
Abi menatap jalan yang mulai tampak sepi, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi ia belum ada niat untuk kembali. Semenjak kepergian Fira tadi ia tak lagi bisa fokus untuk bekerja. Bukan karena ia kembali ingat dengan Dewi, tapi ia mulai memikirkan kehidupan sang adiknya.
Selama ini ia pikir Fira menikah dengan karena cinta, tapi siapa sangka jika di menikah karena janjinya. Sekarang Abi tak mungkin mengabaikan pengorbanan sang adik.
Fira benar, dirinya memang seharusnya sudah menemukan seseorang yang bisa menemaninya untuk hidup bersama. Selama ini ia selalu membatasi bergaul dengan wanita, bukan karena apa-apa, ia hanya ingin menjaga sang adik, tak ingin menikah sebelum Fira lebih dulu menemukan pasangan hidupnya.
"Aduh ... Bang tolong bantu perbaiki motor saya dong!"
Abi terlonjak kaget, keasikan melamun ia tak menyadari jika seseorang telah masuk kedalam bengkelnya yang sudah tertutup setengah. Abi menatap seseorang yang mengganggunya itu, ternyata seorang perempuan yang datang sambil mendorong motor.
"Maaf, dek. Bengkel sudah mau tutup, pekerjanya juga sudah pulang semua, cari bengkel lain aja ya," ucap Abi. Bukan Abi tak ingin membantu, hanya saja ia sedang tak ingin. Apalagi hari sudah sangat malam, ia ingin segera pulang saja.
"Loh, Abang kan bisa tolong saya? kok gitu sih," ujar gadis itu tak terima, "bang, dari tadi saya udah cari bengkel yang masih buka, tapi gak ada. Cuma Bengkel ini doang. Tolong bantu ya, bang?" rengek gadis itu mengiba.
"Tapi saya sudah mau pulang!"
__ADS_1
"Tolong lah, Bang. Gimana dengan saya nanti pulang? Abang tega lihat perempuan jalan sendirian tengah malam bengini, dorong motor lagi?"
Abi mengusap wajahnya kesal, dirinya benar-benar sedang tak ingin berkerja atau menyentuh barang-barang yang penuh noda hitam itu. Tapi memikirkan gadis ini berjalan ditengah malam sendirian sambil mendorong motor ia juga tak tega.
Dengan setengah hati pria itu membantu sang gadis yang tak ia ketahui namanya itu. Gadis itu tersenyum senang, akhirnya pria ini mau juga membantunya. Padahal tadi ia sudah terlanjur cemas jika pria ini tak berbelas kasih, malam ini ia yakin akan jadi anak jalanan.
Merasa cangung hanya berdua ditempat itu, Abi mulai mengajak gadis itu berbicara.
"Kamu dari mana? bagaimana seorang wanita bisa berkeliaran malam-malam seperti ini?"
Adam sedikit bingung, tapi pada akhirnya ia tetap menganguk mengerti. Memangnya pekerjaan apa yang gadis ini lakukan sampai-sampai pulang jam sebelas ... oh ralat, jam setengah dua belas malam.
"Bosmu pasti kejam sekali, sampai-sampai karyawannya pulang selarut ini," ucap Abi.
Gadis itu hanya bisa tersenyum kaku, tak ada niat untuk menjawab ucapan yang dilontarkan pria yang mau membantunya ini.
__ADS_1
*****
"Nah, sudah selesai." Abi berucap lega. Cukup lama ia memperbaiki monitor gadis itu, karena memang kerusakannya cukup parah.
"Terima kasih, Bang. Berapa semuanya?"
Abi menyebut nominal yang harus gadis itu bayar. "Kamu berani pulang tengah malam begini?"
Gadis itu mengangguk, "saya sudah biasa pulang seperti ini, jadi jangan kawatir." Abi mencibir, memangnya siapa yang kawatir?
Mendengar jawaban gadis itu membuat Abi semakin penasaran. Tapi ia tak mungkin menanyakan lebih pribadi lagi, jadi ia memilih diam saja, toh ini bukan urusannya.
Setelah kepergian gadis itu Abi langsung menutup bengkelnya. Pria itu memilih kembali kerumah untuk beristirahat.
*****
__ADS_1