
Rasanya akan sangat sulit jika kehidupan ini hanya dibayangkan saja, tapi jika kita jalani mungkin tak seburuk yang dipikirkan.
Tanpa dapat dicegah sekarang dirinya resmi menjadi tunangan pria lain, dan dua Minggu lagi mereka akan menikah.
Dewi menatap hampa seseorang disebrang sana, seseorang yang diminta untuk menunggu dari tadi. Air matanya jatuh lagi, membayangkan jika nanti mereka berdua tak akan bisa bertemu lagi, tak bisa saling memandang lagi, apa dirinya akan sanggup nanti?
Untuk sekarang Jawabnya tentu saja tidak, tak tahu jika nanti, mungkin saja perasaannya sudah berubah.
“Mungkin setelah ini aku akan belajar untuk melupakan rasa ini ... Maaf mas Abi, aku yang meminta mu untuk menunggu, tapi aku juga yang memungkiri janji kita.” Gadis itu bergumam lirih sembari menatap wajah tampan yang selalu memenuhi pikirannya.
Setelah merasa cukup untuk memandangnya, Dewi melangkah mendekati pria yang dari tadi menunggunya itu. Semakin dekat entah mengapa dadanya ikut terasa sesak, ia merasa tak kuat untuk mengatakan ini, tapi ia juga tidak ingin membohongi Abi lebih lama lagi.
“Assalamualaikum, mas Abi.”
“Waalaikum salam ... Kok lama datangnya, dek?” tanya Abi kawatir.
__ADS_1
“Biasa lah, mas. Jalan macet kalau siang begini.” Abi mengangguk mengerti. Untung saja tadi dirinya pakai motor, jadi gak terjebak macet.
Dewi merasa malu dengan dirinya sendiri telah berbohong, padahal tadi ia sudah sangat lama datangnya, tapi dirinya malah memilih memandang wajah pria pujaan hatinya ini dulu sebelum nanti tak bisa ia lakukan lagi.
“Ada apa? Kenapa kamu minta kita bertemu, dek?” Abi mengernyit heran melihat gadis didepannya terlihat sangat gugup. “Semuanya baik-baik saja kan?”
“Baik kok ... Hanya saja, aku mau berbicara dengan mu.” Dewi berusaha menetralkan detak jantungnya, ia tak yakin setelah ini ia masih bisa tersenyum sambil menatap Abi.
“Bicara apa?”
“Mas, aku mau bilang sesuatu,” Dewi menatap Abi gugup, “aku akan menikah ...,”
Deg
Abi merasa perih mendengar ucapan gadis disebelah-Nya, apa Dewi sedang bercanda.
__ADS_1
“Maksud kamu apa, dek? Kan mas belum datang lagi ke rumah mu untuk melanjutkan rencana kita. Aku mohon maaf karena sudah mengabaikan mu beberapa hari ini, tapi bukan berarti kamu bercanda seperti ini.” Abi masih tak yakin dengan Ucapan Dewi, ia yakin Dewi hanya bercanda saja untuk membuat nya kesal.
“Mas ... Aku serius.” Ucap Dewi, “ayahku sudah merencanakan perjodohan ini sejak kamu memutuskan pertunangan kita ... Aku tidak tahu ini sebelumnya, dan beberapa hari yang lalu keluarga mereka datang untuk menentukan tanggal pernikahan kami.”
Abi menatap nanar Dewi. Ia tahu ini salahnya yang tidak bisa tegas dengan pendirian, sekarang ia merasa menyesal telah terlambat menjemput gadis manis ini.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan?”
“Tidak ada ... Hanya menyerah pada takdir, jika kita berdua memang tidak berjodoh, mas.”
Abi terdiam mendengarnya. Apa sekarang ia kehilangan wanita yang mulai mengisi hatinya? Baru saja ia merasa bahagia, tapi kenapa ia kembali dikecewakan dengan takdir.
“Maaf,” ucap Abi serak. “ maaf karena aku telat memperjuangkan mu,”
Dewi tak kuasa menahan air matanya, tak sanggup lagi berada didekat Abi terlalu lama. Ia memilih pergi tanpa mengucapkan apapun lagi. Cukup dengan rasa kecewanya, setelah ini ia tidak ingin berharap lagi.
__ADS_1
******