Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
Hanya jadi tamu undangan


__ADS_3

Tak ada rasa bahagia jika sesuatu itu dilakukan dengan keterpaksaan, jika bukan karena tanggung jawab dan rasa hormat pada orang tua mungkin sekarang dirinya sudah ingin pergi kabur dari semua kebahagiaan ini.


Kebaya muslim modern sudah melekat indah di tubuh Dewi, wajah yang terlihat begitu cantik khas seorang pengantin membuat orang-orang merasa kagum dengan kecantikannya.


“Kamu cantik sekali, nak. Ibu benar-benar bahagia melihat mu, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu, nak.”


Antara terharu atau malah tertawa mendengar ucapan ibunya, Dewi tersenyum kecut.


“Ibu sangat tahu apa kebahagiaan ku, tolong jangan membuat aku semakin terluka, Bu.” Untuk ke sekian kalinya ia membantah ucapan sang ibu, padahal hanya sekarang ia berani, selama ini ia tak pernah menjadi putri yang durhaka.


“Nak, kamu ...,” ibu Dewi terkejut mendengar ucapan anaknya.


“Sudah lah, Bu. Lebih baik sekarang ibu keluar, Dewi mau sendiri.”


Deg


Wanita paruh baya itu tertegun mendengar ucapan putrinya, tak pernah anaknya ini berbicara sekasar ini, tapi sekarang. Dadanya terasa sesak, ingin sekali ia marah saat Dewi berbicara seperti itu, tapi itu tak mungkin. Karena kebencian ini ada saat mereka yang menciptakan.

__ADS_1


“Hanya karena cinta kamu melawan orang tua seperti ini?!” wanita berhijab panjang itu mulai tersulut emosi, dan Dewi malah terlihat tidak peduli.


“Dan hanya karena janji, kalian mengorbankan kebahagiaan ku!” jawab Dewi tak mau kalah, entah mengapa sekarang ia ingin selalu menjawab setiap perkataan ibunya.


Ibu Dewi langsung keluar dari kamar anaknya, ia tak ingin lebih lama lagi mendengar perkataan yang membuat putrinya semakin membenci mereka.


.......


Abi datang bersama Fira, mereka yang juga mendapatkan undangan mau tak mau tentu saja harus datang untuk menghormati orang yang telah mengundangnya.


Fira mengusap lembut tangan kakaknya yang terlihat mengepal menahan marah, ia tahu pasti Abi Sangat sedih sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, ini salah Abi juga yang tidak mau berusaha lebih awal.


Ia tak pernah melihat kakaknya se kacau ini, tapi sekarang terjadi karena ditinggalkan kak Dewi. Jika diingatkan Fira pun tak kalah kecewa dengan Dewi, setelah begitu jauh dirinya berjuang tapi kenapa malah meninggalkan kakaknya?


Jika mengingat kejadian itu, ia merasa sedih. Jika dirinya menyesal sama saja ia juga menyesal telah menikah dengan Kaivan, tapi jika dipikir-pikir lagi, sepertinya ia malah bersyukur bisa memiliki pria Tampan itu.


“Ayo kita ucapkan selamat pernikahan pada mereka, setelah itu kita pulang.” Fira menarik tangan kakaknya agar tersadar dari lamunan pria itu, tak tega lebih lama lagi melihat kakaknya bersedih, pilihan terbaik untuk mereka pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Langkah Abi yang semakin dekat membuat hati gadis cantik didepan pelaminan itu kian hancur, rasanya ia tak sanggup melakukan hal sekeji ini pada pria yang dicintainya, tapi bagaimana lagi jika orang tua tak merestui.


“Selamat menempuh hidup baru, kak. Aku harap kalian selalu bahagia,” ucap Fira. Ia menyalami kedua mempelai, begitu juga dengan Abi. Pria itu memilih untuk tak berbicara sedikit pun, ia bahkan tak ingin menatap wajah sang mantan kekasih.


“Mas ...,” panggil Fira serak menahan tangisnya. “Maaf.”


Abi tersenyum kecut, ia berusaha membuat diriku baik-baik saja didepan semua para tamu undangan.


“Gak apa-apa kok, dek. Semoga kalian berdua selalu bahagia setelah ini,” ucap Abi.


Hati Dewi semakin perih mendengar ucapan Abi, ia ingin berteriak mengatakan pada semua orang bahwa ia tak bahagia, dan takkan pernah bisa.


“Kami pamit kak.”


Setelah mengucapkan itu, mereka berdua meninggalkan pesta pernikahan Dewi. Tak ingin lebih lama lagi yang pasti akan membuat mereka semakin terluka, Fira mengajak kakaknya untuk segera kembali.


******

__ADS_1


__ADS_2