
Waktu satu Minggu itu tak lama, buktinya sekarang hari yang menebarkan itu datang juga. Fira merasa waktu terlalu cepat berlalu, membuat ia ingin menagis saja rasanya tak sanggup menghadapi hari ini.
Sebentar lagi, ya sebentar lagi statusnya akan segera berubah. Beberapa menit lagi ia bukan lagi seorang perempuan lajang, tapi sudah menjadi istri dari seorang Kaivan. Pria yang menjadi bosnya ditempat kerja, dan kelak juga akan menjadi imam didalam rumah tangannya.
Acara sederhana yang dipinta gadis itu sepertinya tak sesuai keinginannya. Buktinya sekarang tamu tetap saja banyak yang datang, meskipun itu semua kerabat sang calon suami yang sudah sangat meramaikan acara sederhana ini.
sedangkan keluarga Fira tak seberapa, karena ia sendiri tak memiliki saudara yang begitu dekat kecuali sang kakak.
“Aduh, cantiknya calon istri Kaivan. Beruntung banget anakmu Hanum ... Dua kali menikah, semuanya cantik-cantik dan lemah lembut. pintar kali dia mencari istri." Fira hanya tersipu malu mendengar pujian dari bibi Kaivan.
“Benar banget, Bu. Mana keduanya gadis lagi, menang banyak ini si Kaivan!”
Semua orang disana tertawa mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Sedangkan ibu Kaivan hanya tersenyum kecil melihat calon menantunya, ia pun tak kalah senang saat ini.
Sedikit banyak hatinya terobati, dengan Kaivan memiliki keluarga baru membuat Hanum sangat bahagia. ia berjanji kali ini ia Taka kan ikut campur dalam rumah tangga anak-anaknya.
Acara akan segera dimulai. Semua ibu-ibu tadi pergi melihat sang mempelai pria yang sudah duduk manis di depan penghulu. Tak berapa lama sang penghulu meminta calon pengantin wanita untuk ikut duduk di sebelah pengantin pria.
Fira dibimbing keluar dari kamar oleh Abi. Kembali pujian demi pujian para tamu lontarkan pada pasangan pengantin. Fira semakin merasa gugup saat ia semakin dekat dengan pelaminan.
“Kak,” Fira menggenggam erat tangan sang kakak.
Abi mengusap lembut tangan sang adik, agar bisa sedikit menenangkan nya.
“Gak perlu kawatir ... Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Abi meyakinkan sang adik.
Tapi yang namanya gugup di hari pernikahan, bagaimana pun juga Fira tak bisa menghentikannya, serasa ia ingin kabur saja dari sini. apalagi semua tatapan mengarah padanya, membuat gadis itu kembali tak percaya diri.
Sedangkan Kaivan tak bisa mengalihkan perhatiannya saat melihat calon bidadari datang dengan gaun pengantin yang membuat ia begitu terlihat cantik.
“Ya Allah, ciptaan mu sungguh luar biasa,” gumam Kaivan yang tak bisa didengarkan orang lain.
__ADS_1
Fira didudukkan tepat di samping Kaivan, sedangkan sang kakak sudah bersiap-siap untuk mengucapkan ijab Kabul untuk sang adik.
“SAYA NIKAH KAN ENGKAU KAIVAN ....,”
Janji suci saling bersahutan disana, setelah kata 'sah' mengumandang barulah Ucapan Alhamdulillah menggema di seluruh tamu undangan.
Sekarang status Fira benar-benar sudah berubah, perempuan itu tak bisa lagi menahan Bandung air matanya lagi. Tangis Fira pecah antara bahagia dan dilema, sekarang ia bukan lagi milik sang kakak, tapi sudah menjadi milik orang lain, yang tak lain bosnya sendiri yang sekarang menjadi suami sahnya.
Abi mendekap erat tubuh sang adik yang berguncang karena menangis, pria itu merasa tak rela setelah ini harus melepaskan sang adik yang begitu ia sayangi. Andaikan bisa, ia ingin adiknya selalu ada disisinya, tapi itu tak mungkin karena setelah dewasa jalan hidup akan berbeda lagi.
“Selamat, dek. Kakak harap setelah ini kalian berdua bisa bahagia.”
“Amin!” kembali suara para tamu berkumandang mengamini ucapan Abi.
Sedangkan Dewi yang juga berada disana beserta keluarganya menangis haru melihat hubungan kedua kakak adik itu. Ia lebih terharu lagi dengan kebaikan hati Fira yang rela mempertaruhkan masa depannya demi sang kakak tercinta agar bisa menikah. Dewi sangat-sangat Bangga pada mereka berdua.
*****
Ada rasa getar yang aneh memasuki hati perempuan itu, tapi ia menganggapnya bisa saja karena ia sendiri belum diyakinkan oleh pemilik hati yang sesungguhnya.
Acara berlanjut dengan para tamu mengucapkan selamat satu persatu. Karena yang hadir lebih banyak keluarga Kaivan dari pada keluarga Fira membuat gadis itu sedikit sedih. Saat seperti ini ia menjadi rindu dengan kedua orang tuanya, andai ... Andai saja mereka ada disini menyaksikan hari pernikahannya pasti Fira akan semakin bahagia lagi. Tapi takdir tak bisa diubah, tetap saja ia hanya sebatas khayalannya saja.
“Kamu kenapa menangis lagi?” tanya Kaivan sedikit kawatir saat melihat air mata istrinya meleleh lagi.
“Gak apa-apa kok, Mas.” Kaivan mengangguk seolah percaya, tapi hatinya masih bertanya-tanya.
Ingin rasanya ia merengkuh tubuh perempuan itu dalam pelukannya, tapi ia tak bisa, bagaimana pun ia tak yakin jika Fira mau disentuhnya begitu cepat.
Saat Fira melihat Dewi datang, perempuan itu tersenyum lebar menyambut pelukan hangat sang calon kakak iparnya itu.
“Selamat ya, dek. Semoga kalian berdua selalu bahagia dengan restu Allah.”
__ADS_1
“Makasih kak, Dewi. Aku harap setelah ini kakak dan kak Abi segera menyusul, aku pasti akan sangat bahagia lagi hari itu.”
Dewi mengamini nya sepenuh hati. Sedangkan Kaivan menatap sang istri dengan intens, membuat Fira salah tingkah jadinya.
“Kenapa melihat ku seperti itu?” tanya Fira saat Dewi sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kamu sangat cantik, jadi aku tak bisa mengalihkan perhatian ku padamu.”
Fira melotot mendengar gombalan maut Kaivan, wajahnya bersemu mereka mendengarnya.
“Kamu ... Membuat ku malu saja. Hentikan gombalan receh mu itu!” bentak Fira pelan, seolah tak suka mendengar nya, padahal hati sudah berbunga-bunga.
“Aku tak akan berhenti, karena itu kenyataan bukan gombalan.”
Fira berdecak kesal. Berusaha menutupi perasaannya tapi Kaivan bukannya berhenti tapi malah semakin gencar menggodanya, membuat gadis itu mati-matian menahan senyum.
“Mas! Hentikan, jika kamu tak ingin aku pergi dari sini sekarang juga!” ancam Fira.
Kaivan terkekeh geli melihat tingkah malu-malu istrinya. Tapi ia tetap berhenti, bagaimana pun ia tidak ingin membuat istrinya marah di hari berbahagia ini.
"Baiklah ... tapi nanti malam akan kita lanjut pembicaraan ini."
Fira mencibir, pembicaraan apa yang mau dilanjutkan? gimana receh pria ini? yang benar saja!
Abi melihat adiknya yang tampak bahagia, ia bisa bernafas lega saat ini. Setidaknya ia bisa mempercayai mantan Sahabatnya itu untuk menjaga adik manjanya itu dengan baik.
*******
*H*alo semuanya .... semoga kalian bisa terhibur dengan cerita ku ini. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya, biar tambah semangat nulisnya.
Vote, like, komen.
__ADS_1
salam cinta dari Ara putri 😘❤️💖💓