
Rasanya sangat melelahkan berdiri sepanjang hari. Fira mengeluh sakit di kakinya saat acara telah usai.
Perempuan itu langsung menghambur diatas kasur empuknya untuk mengistirahatkan tubuhnya malam ini, tapi sepertinya tak bisa karena Kaivan ikut masuk dengan seringai jahilnya.
“Ayo kita pulang.”
Fira terlihat bingung, “pulang ke mana? Kan sudah ada dirumah.”
Abi terkekeh geli melihat kepolosan sang istri, ia menarik tangan Fira agar segera bangkit.
“Kita pulang ke rumah ku, bagaimana pun kamu harus ikut suami setelah menikah.”
Fira menyadari kekeliruannya, ia menyengir kuda.
“Apa tidak bisa diundurkan saja? Aku belum siap rasanya berpisah dengan kakakku,” ucap Fira mencoba memberi alasan. Padahal ia tak sanggup membayangkan jika mereka berdua tinggal serumah, sekamar, dan ... Oh, jangan biarkan otak sucinya ternoda.
Kaivan menggeleng tegas, ia tak ingin meningalkan istrinya sendirian setelah mereka sah. Lagi pula ini malam pertama kita, bagaimana mungkin ia pulang sendirian tanpa membawa sang bidadari.
“Kamu dosa loh, menolak ucapan suami. Ayo kita pulang, kakakmu juga sudah mengizinkannya,” ucap Kaivan membujuk.
Fira tahu ia tak bisa menghindar lagi, bagaimana pun ia harus tetap pulang ke rumah sang suami. Jadi saat mendengar kakaknya sudah memberi izinkan, perempuan itu langsung menurut Kaivan untuk kembali.
__ADS_1
Saat di ruang tamu sang kakak berada disana, Fira menatap sang kakak yang terlihat lelah.
“Kak,”
Abi tersenyum melihatnya adiknya yang sudah akan pergi. “Kalian berdua sudah mau pergi ya? Hati-hati di jalan,” pesan Abi sembari tersenyum lebar.
Fira yang tahu saat ini kakak sedang memahami perasaan, pasti Abi sedih ditinggalkan sendirian.
“Maaf, kak. Fira ningalin kakak sendirian,” ucap perempuan itu serak. Air mata kembali membasahi pipinya, ia merasa tak tega meninggalkan Abi.
“Gak apa-apa kok, dik. Kakak pasti baik-baik saja, kamu tidak perlu kawatir.”
Fira menghambur memeluk sang kakak, hatinya sedih lagi saat harus pergi.
Akhirnya mereka berdua telah sampai di kediaman Kaivan. Masih dengan rumah yang lama, Kaivan membawa Fira kembali ke rumah yang sama dengan ia membawa istri pertamanya kembali dulu.
“Ayo masuk, hari sudah malam dan dingin, kamu harus istirahat.” Kaivan membimbing gadis itu untuk memasuki rumah kelihatan sederhana tapi terlihat indah.
Sudah banyak renovasi semenjak kejadian masal lalu kelam, dan Kaivan juga telah banyak mengubah agar ia tak terlalu mengingat masal lalu lagi.
Setelah meletakkan kopernya di dalam kamar, ia kembali terpana melihat kamar yang terlihat luas dan rapi itu.
__ADS_1
“Jangan melamun, ayo cuci wajah mu setelah itu kita harus istirahat.”
“Bauklah,”
Masaih banyak waktu untuk ia melihat keindahan rumah ini nantinya, yang penting sekarang ia harus istirahat agar semua sakit ditubuhnya hilang esok pagi.
Saat keluar dari kamar mandi ia melihat pakaian yang ada didalam koper tadi sudah berpindah ke dalam lemari. Fira tercengang, padahal ia hanya lima belas menit di kamar mandi, tapi barang-barangnya sudah rapi tersusun.
“Mas ... Siapa yang menyusun pakaian ku?”
Kaivan menoleh ke arah sang istri, “oh, asisten rumah tangga yang melakukannya.”
Fira mengangguk mengerti. Sekarang ia memanggil baju tidurnya, ia kembali ke dalam kamar mandi untuk Mengganti pakaian pengantinnya.
Setelah merasa segar ia memilih istirahat di samping Kaivan yang berbaring. Sepertinya pergi itu sudah terlepas, dan Fira bisa untuk tidak kawatir saat ini.
Tapi tak berapa lama, pinggang gadis itu sudah dililit oleh sesuatu yang terasa kokoh dan hangat. Awalnya ia ingin memberontak tapi saat merasakan Kaivan Demak mengeratkan pelukannya, Fira memilih untuk mengalah. Toh, ini bukan salah, mereka berdua sudah sah, bahkan mereka berdua bisa melakukan lebih dari ini semua.
“Tidurlah istri kecilku,” ucap Kaivan serak, membuat bulu Roma Fira berdiri saja.
Tapi tak bisa dipungkiri Fira, jika ia merasa nyaman dengan dekapan hangat suaminya. padahal ini untuk pertama kali, tapi ia langsung menyukainya. Benar-benar luar bisa, mungkin tangan kokoh ini diciptakan untuknya.
__ADS_1
*****