
Kaivan yang terlihat istrinya telah tertidur dengan pulas, memilih untuk membiarkannya saja. Meskipun ada rasa rindu dalam hatinya untuk segera mendekap istri kecilnya itu, tapi kejadian tadi pagi membuka ia mengurungkan niatnya.
Secara resmi Kaivan telah memecat Fira dari pekerjaannya. Sebenarnya sudah ia lakukan beberapa hari lalu, karena itu ia selalu berusaha untuk melarang istrinya berangkat ke kantor.
Saat ini ia tak membutuhkan asisten lagi, seperti dulu sebelum Fira hadir ia juga tak mempublikasikan asisten. Ia merekrut Fira saat itu semata-mata hanya untuk mendekati wanita ini, dan sekarang ia sudah mendapatkannya, jadi ia sudah tak butuh asisten.
Merasa sudah puas memandangi wajah istrinya, Kaivan melangkah memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tapi ia tak tahu saat pintu itu tertutup bersamaan dengan sepasang mata yang terbuka menatap kepergian pria itu.
Fira mendengus kesal, “dasar pria tidak peka!”
Setelah itu ia kembali memejamkan matanya, dan kali ini dirinya benar-benar tertidur dengan lelap.
Kaivan keluar dari kamar mandi, saat melihat posisi tidur istrinya yang berubah seketika membuat ia mematung terkejut. Tadi ia tak bisa melihat wajah Fira secara menyeluruh karena wajah gadis itu yang bersembunyi, tapi sekarang ia bisa melihat semuanya.
__ADS_1
Mata yang membekak, jejak air mata yang masih terlihat di pipi putih istrinya, membuat ia menyadari dirinya benar-benar sudah keterlaluan.
“Ya Allah ... Apa yang telah aku lakukan? Apa istriku seharian menangis karena diriku? Bertapa berdosa nya aku, ya Allah.”
Kaivan mengusap lembut jejak air mata di pipi Fira, ia mengecup kedua belah mata istrinya yang terlihat membekak.
Hati Kaivan terasa diremas. Kejadian ini kembali terulang, ia kembali membuat istrinya terluka. Bukankah dirinya tak bisa berubah? Kenapa dirinya tak bisa hanya untuk menjaga satu wanita saja?
“Selamat tidur, sayang. Maaf karena telah membuat mu menangis,” bisik Kaivan pelan, yang tentu saja tak dapat istrinya dengarkan.
*****
Fira mengerjap matanya pelan, ia merasa perih saat pertama kali membuka matanya pagi ini. Mungkin karena terlalu lama menangis kemarin, membuat matanya terasa perih.
__ADS_1
Melihat ke samping tempat tidur, ia tak melihat keberadaan suaminya. Fira kembali menghembuskan nafas kecewa, padahal ia berharap pagi ini Kaivan memeluknya dengan erat seperti pagi-pagi sebelumnya. Rasa kecewanya tak bisa ia sembunyikan, yang pada akhirnya membuat matanya hampir kembali meneteskan air mata.
Fira melangkah dengan lesu untuk membersihkan tubuhnya, tak butuh waktu lama ia telah kembali keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapinya.
Hari ini setelah sarapan ia berniat mengunjungi bengkel sang kakak. Saat-saat seperti ini dirinya sangat butuh sang kakak, ia butuh sandaran hati yang bisa membuat ia merasa tenang untuk sesaat.
“Bu, aku akan pergi keluar setelah ini.” Fira mengatakan pada pelayanan suaminya itu. “Kalau mas Kaivan tanya Bu Salma bilang saja aku lagi pergi ke bengkel kakakku,”
Wanita paruh baya itu mengernyit heran, “kenapa gak nak Fira langsung yang telepon suami mu?”
“Fira lagi malas mu. Tolong ya, Bu?” pinta Fira yang pada akhirnya tetap diangguki Bu Salma.
Meskipun dirinya begitu penasaran, tapi Bu Salma tak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan tuanya. Cukup hanya dulu, dan sekarang ia tak ingin melakukan kesalahan seperti dulu lagi.
__ADS_1