Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
benar-benar tahu cara menikmati hidup


__ADS_3

Masih tak percaya apa yang baru saja mereka lakukan, wajah Fira kembali memerah memikirkan nya kembali tentang kejadian tadi malam. Ia terus memandangi wajah Kaivan yang terlelap disampangnya sambil memeluk tubuhnya erat.


Wajah yang tampan, hidung yang mancung, kulit yang sawo matang, membuat Kaivan terlihat seperti pria tampan khas pemuda Indonesia. Jika diingat lagi pria seperti inilah yang selalu menjadi idamannya dulu, dan sekarang Allah memberinya, sangat baik bukan.


Waktu subuh sudah masuk, ia ingin membersihkan tubuhnya. Tapi saat ia mencoba mengerjakan tubuhnya ia merasa remuk redam, apalagi bagian bawahnya yang terasa begitu ngilu.


“Kamu mau kemana?” Fira tersentak kaget saat mendengar suara Kaivan.


“Mas ... Kamu udah bangun?” Ia terlihat gugup, “aku mau ke kamar mandi, tapi gak bisa.” Jelasnya malu-malu.


“Masih sakit ya? Maaf.” Kaivan berdiri lebih dulu, setelah itu ia mengangkat tubuh polos istrinya.


“Mas, malu!” Rengek Fira berusaha menutupi tubuhnya.


Kaivan tertawa melihat istrinya yang masih malu-malu, padahal tadi malam mereka berdua sudah melewati malam yang menggairahkan.


“Gak perlu ditutup, mas udah liat semuanya. Lagi pula mas gak dosa lihatnya, malah kamu dapat pahala karena sudah buat mas senang pagi-pagi.” Fira semakin merasa malu digoda Kaivan, ia berusaha menyembunyikan wajahnya di dada Kaivan.


........

__ADS_1


Salat subuh pertama, akhirnya mereka berdua melakukan kewajiban ini dengan Kaivan menjadi imamnya. Setelah mengucapkan salam Kaivan berbalik menatap istrinya yang tersenyum juga ikut menatapnya.


Fira dengan lekas mengambil tangan Kaivan untuk ia ciumkan yang dibalas dengan kecupan singkat di kening Fira.


“Masih sakit?” Fira menggeleng pelan. “Hari itu kamu istirahat aja dirumah, gak usah masuk kerja.” Fira merasa tak setuju, tapi jika dipikir-pikir dirinya juga tak mungkin ngantor dalam kondisi seperti sekarang.


“Mas Kai, bagaimana?”


“Mas harus tetap kekantor sebentar, ada beberapa berkas yang harus mas tanda tangan hari ini ... Kamu baik-baik dirumah ya, kalau ada sesuatu telepon, mas.” Lagi-lagi Fira mengangguk.


Kaivan mulai bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi sebelum itu ia kembali menggendong tubuh istrinya untuk kembali berbaring, sambil berkata 'gak usah dipaksa jalan dulu, nanti kamu merasa semakin sakit.’


Setelah Kaivan pergi Fira mulai dilanda kejenuhan, berdiam diri didalam kamar tanpa melakukan apapun membuat wanita itu tak betah. Pada akhirnya ia tetap memaksakan diri untuk keluar dari kamar.


“Rumah ini lumayan gede juga ya, cocok untuk orang yang punya anak banyak tinggal disini.”


Memikirkan anak ia kembali tersipu malu, bukankah tadi malam mereka berdua sudah melakukan proses pembuatan anak, ahh Kenapa otaknya jadi mesum begini?


“Loh, nak Fira kok keluar dari kamar? Kata tuan Kaivan gak boleh, kan lagi sakit?”

__ADS_1


Fira tersenyum mendengar ucapan Bu Salma, wanita paruh baya itu terlihat sedang mengerjakan membuat sesuatu.


“Gak apa-apa, Bu. Bosan lama-lama didalam kamar, mending Fira jalan-jalan sepertinya ini.”


Bu salam paham, karena itu ia tak lagi bertanya. Sedangkan Fira ia kembali mencari sesuatu yang bisa dirinya makan, dan akhirnya bertemulah buah-buahan yang begitu segar.


“Nak Fira lapar ya? Mau ibuk masak sesuatu?”


Fira menggeleng, “gak usah, Bu Salma. Fira Cuma mau makan buah kok,” Ucapnya sambil mengambil beberapa buah didalam kulkas.


“Mau ibuk bantu kupas apelnya?”


Lagi Fira menggeleng. Dia bukan putri presiden yang harus di manjakan seperti ini, lagi pula mana tega ia menyuruh orang tua.


“Gak usah Bu. Aku biasa makan apel sama kulit-kulitnya, rugi juga dibuang, apalagi kata orang di kulitnya lah banyak vitamin.”


Setelah itu Fira kembali kedalam kamarnya, tak enak juga di menjadi penonton saat asisten rumah tangga Kaivan bekerja, nanti wanita paruh baya itu merasa diawasi lagi.


“Enak ya, jadi orang kaya. Apa-apa ada yang ngerjain, mau makan aja dimasakin, tapi kenapa suamiku masih saja sering mengeluh? Padahal sudah diberikan kenikmatan begitu banyak oleh Allah.” Wanita itu terus saja berceloteh sambil menggigit buah apel ditangannya, tak lupa ia duduk santai di balkon kamar mereka. Benar-benar tahu cara menikmati hidup.

__ADS_1


*******


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian ya, beb. vote,like, end komen juga😘😘😘


__ADS_2