
selesai mandi dan melakukan hal yang membuat rasa lelahnya hilang seketika Elang menyeruput secangkir kopi panasnya lalu menghirup udara segar di balkon kamarnya. . .
Elang teringat masalalunya di villa ini, dulu waktu kecil ia sering kesini bersama papahnya. . . perasaan baru kemarin ia bermain bola bersama sang papah dihalaman bawah yang begitu hijau. namun kini sang papah sudah berpulang ke rahmatnya. . . andai saja ia tahu papahnya akan meninggalkan dirinya pasti ia akan lebih sering menghabiskan waktu berdua dengan beliau. tapi sayang nya waktu tidak bisa diputar. . . ia dan papahnya begitu sibuk untuk sekedar berlibur dan hal itu yang menyadarkan Elang bahwa uang dan kekuasaan bukanlah segala-galanya. . .
ia sebenarnya jarang sekali berlibur, sebelum menikah dengan Mila pun pada hari minggunya ia memilih bekerja. . . maka dari itu ia ingin memanfaatkan waktunya untuk kenangan indah bersama keluarga kecilnya..
"mas" Mila melihat Elang yang melamun
"mas" panggil nya sekali lagi
baru Elang menyadari sosok wanita yang seperti malaikat tanpa sayap baginya. . . bibirnya langsung melengkung sempurna meskipun wajah nya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena saat ini ia benar-benar rindu sosok papahnya.
"kamu kenapa?" tanya Mila yang menyadari raut wajah Elang tidak seperti biasanya.
Elang menggenggam tangan Mila yang baru duduk disebelahnya, "gapapa, aku cuma kangen sama papah aja"
kini Mila paham bagaimana perasaan suaminya, ia menyandarkan kepalanya di bahu Elang "papah udah bahagia disana" ucap Mila menunjuk indahnya senja di langit sore ini.
"iya papah sama Oma pasti lagi tersenyum lihatin kita" Elang mengusap rambut Mila
obrolan mereka terhenti ketika mendengar teriakan "daddy. . ." suara anak kecil yang baru saja bangun dari tidurnya.
Mila segera berlari menuju kamar nya, lalu merengkuh tubuh anak kecil itu dalam pelukannya. "anak ganteng udah bangun ya, sama Tante ya" ucap Mila , karena Mila membiarkan Erfan leluasa berdekatan dengan Sabrina . . .jadi ia yang menjaga Exel.
Mila membawa Exel mengahampiri Elang yang berada di balkon, Exel dengan mata ngantuknya masih setia memeluk Mila dengan erat. . .
__ADS_1
ia anak yang pendiam tidak banyak bicara, begitu lah anak-anak ketika tumbuh hanya bersama ayahnya, seketika hati Mila seperti teriris mengingat itu .
"sini pangku om" pinta Elang dan Exel mengangguk i nya ia sudah lumayan dekat dengan Elang.
Elang mengelus pipi kecil itu. . .
bibirnya , matanya, sama persis dengan retta . . ibu kandungnya, batin Elang . . Elang sendiri belum berani cerita kepada Mila bahwa ia mengenal ibu kandung Exel. karena Antoni sudah mengingatkan Mila sangat sensitif terhadap retta.
"Exel mau makan apa?" tanya Mila
Exel hanya menggelengkan kepalanya. . .
bersamaan suara ketukan pintu dikamar mereka tok. . tok. .
Mila lalu berdiri menuju pintu...
dan anak polos itu mengangguk dengan bersemangat.
"besok kita beli es krim oke. . tapi Exel makan dulu"
"tapi nanti dimarahin Tante kalo makan es krim" celoteh nya yang masih bisa dimengerti oleh Elang.
"Tante kamu urusan om" seringai Elang,
"horeeee" Exel bertepuk tangan riang... karena jarang sekali ia bisa makan es krim, Oma nya selalu melarang apalagi tantenya sangat posesif. erfan pun tidak berani menentang kedua wanita itu.
__ADS_1
Mila membuka pintu kamarnya dan mendapati perempuan yang tersenyum dibalik sana
"kak brina"
"Exel udah bangun belum mil, kakak udah buatin sup buat Exel..."
Mila tersenyum bahagia "udah kok kak, mas....." teriaknya dan Elang segera masuk kamar menggendong Exel.
"Exel makan dulu sama bu . . .bunda ya"
Sabrina pun terbelalak mendengar perkataan Mila "mil" ucapnya lirih
"hehe gapapa kak daripada panggil nya bu guru , kan ini nggak lagi disekolah"
"Exel mau panggil buguru ,bunda" ucap anak kecil itu dan semua mata langsung menoleh kearahnya.
Sabrina tersenyum "iyaa boleh, tapi makan dulu ya, ayo" Elang menyerahkan Exel pada brina...
"bunda masak apa?" tanya anak kecil itu dan lagi-lagi membuat semua mata disana iba, Sabrina pun merasa kasihan pada anak kecil yang tidak bersalah ini , ia mendengar semua kejadian rumah tangga Erfan. karena Mila maupun erfan sudah bercerita semua padanya.. Sabrina menggendong berlalu dari sana. . .
dan dengan melihat kejadian tadi berhasil membuat buliran bening lolos dari mata Mila begitu saja, ia menutup pintu lalu bersandar pada pintu yang sudah tertutup. . . dadanya benar-benar sesak mengingat Exel yang begitu kecil namun sudah tidak memiliki sosok ibu, kini mungkin air mata bahagia yang jatuh dari pipinya. . .ia senang melihat kedekatan Sabrina dengan Exel dan kakaknya.
Elang yang masih berdiri disana pun mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya "sini" ucapnya lalu memeluknya erat ketika Mila sudah mendekat.
**yuk. .yuk. . author semangat nulisnya, kalian semangat votenya hehe ๐๐๐
__ADS_1
Semangat seninnnn๐ณ**