Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
nasib bawahan


__ADS_3

Ada rasa lega pada dirinya setelah keluar dari ruangan sang atasan. Meskipun dirinya tidak mendapatkan bentakan atau amarah dari sang bos, tetap saja dirinya takut mendengar perkataan karyawan tadi. Bahkan tangannya saja sudah gemetar, untung ia bisa mengendalikan diri agar tidak terlihat memalukan.


Sial, sepertinya aku benar-benar dikerjai Bu Sofi.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Meli saat melihat Fira keluar dengan tubuh gemetaran.


Fira melihat sekretaris ini menyengir bersalah padanya, sekarang dugaannya semakin kuat, sebagai karyawan baru sudah biasa diperlakukan seperti ini. Tapi ia sangat beruntung, tidak dimarahi, sepertinya pak Kaivan tidak terlalu galak.


"Tidak apa-apa Mbak, Terima kasih untuk kawatir nya!" Tidak disembunyikan rasa kesalnya. sedang Meli hanya terkekeh kecil, mungkin ia merasa sedikit bersalah pada gadis manis itu.


Fira kembali ke ruangannya bekerja dengan santai, membuat kerutan di dahi Bu Sofi. Biasanya setiap karyawan baru yang dikerjai seperti itu akan kembali dengan wajah murung, tapi kenapa dengan Fira tidak?


"Selamat siang Bu Sofi," ucap Fira santai, sambil tersenyum lebar. Seolah-olah ingin mengatakan 'rencana Anda gagal'


Sofi hanya menganga melihat Fira berlalu, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ada rasa bingung, kesal dan malu disana. Tidak biasanya sang bos berbaik hati, karena biasanya akan ada drama yang menegangkan.


“Kenapa pak bos gak marah ya? Biasanya kalo aku keluar dari ruangan laknat itu, ada saja alasan bos tampan itu memarahi ku!”


*****


Dilain tempat seorang pria sedang melamun, entah mengapa ia tak bisa melupakan wajah gadis manis tadi, ada rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Lamunannya terganggu sampai seseorang mengetuk pintu ruangannya membuat ia sedikit kesal.


"Masuk!" teriak Kaivan.

__ADS_1


"Maaf pak, bapak memanggil saya?" ternyata sekretarisnya yang datang, terlihat wajah memelas disana. Ia tahu kali ini memang ia bersalah, bukan kali ini saja sih malah sering.


"Kenapa kamu menyuruh dia mengatakan laporan? Dan dimana wanita penipu itu?!" meli terlonjak kaget mendengar bentakan pak bos tampannya itu. wanita penipu yang ia maksud adalah Sofi, karena pak Kaivan tahu betul perangai karyawan ini.


"Anu ... pak," Sulit sekali untuk mengucapkan sebuah kejujuran, nyatanya memang ia yang salah mengerjai karyawan baru.


"Kamu mau saya pecat?!"


"Gak ... gak pak, Dia karyawan baru pak. itu...,"


‘Mampus deh aku ... nyesel bantu si Sofi, ujung-ujungnya aku juga yang kena marah!' gerutu Meli dalam hati. Memandang ide gila itu muncul dari Sofi, sedangkan dirinya hanya ikut-ikutan saja.


"Mengerjai karyawan baru lagi?" Kaivan menarik nafas berat. "Setelah ini masih ada kejadian seperti ini, saya akan pecat kamu secara tidak terhormat!"


"Iya pak," jawab Meli takut.


"Saya gak tahu pak, kan itu tugas HRD."


"Kalau begitu kamu cari tahu! Huh untung teman, kalo tidak sudah dari dulu saya pecat kamu!"


Meli mencebik bibirnya kesal. memangnya sejak kapan pria ini pernah memandangnya sebagai teman? Setiap hari juga hanya bisa marah-marah dan memerintah. Jika bukan karena kerjanya yang baik dan sangat memuaskan, ia yakin tidak akan bisa bertahan lama disini. Kaivan itu bukan tipe orang yang sabaran, jika pegawainya tidak tanggap ia dengan mudahnya memecat karyawan.


Untung gajinya besar, kalo tidak aku sudah angkat kaki dari tempat terkutuk ini!

__ADS_1


"Iya pak bos. Tapi.., Bukankah dia sebelumnya calon asisten Anda pak?"


Kaivan mengernyit sebentar, sebelum ia mengingatkan sesuatu. "Jadi dia calon asisten saya?"


"Iya pak, kemarin. Sekarang tidak," ucap Meli menegaskan.


"Rekrutmen kembali! Saya mau dia jadi asisten pribadi saya!"


"Ehh?" Meli mengangga tak mengerti, bukan tidak mengerti tapi lebih ke terkejut mendengar keputusan bosnya itu.


"Loh, bukankah kemarin bapak menolak seorang asisten?"


Sungguh Meli tidak mengerti dengan jalan pikiran bosnya ini, bagaimana bisa tiba-tiba meminta itu? Sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja Meli sedikit kaget, apa ia bosnya menyukai gadis kecil itu?


"Lakukan saja! jangan banyak tanya!"


Nasib jadi bawahan selalu kena bentak. Tak ingin menjawab lagi, lebih baik ia melakukannya, toh menolak juga tak ada untungnya.


"Iya pak...,"


Meli keluar dari ruangan bosnya itu. sebenarnya ada rasa bingung bercampur penasaran di otaknya, kenapa tiba-tiba sang bos tampan tapi kelewat galak itu meminta karyawan baru itu untuk jadi asistennya?


Tapi pertanyaannya itu hanya sampai di otaknya saja, ia tidak akan berani bertanya lebih banyak lagi.

__ADS_1


******


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😘😘


__ADS_2