
Malam yang biasanya akan Fira nikmati dengan suka cita, karena bisa beristirahat dengan tenang setelah sepanjang hari disibukkan dengan pekerjaan. Tapi sekarang tak bisa, karena didepannya sedang berada Kaivan dan sang kakak, Abi. Dengan tampang serius membuat gadis itu tak berani beranjak dari sana.
Ternyata pria itu tak main-main, ia benar-benar memenuhi permintaan gadisnya dengan begitu cepat. Malam ini ia benar-benar datang untuk mengajukan pernikahan dipercepat pada kakak Fira, Abi.
“Apa kedua orang tua mu tahu?” Kaivan mengangguk mengiyakan, ia sudah memberi tahu keluarganya, dan mereka sepertinya malah menyambut dengan senang.
Abi menarik nafas panjang. Sebenarnya ia kurang setuju dengan usulan ini, tapi sepertinya Fira juga mendukung keputusan ini, mau tak mau ia juga ikut setuju.
“Baik lah ... Pernikahan akan dilakukan satu Minggu lagi!”
Kaivan tersenyum lebar ketika Abi menyetujuinya dengan mudah, padahal tadinya ia pikir akan sangat sulit.
"Terimakasih sudah setuju ... aku berjanji tak akan mengecewakan mu," ucap Kaivan mencoba meyakinkan.
"Tak perlu berjanji, aku hanya butuh bukti dengan menjaga dan membahagiakan adik ku disisi mu!" ucap Abi penuh penekanan, yang dianguki dengan mantap oleh sang teman malam.
......
Fira menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan malas. Setelah Kaivan pulang, gadis itu pun langsung memilih tidur dari pada ditanya banyak hal sama kak Abi.
Ia sekarang semakin bingung, Semakin merasa takut saat pernikahan sudah begitu dekat. Mereka berdua sudah berjanji jika pernikahan ini hanya dilakukan sederhana, dan Kaivan menyetujuinya.
Fira hanya merasa belum siap saja jika pernikahan ini di ketahui orang banyak, karena ia sendiri tak yakin jika hubungan ini bisa bertahan lama. Kabar buruk tentang rumah tangga Kaivan yang dulu, membuat ia merasa gamang dan dilema untuk memilih.
“Ya Allah, lindungi lah aku dari dia .... Meskipun dia akan menjadi suamiku, tapi aku tetap merasa takut dengan masa lalunya.” Fira bergumam sendiri dalam kamarnya. Mengaisi nasib yang tidak beruntung.
Suara ponsel bergetar membuat gadis itu sadar dari lamunannya. Nama Kaivan tertera di layar ponsel nya, membuat ia kembali menarik nafas panjang.
“Assalamualaikum,” ucap Kaivan di sabrang sana.
“Waalaikum salam ... Ada apa, pak?” Fira bisa mendengar suara geram disebrang, pasti pria itu kesal lagi dipanggil pak.
“Berhenti kamu memanggilku seperti itu! Kamu menguji kesabaran, gadis kecil!”
__ADS_1
Fira menggigit bibirnya kesal, entah mengapa pria ini begitu banyak maunya, padahal pernikahan mereka hanya sebatas kesepakatan.
“Baiklah ... Ada apa mas menelepon ku?”
Kaivan yang sedang tiduran dikamar nya tersenyum lebar mendengar gadis itu mengikuti ucapan nya. Entah mengapa siara Fira begitu merdu ia dengar saat memanggilnya dengan sebutan mas.
“Aku sudah menepati janjiku, sekarang giliran mu.”
“Janji apa?” Fira seakan lupa dengan pembicaraan kemarin malam.
Sedangkan Kaivan kembali menarik nafas panjang, untung sekarang mereka berdua sedang teleponan kalau tidak bisa-bisa dia mengamuk lagi seperti tadi siang.
Tapi bagi Kaivan tidak apa, setelah ia mendapatkan gadis itu nanti pasti ia bisa mengajarkan gadis itu. Untuk sekarang ia tidak ingin terlalu memaksa gadisnya, tapi nanti ... Ia akan menghukum gadis itu jika masih melakukan kesalahan.
“Bukankah kita sudah berjanji jika aku setuju untuk mempercepat pernikahan ini, kamu harus siap untuk berhenti kerja,” ucap Kaivan mengingatkan.
Fira mendengus kesal, “kenapa kamu ingin sekali aku berhenti kerja? Lagi pula kita satu kantor, tak ada masalah kan.” Fira masih keras dengan pendiriannya, tak peduli dengan apa yang dipikirkan pria di seberang sana.
“Akan kita bicarakan lagi nanti ... Sekarang istirahat lah”
Tapi apa yang dikatakan gadis itu juga benar, satu kantor berdua juga tidak ada salahnya. Ia akan membuat gadis itu selalu berada disisinya, dan tak akan membiarkan gadis itu berlaku seenaknya.
“Tunggu kamu menjadi milikku ... Kamu tak kan bisa lepas dari cengkeraman ku.” Kaivan menyeringai memikirkan semuanya.
Tak ada yang tahu hukuman apa yang akan ia rencanakan, tapi yang pasti untuk kali ini ia tidak akan melukai hati gadisnya lagi. Sudah cukup gagal sekali karena kebodohannya, dan ia tidak akan ingin masuk ke lubang hitam yang sama.
******
Kembali disibukkan dengan pekerjaan. Fira tetap saja masuk bekerja meskipun pernikahannya tinggal satu Minggu lagi, ia berencana akan mengambil libur tiga hari sebelum pernikahan dilangsungkan.
“Kamu sudah makan siang?”
Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari layar komputer, menatap sang calon suaminya dengan datar. pertanyaan bodoh baginya, sudah jelas dari tadi ia berada satu ruangan dengan pria itu bagaimana mungkin ia pergi makan siang.
__ADS_1
“Belum,” jawab Fira singkat.
“Ya sudah ... Makanan sudah dipesan, kita makan disini saja.” Fira mengangguk Setuju saja dengan usulan Kaivan.
Kaivan kembali menatap Fira dengan intens, “apa kamu yakin tidak ingin pernikahan kita dilakukan dengan meriah? Setidaknya ada sedikit peserta,” ucap Kaivan mencoba memancing gadis itu untuk kembali berbicara dengannya.
“Tidak usah ... Lagi pula ini bukan pernikahan pertama untuk mu, aku juga tidak ingin pernikahan kita tersebar luas dulu.”
Kaivan merasa tak terima saat mendengar Fira ingin menyembunyikan status mereka nanti.
“Memangnya kenapa?” tanyanya tak terima.
Fira benar-benar tak bisa konsentrasi bekerja saat Kaivan dari tadi selalu merecokinya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sekarang ia menoleh pada pria itu agar bisa cepat selesai.
“Karena aku belum terlalu yakin padamu, mas Kaivan! Tak ada yang menjamin masa depan nanti ... Dan kau sangat tahu apa yang aku cemaskan.”
Permasalahan yang sama lagi, membuat Kaivan merasa jengah dengan otak gadis kecilnya ini. Masa lalu yang selalu menjadi bahan pertimbangan untuk Fira, membuat kesabaran Kaivan mencapai batasnya.
“Kamu bisa melihat seperti apa aku setelah menikah! Jangan menyesal nantinya, karena aku akan menunggu waktu itu datang!”
Ingin sekali rasanya Fira mengumpat pria menyebalkan ini, tapi ia tak punya keberanian sebesar itu. Entah mengapa gadis yang dulunya selalu bertingkah manja dan kekanak-kanakan, tapi sekarang seakan berubah seperti seorang wanita dewasa. Mungkin saat ia merasa terancam dengan keberadaan Kaivan, membuat ia menjadi perempuan tangguh.
“Aku tak keberatan, jika kamu bisa menyajikan aku, maka akan ku janjikan kesetiaan seumur hidup dengan mu.”
Bertemu dengan dua manusia yang keras kepala, tetapi mereka hanya tak tahu saja jika kenyamanan itu sudah mereka ciptakan tanpa sadar. Mungkin bibir masih berkata tidak, tapi hati siapa yang tahu?
******
saudara-saudara ku, jangan lupa untuk tinggalkan jejak 😘😘😘
Like
komen
__ADS_1
vote
salam cinta Ara putri 😘❤️💖💓