Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
tidak disangka


__ADS_3

Setelah pembicaraan yang membuahkan hasil yang memuaskan, membuat semua orang tersenyum bahagia. Tidak terkecuali dengan Fira tersenyum cerah memandang gadis berhijab didepannya ini, ia tahu calon kakak iparnya ini sedang malu, terbukti dengan wajah memerah dan tangan yang sedikit bergetar dipangkunya.


Beruntung Abi juga tidak menolak saat adiknya mengatakan maksud dan tujuan mereka datang ke sana. Mungkin karena ia juga merasa menyukai gadis cantik berhijab itu, sehingga ia juga ingin mencoba untuk berkomitmen, meskipun nanti akan pikiran dulu.


"Halo calon kak ipar," Goda Fira yang langsung membuat gadis didepannya semakin tertunduk malu. "Cieee, udah salting aja kak ipar."


Sungguh gadis itu ingin mengubur dirinya saat digoda Fira, tidak tahukah dari tadi jantungnya tidak mau berhenti berdetak dengan kencang.


Aku masih tidak percaya, orang yang selama ini selalu ku sebut dalam doa akan segera menjadi imanku. Ya Allah permudahkah lah semua jalannya ya Allah, aku percaya kau akan selalu memberikan yang terbaik.” Hati gadis itu menjerit bahagia saat Abi tak menolak.


Suara tawa disana membuat Fira tidak henti-hentinya menggoda Dewi. Bahkan ibu wanita juga ikut menggoda anaknya yang tersipu malu. Karena Waktu yang sudah larut malam, Abi dan Fira pamit untuk pulang. Meskipun sempat dilarang oleh keluarga Dewi, tapi mereka masih keras ingin kembali.


"Bagaimana Bang?" Tanya Fira.


"Apanya?" Abi yang membawa motor melirik dikit pada adiknya.


"Kak Dewi? Apa dia cantik? apa Abang suka?"


Mendengar ditanyakan seperti itu, Abi langsung bungkam. Ia ingat pembicaraan dirinya dengan ayah Dewi, hatinya menjadi gelisah untuk mengambil keputusan. Bukan dia tidak ingin menikah, tapi malah bisa sangat ingin, hanya saja kembali ke masalah awal ia tidak ingin meninggalkan sang adik sendirian.


Saat itu ayah Dewi bertanya. "Apa kamu yakin untuk menikahi anak bapak?" saat itu Abi sangat bingung, bukankah tadi dia sudah bilang bawa kedatangan dia untuk melamar Putrinya?

__ADS_1


"Kenapa bapak masih bertanya? Bukankah saya tadi sudah menyampaikannya dengan jelas, dan bapak juga sudah memberi kami restu." Tanya Abi bingung.


"Bukan begitu maksud bapak ... Bapak masih sangat ingat. Apa kamu lupa dengan janjimu dimakam ayahmu? Kamu sudah berjanjilah tidak akan meninggalkan dan akan menunggu adikmu menikahi duluan baru kamu akan menikah?" Tanya teman ayahnya itu, karena mereka juga menjadi saksi saat Abi bersumpah saat itu.


Abi tertegun. Itu benar, itu sumpahnya didepan kuburan ayah dan ibunya. Tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan adiknya, jika itu bisa membuat Fira bahagia ia akan melakukannya dengan senang hati.


"Saya tahu, seorang laki-laki akan menepati janjinya. Saya akan menikahi anak bapak setelah adik saya menikah! Untuk sekarang apa bisa kita hanya melakukan pertunangan saja dulu?" Tanya Abi sedikit ragu, ia tidak ingin melukai perasaan sahabat ayahnya itu.


Ayah Dewi terdiam cukup lama, bukan ia tidak mau memenuhi permintaan Abi, tapi ia tidak yakin. Hati manusia bisa berubah-ubah seiring dengan waktu, ia hanya takut nanti Abi menyukai gadis lain saat putrinya sudah jatuh dalam cinta yang dalam, ia tidak akan pernah rela melihat putrinya bersedih. Tapi dirinya juga tidak bisa memaksa Abi, kehidupan ini mereka yang akan menjalani bagaimana mungkin bisa dipastikan dengan kehendak orang lain.


"Saya tahu ... Bapak pasti ragu dan tidak yakin, saya memang tidak bisa berjanji tapi saya akan berusaha. Hati manusia hanya Allah ya tahu, karena itu saya sendiri tidak ingin mendahului kuasa Allah."


"Baiklah ... keputusan ada pada kalian berdua. Bapak berharap kalian berjodoh."


"Bang, kenapa melamun?"


Abi hanya menggeleng. "Maaf," motor mereka sudah sampai di depan rumah, mereka segera masuk kedalam dengan ekspresi berbeda. Fira sedang dilanda rasa cemas, karena ia tidak mengerti kenapa kakaknya meminta maaf.


Saat sampai didalam rumah, Fira langsung menarik tangan kakaknya. "Apa maksudnya kak? Apa ada yang tidak aku ketahui?"


"Besok saja ya dek, sekarang Abang mau istirahat." Abi melepas tangan Fira dengan lembut, tapi gadis itu dengan keras kepala tetap memaksa sang kakak untuk jujur.

__ADS_1


"Gak bisa kak, kenapa setelah berbicara dengan ayah kak Dewi, Abi berubah?"


Abi menarik nafas lelah, dengan lembut ia menuntun adiknya untuk duduk.


"Maafkan Abang mu ini dek, Abang gak bisa menuruti keinginan kamu." Fira melotot kaget.


"Apa maksudmu?"


"Abang mintak maaf, tapi Abang tidak bisa menikah sekarang." Fira menggeleng bingung, ia begitu syok dengan Ucapan Abi, padahal tadi dirinya sudah begitu bahagia menanti hari bahagia itu akan datang.


"Ta, tapi kenapa?" Fira menunduk sedih. "Apa lagi-lagi karena aku? Apa aku penghalang buat Abang bahagia?"


Deg


Abi sungguh terkejut mendengar perkataan Fira, kenapa adiknya itu sampai berpikir seperti ini?


“Ini bukan salah mu,”


“Apanya yang bukan? Kakak pikir aku tidak tahu, kamu sampai sekarang tidak mau menikah itu semua karena aku! Aku tahu sumpah mu pada kedua orang tua kita! Tapi aku tidak butuh itu sekarang lagi kak! Aku sudah dewasa. Kamu juga harus mencari pasangan hidup mu!” Tangisan Fira pecah, ia tidak ingin ini semua terjadi pada kakaknya, dirinya merasa sangat berdosa karena menjadi penghalang kebahagiaan Abi.


Abi yang membawa adiknya dalam pelukan, dirinya paling tidak suka melihat air mata ini. Tapi hari ini semuanya disebabkan oleh dirinya sendiri, Abi merasa sangat bersalah. Tapi ia juga tidak berniat untuk mengingkari janjinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2