Duda Tampan Kekasih Hati

Duda Tampan Kekasih Hati
menerima calon suami


__ADS_3

Jika tadi pagi gadis itu menolak untuk menikah dengan Kaivan, berbeda sekarang yang malah mencari pria itu di tengah malam seperti ini.


Fira tak tanggung-tanggung, ia langsung mendatangi rumah Kaivan di jam sembilan malam. Untung saja pria itu tidak Tinggal bersama keluarganya, jika tidak apa lah kata mereka.


Kaivan masih tinggal di rumah pembeliannya waktu menikahi istri pertamanya, pria itu masih ingin mengingat kenangan bersama .... Tak usah lah disebutkan namanya.


Dari mana gadis itu menemukan alamat ini? tentu saja ia sempat bertanya pada ibu Kaivan tadi. ia beralasan jika ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan calon suaminya itu. Tentu saja ibu Kaivan langsung memberi tahunya dengan cepat.


Sekarang Fira sudah sampai didepan rumah Kaivan, entah mengapa rasa gugup langsung menyerangnya membuka ia semakin bergetar ketakutan.


Nana mengetuk pintu rumah, gadis itu sudah harap-harap cemas menunggu kemunculan Kaivan. Tapi tak berapa lama malah wanita tua yang muncul dengan wajah bingungnya.


“Assalamualaikum, Bu.”


“Waalaikum salam, Nona mau cari siapa?”


“Apa benar ini rumah Kaivan?” Wanita tua itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Fira. “Bisa saya bertemu dengannya, Bu?”


“Nona siapa?” tanya wanita itu lagi.


“Aku Fira ... Dia pasti kenal dengan ku,” ucap Fira. Tapi sepertinya wanita tua itu tak percaya, tetap saja ia tidak bergeming, atau pun menyuruh ia masuk.


“baiklah ... Kamu tunggu disini dulu, nona. Saya akan panggil tuan.” Nana mengangguk mengiyakan.


Saat wanita paruh baya itu berlaku, Fira tersenyum kecut melihat nasibnya. Bertemu di rumah seorang pria di tengah malam, dan gak dibiarkan masuk lagi, menunggu calon suaminya didepan pintu, sangat menyedihkan.


Derap langkah terburu-buru dapat Fira dengar dari rumah dua lantai itu, mungkin wanita tadi, pikir Fira yang tak ambil pusing.


“Fira!”


Gadis itu sedikit terkejut saat yang membuka pintu bukan wanita tadi, tapi Kaivan yang terlihat cemas didepannya.

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa sampai malam-malam datang mencari ku?” Kaivan bertanya dengan lembut, menarik tangan gadis itu untuk ia bawa masuk kedalam rumahnya.


“Aku ingin berbicara dengan mu,” ucap Fira sedikit malu saat Kaivan mengukit kenapa ia datang.


Kaivan menuntun gadis itu untuk duduk disamping-Nya. Ia dapat merasakan tangan gadis itu yang terasa amat dingin, bahkan sudah tampak memucat karena angin malam.


Ingin rasanya Kaivan mendekapnya erat, tapi mau bagaimana lagi, pasti gadis ini tak mau. Ia hanya bisa menggenggam erat tangannya saja, seolah dengan begini ia bisa menyalurkan kehangatan nya.


“Ada apa? Sampai membuat mu seperti ini.”


Fira menatap Kaivan lesu, “aku minta maaf tentang ucapanku tadi sore ... Aku, aku mau menerima pernikahan ini.” Jika ditanya apa ia malu? Bisa dikatakan sangat, tapi lebih besar rasa leganya sekarang.


Kaivan tersenyum melihat kegugupan calon istrinya. Dengan berani ia mulai mengusap lembut rambut gadisnya tanpa malu.


“Aku tidak berpikir untuk membantalkan pernikahan ini. Meskipun kamu menolak, aku akan tetap memaksa mu!” ucap Kaivan penuh penekanan, membuat Fira menganga tak percaya.


“Apa kamu mencintai ku?” tanya Fira, gadis itu harap-harap cemas menunggu jawaban sang pria.


Cukup sudah! Tekat Fira untuk menerima pria ini sudah bulat! Ia tidak akan mundur lagi, meskipun tahu kehidupan kelam pria tampan ini.


“Tapi ... Aku ingin meminta sesuatu lagi padamu,” ucap Fira malu-malu.


“Apa?”


Gadis itu sudah memilin jari saking gugupnya, “kita nikah dipercepat ya, pak. Maaf, tapi aku ingin pernikahan kita dipercepat saja.”


Fira takut jika Kaivan tidak setuju, apalagi pria itu hanya menatapnya datar saja setelah mendengar permintaannya. Apa dia marah?


Fira sebenarnya sangat malu, ia terlihat seperti perempuan yang kebelet kawin. Tapi mau bagaimana lagi, ini demi masa depan kakaknya yang masih saja keras kepala meskipun sudah ia bujuk dengan berbagai cara.


“Kenapa? Apa karena kakakmu?” tanya Abi dengan wajah datarnya, membuat Fira semakin cemas.

__ADS_1


“Iya ... Seperti yang kamu katakan dulu, pernikahan ini saling menguntungkan buat kita.” Fira ingat saat pertama kali Kaivan mengajak ia menikah, dan bosnya ini sudah tahu apa sebabnya tanpa perlu dijelaskan.


Kaivan menyeringai, “boleh, tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“kamu berhenti kerja setelah kita menikah!”


Deg


Fira melotot mendengar syarat dari Kaivan. Ingin sekali ia menolak, karena bagaimanapun ia ingin tetap bekerja setelah menikah nanti, apalagi kan bekerja di kantor suami sendiri, apa salahnya coba?


“Kenapa aku dilarang kerja? Kamu gak berniat untuk memperlakukan aku seperti ...,” Fira tak lagi melanjutkan ucapannya karena tatapan Kaivan mulai tak enak.


Fira menarik nafas panjang, sepertinya ia salah berucap. Lihatlah sepertinya ia benar-benar menyinggung pria disebelah-Nya ini, bahkan genggaman tangan Kaivan sudah terlepas.


“Ternyata kamu juga tahu tentang itu, ya? Begitu cepat gosip tersebar, tidak heran jika kamu begitu cepat tahu, apalagi kamu adiknya Abi ... Pasti pria itu menjelekkan ku,” ucap Kaivan membuang nafas gusar.


Fira menggeleng, “kak Abi gak pernah cerita tentang kamu, pak. Bahkan kak Abi sangat syok saat pertama kali kamu datang melamar ku.” Fira tidak bohong. Bahkan pria itu sempat marah sebentar karena keputusan Fira yang ingin menikah dengan Kaivan.


Kembali Kaivan menarik nafas gusar. “Ayo aku antar kamu pulang. Ini sudah malam, kakakmu bisa mengamuk nanti.”


Nana sedikit terkejut. Benar sekali, sekarang pasti kakaknya kalang kabut mencari dirinya. Tadi ia pergi tak bilang-bilang, ditambah sekarang ia juga tidak bawa ponsel, benar-benar ceroboh.


Tadi ia datang ke sini dengan ojek yang sudah mangkal di depan Komplek perumahan mereka, dan sekarang satu-satunya cara agar bisa pulang ya harus ikut Kaivan.


Asik melamun ia dikejutkan dengan sebuah jaket bertengger di pundaknya.


“Kalau mau keluar malam ini harus pakai baju yang tebal, lihatlah tubuhmu bahkan sudah mulai terlihat membiru karena kedinginan.” Fira tersenyum saja mendengar ceramah calon suaminya, ehh sepertinya ia mulai terbiasa memanggil Kaivan seperti ini.


Tangan Fira kembali di tarik untuk menuju bagasi mobil Kaivan, gadis itu hanya menurut saja saat Kaivan memperlakukannya dengan lembut.

__ADS_1


*******


__ADS_2