
Elang dan Mila duduk di bangku taman rumah sakit itu, dibawah pohon dengan angin yang melambai lambai menyibakkan rambutnya . . .
Mila membuka kotak obat yang sudah ia minta dari pihak rumah sakit, karena Elang kekeh tidak mau diobati siapapun kecuali dirinya.
Elang meringis saat merasakan perih ditangannya yang sedang dibersihkan.
"sakit ya?" tanya Mila dengan mata sembabnya karena terlalu banyak menangis.
Elang menggeleng "aku cukup kuat hanya untuk luka yang seperti ini" jawabnya ambigu, lebih tepatnya sakit ditangannya tidak sebanding dengan sakit hatinya saat ini..
melihat Mila yang berada di dekapan Renaldi, terasa hatinya hancur berkeping-keping. . .
"kamu abis ngapain sih mas, sampe kayak gini?" tanya Mila yang sedari tadi memang tidak menanyakan sebab tangan Elang terluka.
"abis jatuh tadi" ucap Elang santai
"nggak masuk akal tau!, masak jatoh lukanya kayak gini!" ucap Mila tak percaya
"ada masalah sedikit dikantor tadi yang bikin aku emosi" ucap Elang.
"terus kamu nonjok apa tadi?" tanya Mila sambil mengobati luka suaminya.
"meja kaca"
Mila mendengus kesal "kenapa kalo kamu keselnya sama orang lain terus melukai dirimu sendiri mas"
"udah aku tonjok kok tadi"
"hah?!" Mila bingung dengan jawaban Elang.
tonjok, apakah orang yang membuatnya kesal adalah Al?. . . apakah Elang sudah mengetahuinya?.
"udahlah nggak penting, gimana keadaan kak Erfan?" ucap Elang mengalihkan pembicaraan.
"tangannya patah, tapi sebentar lagi sadar kok kata dokter" Mila memejamkan matanya sejenak menghela nafas panjangnya..
Elang meraih kepala Mila agar bersandar di pundaknya. . .
tenang. . damai. . aman. . . yang Mila rasakan saat ini.
"mil. . . " panggil Elang mengusap halus rambut Mila
"iya mas" jawab Mila yang masih memejamkan matanya.
"apa pundak ku kurang nyaman untuk bersandar, apa pelukan ku masih kurang menenangkan untuk mu" tanya nya.
Mila mendongak menatap lekat suaminya. . .
"mas maafin aku ya, tadi itu cuma-"
__ADS_1
"ssssstttt" Elang menaruh jari telunjuknya pada bibir mungil Mila.
"nggak papa aku ngerti kok , kamu pasti syok banget ya" ucap Elang
Mila mengangguk kan kepalanya "maaf karena membiarkan orang lain menyentuhku".
"sekali ini saja , lain kali aku akan benar-benar mematahkan tangan siapapun yang berani menyentuh mu" sahut Elang dengan nada serius.
"tapi mas, tetap saja kamu harus meminta maaf. . . dia kan temanmu".tutur Mila
"untuk apa?, dia kan tadi sudah minta maaf"
"mas jangan gitu dong, kan kamu udah nonjok dia" ucap mila.
"jadi kamu lebih bela dia daripada aku" ucap Elang dengan nada kekecewaan, cemburu buta memang sudah membuat nya tidak bisa berfikir dengan jernih.
"aku nggak belain siapa-siapa mas, tapi aku pengen suami aku berjiwa besar . . . meminta maaf bukan berarti salah, meskipun perbuatan mu memang tidak bisa dibenarkan".
"cukup mil, kuping aku sakit dengerin kamu bela Renaldi Mulu" Elang menarik tangan Mila "ayo lihat kak Erfan".
Mila terus mengikuti langkah kaki suaminya, rasa cemas takut bercampur menjadi satu saat Elang memilih diam seribu bahasa karena perdebatan kecil tadi.
saat ini mereka sedang berada di ruangan kakaknya yang masih menutup matanya, mereka menunggu dengan keheningan. . . karena Elang sedari tadi memilih untuk diam disofa sibuk dengan tabletnya. . . ia mencoba bekerja dengan profesional, meskipun perasaan nya tak karuan saat ini, tapi tumpukan pekerjaan sudah menunggu nya.
sedangkan Mila duduk disebelah ranjang kakaknya...
"aw" Erfan meringis saat merasakan ngilu pada tangannya.
"kakak mana yang sakit kak" Mila segera mendekat ke kakanya dengan air mata yang siap tumpah.
dan Elang yang mendengar itu segera mendekat ke arah Mila dan kakaknya. . .
"ini dimana mil?" tanya erfan sambil meringis merasakan sakit.
"hiks ini dirumah sakit, hiks . . kakak abis kecelakaan, kakak gimana sih katanya pergi kok malah disini". Mila mulai menangis lagi melihat kakaknya.
bukannya iba dengan Mila yang menangis erfan malah tersenyum melihat adiknya "kenapa kamu nangis, orang cuma gini doang" ucapnya menenangkan.
"gini doang" ucap Mila mengulangi kata kakaknya yang mengatakan itu dengan entengnya.
"kakak mau aku panggilin dokter" sahut Elang.
"nggak usah , nanti aja. . . makasih ya udah nemenin Mila" ucap Erfan
"kan udah kewajiban aku kak, kakak kan kakak aku juga" sahut Elang
"bukannya gitu Lang, dia tuh kalo ada orang sakit lebay banget pasti nya" ucap Erfan menunjuk Mila dengan dagu.
"tuh kan , nyesel aku nangisin kakak" ucap Mila mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"la abisnya kakak yang sakit kamu yang yang nangis" ucap erfan.
"udahlah kak, lagi sakit jangan ngajakin ribut mulu. . . gimana mamah sama papah aku kasih tau atau enggak" tanya Mila.
"nggak kamu kasih tau pun sebentar lagi mereka akan kesini, jangan lupa mata-matanya dimana-mana" ucap Erfan.
ceklek. . .
baru dibicarakan mereka sudah datang, mamahnya menangis menghampiri Erfan dan pak Mawardi yang berada di belakangnya menyapa Elang dan mila.
"fan kenapa kamu bisa kayak gini sih? hiks kenapa kamu ninggalin mamah hiks hiks. . . Exel butuh kamu" ucap mamahnya menangis tersedu-sedu melihat kondisi anaknya.
"maafin Erfan mah, ini mungkin memang hukuman untuk Erfan karena durhaka sama mamah".
"tuh kan kamu nurut aja sama mamah, kamu nggak boleh kemana-mana"
"maaf mah , aku hanya sedang memperjuangkan seseorang yang aku cintai dan aku harap menjadi ibu dari anakku".
mamahnya terdiam seribu bahasa. . .
"papah mau bicara sama dokternya dulu nanyain kondisi kamu fan" ucap pak Mawardi tiba-tiba.
DEG. .
"mamah juga pengen tahu keadaan erfan pah"
DEG. .
Mila sungguh panik bukan main, "mah, biar Mila aja yang temenin papah. . . mamah jaga kak Erfan aja disini" ucap Mila, ia tidak mungkin membiarkan mamahnya bertemu dengan Al.
"biar aku aja yang temenin papah" ucap Elang mencoba untuk tenang.
"udah-udah kok ribet banget sih, dokternya aja suruh kesini" mamah Mila menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
"mah. . " ucap Mila yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi...
.
.
.
**Segini dulu gaesss usaha aku hehe. . .
terimakasih atas dukungannya ya. . .
yang sudah like komentar dan vote makasih banyak pokoknya, jangan bosen ya hehe**💋💋💋
Mau sekalian promosi novel aku satunya "Bartender cantik ku"
__ADS_1