
Fira tidak berbohong, dirinya memang memikirkan kakaknya sekarang. Tapi dari itu semua ia lebih kawatir dengan rumah tangganya.
******
Hari ini Fira bersiap untuk berangkat kerja, ia telah rapi dengan pakaian kerjanya. ia terlihat senang karena akan kembali bekerja seperti biasa.
“Loh, kamu mau kemana, dek?” Tanya Kaivan bingung.
“Kerjalah, mas. Hari ini Fira boleh kerja kan?” Fira berharap kali ini suaminya tak melarang dirinya lagi, ia sudahkah sangat ingin bekerja.
“Gak. Setelah mas pikir-pikir lagi, kamu harus berhenti bekerja saja, dek. Bukankah dari awal kita sudah sepakat dengan ide ini? Setelah menikah kamu berhenti bekerja!”
Fira syok mendengar perkataan suaminya, “tapi awal menikah kamu setuju aku lanjut kerja, mas. Tapi kenapa sekarang kamu larang?”
Fira benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa suaminya ini mengambil keputusan sendiri seperti ini? Apalagi ini tentang hidupnya.
__ADS_1
“Sudah lah, dek. Jangan membantah lagi, kamu tak perlu bekerja, cukup urus rumah dengan baik saja, itu lebih untuk kita.”
Fira menggeleng tak setuju, “kamu gak bisa mengambil keputusan begitu saja mas! Aku gak mau berhenti kerja!”
“Fira! Jangan membantah ku!”
Kaivan berteriak keras, ia tak sadar sudah membentak istrinya. Saat ia menyadarinya semuanya sudah terlambat, ia melihat mata istrinya yang sudah berkaca-kaca karena air mata.
“Mas ... Kamu membentak aku?” tanya Fira tak percaya. Hatinya sungguh merasa sangat sakit, selama ini ia tak pernah mendapatkan bentakan seperti ini, apalagi yang melakukannya suaminya sendiri. Entah kenapa serasa ada yang hancur dihatinya, membuat ia merasa begitu sedih.
Saat Kaivan ingin memegang tangannya, Fira langsung menghindar menjauh. Fira berlari masuk kedalam kamar mandi, ia takut tak bisa menahan air matanya dan Kaivan akan semakin memarahinya, lebih baik ia tak menatap wajah suaminya sekarang.
Kaivan melihat jam di pergelangan tangannya, waktu untuk ia menghadiri rapat semakin dekat dan sekarang ia harus pergi segera. Ia pandang lagi pintu kamar mandi, tak ada tanda-tanda istrinya akan keluar, tak punya waktu lagi ia langsung pergi tanpa menemui Fira dulu.
Ia tak sadar jika ini kesalahan kedua yang ia lakukan, yang akan membawa dirinya dalam badai kehancuran.
__ADS_1
****
Fira kembali menekan dadanya yang terasa sesak. Melihat suaminya yang sudah tak berada dirumah lagi, membuat ia merasa semakin kecewa, ia merasa tak dihargai oleh suaminya sendiri.
Tak bisakah Kaivan membujuknya dulu? Atau meminta maaf karena telah membentak dirinya? Sepertinya Kaivan benar-benar hanya menganggap dirinya sebatas istri kesepakatan.
“Fira? Kamu kenapa, nak?” tanya Bu Salma kawatir. Melihat kondisi Fira yang berantakan ditambah dengan mata yang membekak, membuat Bu Salma tahu jika nyonyanya ini baru habis menangis.
“Gak apa-apa kok, Bu. Aku ke kamar dulu,” ucap Fira, meninggalkan ruang tamu dengan langkah lebar.
Tak ingin sendiri terlihat lebih menyedihkan lagi, Fira memilih mengurungkan diri dalam kamar seharian. Bahkan makan siang ia lewatkan begitu saja, karena saat seperti ini ia tak merasa lapar sedikit pun.
“Istri kesepakatan ... Apakah hubungan ini akan berakhir sebentar lagi? Jika iya, tinggalkan kenangan indah untuk bisa dikenangkan, jangan hanya rasa benci yang mengawali perpisahan.”
Suara langkah kaki dari luar membuat Fira menyadari jika Kaivan telah kembali. Ia dengan lekas berbaring berpura-pura telah tidur, untuk saat ini ia tak ingin berbicara dengan suaminya dulu, dan sekarang ia hanya ingin menghindari pria pemarah ini.
__ADS_1