
Saat tubuh lelah terlelap mungkin dirinya tak bisa lagi merasakan perhatian yang disembunyikan oleh seseorang. Saat-saat seperti ini lah kesempatan bagi Kaivan untuk bisa lebih dekat dengan istrinya tanpa membuat Fira merasa takut.
Pernikahan mereka sudah berjalan dua Minggu, dan mereka sudah kembali bekerja dengan Fira yang masih menjadi asistennya. Tapi tak seperti dulu, jika dulu Kaivan sangat senang mengerjai Fira tapi kini ia malah memanjakan istrinya. Tak perlu bekerja, yang penting perempuan cantik itu ada disisinya sepanjang hari. Tapi sepertinya sampai sekarang hubungan mereka sepertinya tak berjalan sesuai rencana, karena gadis itu tak memperlihatkan ketertarikannya pada sang suami.
“Ehmm,” Fira melenguh dalam tidurnya saat merasa terganggu dengan usapan lembut di wajahnya.
Kaivan yang menyadari istrinya akan terbangun lekas-lekas ia berpura-pura tidur. Fira membuka matanya dengan malas, padahal ia masih sangat mengantuk entah mengapa ada saja yang mengganggu tidurnya.
Menoleh ke samping tempat tidur, ia melihat sang suami tertidur membelakangi dirinya. Fira mendengus kesal, kenapa ia merasa seperti istri yang diabaikan sekarang? Benar-benar suami tidak romantis, bukan kah seharusnya Kaivan itu memeluknya seperti sinetron-sinetron di TV, tapi ini malah di abaikan.
Jika sudah begini Fira jadi rindu sama kak Abi. Karena biasanya pria itu tak akan pernah mengabaikan nya, tak seperti Kaivan yang terlalu cuek.
Dengan sedikit keberanian, gadis itu mencoba memeluk tubuh Kaivan dari belakang. Tak ada respon yang ia terima, bahkan suaminya itu tak berbalik sedikit pun, apa Kaivan benar-benar sudah tidur lelap? Pikirannya.
“Huh ... Andai saja aku menikah dengan pria yang mencintai ku, pasti hidupku tak akan menjadi menyedihkan seperti ini.” Fira berucap lirih.
__ADS_1
Deg...
Kaivan terhenyak mendengar ucapan istrinya. Apa Fira sudah menyukainya? Tapi itu tak mungkin, karena pernikahan ini masih begitu dini bagi mereka berdua.
Fira melepaskan pelukannya dari tubuh sang suami. Entah mengapa ia merasa sangat hampa saat-saat seperti ini, padahal dalam hati ia berharap Kaivan lah yang berperilaku seperti ini, memeluk dirinya disaat terlelap.
Fira berpikir, mungkin akan terasa hangat saat tangan kekar itu melilit tubuhnya. Ahh, dirinya merasa sedih lagi, entah untuk siapa tangan indah itu diciptakan?
Apa mungkin untuk memeluk wanita lain?
“Apa aku cari cowok lain aja ya? Buat menghilangkan kejenuhan ini ... Salah ku juga yang tidak menikmati masa muda dengan baik dulu.” Gadis itu merancau tak karuan.
Mata yang sudah tak ingin rasanya terpejam lagi, membuat pikiran gadis itu sedikit gila. Tak sadarkan dirimu, jika sang suami hanya pura-pura tidur? Atau mungkin malah sengaja?
.......
__ADS_1
Kaivan benar-benar tak bisa bekerja dengan baik, pikirannya berkelana kemana-mana. Sesekali ia mencuci pandang pada Fira yang terlihat sibuk membolak-balik halaman buku disana.
Percayalah bahwa yang dibaca gadisnya itu hanyalah sebuah novel, bukan pekerjaan seperti kalian pikirkan. Karena akhir-akhir ini ia berusaha tak memberikan pekerjaan pada Fira, tapi sepertinya gadis itu malah semakin ngelunjak, pikir Kaivan.
“Nona Fira, bisakah anda memeriksa laporan ini?” Kaivan menyodorkan beberapa lembar kertas itu ke hadapan istrinya. Ia sudah cukup kesal diabaikan, dan ditambah dengan perkataan gadis itu tadi malam membuat ia semakin kesal.
“Baik, pak.”
Kepala Kaivan serasa ingin mendidih. Apa-apaan gadis ini malah bersikap begitu santainya?
“Kamu pikir aku ini bapakmu!” bentak Kaivan tak suka.
“Loh, ini kan kantor, pak?” Jawaban polos Fira benar-benar menguji kesabaran Kaivan.
“Terserah!”
__ADS_1
******