-laki itu pisah adalah hal yang mudah, mereka bisa mencari pengganti dengan mudah. Tapi seorang wanita, berpisah itu sangat buruk, menjadi seorang janda di tengah masyarakat akan menjadi cemooh banyak orang.


“Pemikiran yang sempit sekali ... Tapi maaf pak Kaivan, aku tidak berniat untuk melakukan itu! Hidupku bukan untuk dipermainkan, menikah hanya ada satu kali dihidup ku!”


Merasa berdebat tidak ada gunanya lagi, Fira segera berdiri. Sekarang kepalanya sudah tidak sesakit tadi, berarti ia sudah bisa pergi dan meninggalkan Kaivan yang kali ini berhasil membuatnya jijik.


......


Setelah Fira pergi, Kaivan masih terdiam didalam ruangannya. Mendengar perkataan gadis tadi ia menjadi merasa kembali ke masa lalu. Ya, dulu dirinya terlalu berpikiran sempit membuat kehidupannya dua kali hancur hanya karena dendam, saat dirinya mengingat itu semua ia merasa menjadi pria paling tidak berguna.


Tapi kali ini ia tidak ingin gagal lagi, meskipun dirinya belum mencintai gadis itu tapi ia sudah menyayanginya. Kaivan tidak bisa bohong jika dirinya sudah terperangkap dalam pesona gadis manis itu, dan sekarang ia tidak akan mundur lagi untuk memperjuangkan miliknya.


“Dua kali aku gagal untuk memiliki, aku harap yang ketiga ini akan bertahan untuk selamanya! Jika dia tidak mencintai ku, cukup hanya aku yang menyayangi nya.” Gumam Kaivan.


Suara dering telepon membuyarkan lamunannya, Kaivan sedikit terkejut melihat nama mantan ayah mertuanya yang menelepon membuat ia sedikit bingung.


“Assalamualaikum, tuan Ardi.” Sapa Kaivan sopan. Sejak perceraian memang Kaivan memanggil mantan ayah mertuanya seperti itu, ia hanya tidak percaya diri jika masih memanggilnya dengan sebutan ayah.


“....”


“Baiklah, aku akan segera kesana.” Ia memutuskan sambungan telponnya. masih belum mengerti kenapa bisa Ardi memintanya bertemu?

__ADS_1


******


__ADS_2