
Pagi ini Fira akan kembali mengunjungi sang kakak, tapi ia tidak sendiri sekarang, ia akan pergi bersama suaminya. sebenarnya Kaivan yang ingin bertemu dengan Kak Abi, katanya ia ingin mengatakan sesuatu sekaligus ingin meminta maaf pada sang kakak ipar.
Saat tahu suaminya ingin berbaikan dengan sang kakak, tentu saja Fira sangat bahagia.
"Sudah siap?"
"Sudah," Fira tersenyum manis, ia langsung menyambut uluran tangan sang suami dan melangkah beriringan keluar menuju mobil.
"Dek,"
"Mm ... Kenapa mas?" tanya wanita, ia bingung melihat Kaivan berhenti melangkah.
"Kok Mas cemas, ya?" Kaivan menyentuh dadanya yang terasa berdebar.
"Cemas kenapa?"
"Mungkin karena ingin bertemu dengan kakak mu ... Apa dia akan bisa membiarkan kita bersama? Atau dia akan menolak permohonan mas nanti?" Kaivan terlihat sangat cemas. Tadi malam ia masih ingat bagaimana Fira bilang kakaknya ingin memisahkan mereka berdua, jika itu terjadi ia tidak akan bisa terima.
"Tenang saja, jika mas mau menjelaskannya, Kaka Abi pasti mau dengar. Dia tidak akan mungkin menolak mas nanti," ucap Fira menyemangati.
"Bukannya kamu sendiri yang bilang tadi malam ya, dek. katanya kakakmu ingin memisahkan kita," ujar Kaivan.
__ADS_1
Fira terdiam, setelah itu ia tersenyum geli. Kaivan yang melihat itu menatap curiga istrinya, "kamu menyembunyikan sesuatu ya? kok ketawa?"
"Gak kok, mas. ya udah, yuk kita berangkat." Wanita itu langsung menarik tangan suaminya. Ia tidak ingin menjelaskan apapun, karena ia sendiri ingin memberi sedikit kejutan pada sang suami.
*****
Abi menatap bingung dua orang didepan pintu. Pagi-pagi begini, kenapa mereka sudah datang?
"kak Abi. Kok kami cuma ditatap begitu? Gak disuruh masuk?"
"Kalian, kenapa datang sepagi ini?" Abi tak menyuruh mereka masuk, tapi malah bertanya dengan bingung.
"Tidak ada ... sebenarnya Mas Kaivan yang mengajakKu kesini, dia ingin berbicara dengan kak Abi," ucap Fira yang membuat Abi semakin mengerutkan keningnya.
Abi menatap pria didepannya tak bersahabat. semenjak Fira menceritakan kebenaran itu ia mulai kesal pada pria ini yang berani mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Ada apa?" tanpa basa basi, Abi langsung bertanya ketus.
"Apa adik ipar ini tidak disuruh masuk dulu? apa kita ngobrol sambil berdiri saja seperti ini?"
Abi berdecak kesal, pagi-pagi sudah ada saja yang membuatnya marah. Ia mempersilahkan Adik ipar laknatnya itu masuk. Sedangkan Kaivan tersenyum bahagia berhasil membuat Abi marah.
__ADS_1
"Jadi sekarang kau sudah bisa cerita?"
Kaivan alisnya terangkat, memangnya ia mau cerita apa?
"Aku tidak ingin menceritakan apa-apa, kau hanya salah paham."
"Kalau begitu kenapa kau datang ke rumah ku?" Abi memicing matanya menatap Kaivan dengan curiga. Melihat kegelisahan Pria ini Abi tahu pasti ada sesuatu yang terjadi.
Tiba-tiba Abi memikirkan sesuatu, "oh, apa kau datang kesini untuk mengembalikan adikku? kau ingin berpisah darinya?"
Pertanyaan Abi membuat Kaivan merinding ketakutan. Ia kesini untuk bicara baik-baik masalah ini, tapi sepertinya Kakak istrinya ini salah paham.
"Bukan! Bukan seperti itu," bergegas Kaivan menjawab, "aku kesini ingin ... Ingin meminta maaf ...," ahh, entah mengapa terasa begitu berat mengucapkannya. Gengsinya terlalu besar untuk merendah didepan orang lain.
Abi yang melihat Kaivan gugup, hampir saja tertawa. tapi ia tak boleh membiarkan pria ini lolos sekarang, rasanya ia ingin memberikan sedikit pelajaran pada pria sombong ini.
"Jika aku tidak setuju bagaimana? Lagipula alasan adikku bersamamu sudah tak ada lagi. Aku rasa, aku bisa mencari suami peganti yang lebih baik," ujar Abi tanpa dosa.
Kaivan meradang mendengar ucapan Abi. Rahang pria itu mengeras menahan amarahnya, jika tak mengingat jika pria didepan ini adalah kakak tersayang istrinya sudah pasti sekarang sudah ia buat babak belur.
"Kau ingin memisahkan aku dari istriku? Aku tidak akan membiarkan itu! Jika kau berani akan ku buat Fira tak akan boleh bertemu lagi dengan mu!" Kaivan balik mengancam Abi.
__ADS_1
Abi bukannya marah malah terkekeh geli, "kau yakin? Aku tidak yakin kau bisa membantah ucapan adikku jika sudah berkehendak. Aku tahu betul dia sangat keras kepala, dan kau tahu ... Jika sekarang aku menyuruhnya memilih antara kau dan aku, sudah aku pastikan dia akan memilihku!"
*****