
kini tinggal Al, Erfan dan juga kedua orang tuanya yang berada di ruangan itu. Erfan menceritakan semuanya tentang kondisi Mila termasuk psikis nya selama ini.
mamahnya menangis tersedu-sedu mendengar semua perkataan Erfan. ia memukuli pelan bahu pak Mawardi.
"pah kita gagal pah, kita gagal menjadi orang tua" ucapnya disela tangisnya.
"kenapa dia selalu membentengi dirinya dengan topeng sekeras itu fan, papah bahkan tidak pernah melihatnya menangis" ucap pak Mawardi yang menahan sesak di dadanya.
"Erfan hanya tau tentang psikis nya akibat bullying pah, dan Erfan tidak menyangka kalau selama ini ia merasa papah sama mamah tidak adil" ucap Erfan dengan keputusasaan. ia kira selama ini selalu menjadi tameng yang kuat untuk Mila, namun ia salah justru dirinya yang menyebabkan adiknya menderita.
pak Mawardi menatap Al yang sedari tadi terdiam,
"nak Al terimakasih selama ini sudah berada di samping Mila, dan maafkan kesalahan keluarga saya"
Al mengangguk dan mengulas senyum nya.
mamah mila mendekati Al dan langsung berjongkok. "Tante jangan begitu" Al membantu mamah Mila berdiri meskipun ia tetap meronta-ronta.
"maafkan Tante, Tante pantas bersimpuh di hadapanmu. . . karena dosa Tante yang begitu besar ini"
"tidak Tante Al selalu memaafkan Tante dan om tidak perlu sampai seperti ini, yang lalu biarlah berlalu" ucap Al yang masih memegangi kedua bahu mamah Mila.
"Al kenapa kamu nggak ngomong semua ini dari dulu kenapa hiks. . . mungkin kalo kamu berbicara tentang ini dulu Tante akan berfikir kembali untuk merestui hubungan kalian" ucap mamah Mila terisak.
"mohon Tante jangan berbicara seperti itu , kami memang tidak berjodoh. . . dan saya yakin Elang beribu kali lipat lebih baik dari pada saya" ucap Al
mamah Mila memeluk Al dengan erat, merasa kesalahan nya pada Al tak terbendung lagi dan tak termaafkan. "maafkan Tante" ucap nya disela-sela tangisnya.
setelah permohonan maaf memaafkan yang begitu lama Al keluar dari ruangan itu bersama erfan yang hendak mengurus pernikahan nya , ia berlapang dada untuk semua itu . . .
tidak ada yang harus disesali , semua sudah ditakdirkan seperti ini. . .
.
.
.
Mila mengerjapkan matanya perlahan, dan melihat jam diruangan itu menunjukkan pukul delapan malam, lampu pun sudah berganti dengan keremangan. sungguh hari ini adalah tidur terpanjang nya. ada kelegaan tersendiri di hati nya setelah meluapkan apa yang ia simpan rapat-rapat selama ini.
ia merasa sudah tidak ada yang mengganjal lagi dihatinya.
Mila hendak bangun ,namun ia urungkan ketika mendengar pintu yang terbuka. . . ia memejamkan matanya lagi saat melirik sekilas siapa yang datang.
__ADS_1
Elang. . .
dari kejauhan pun parfum nya sudah merebak kemana-mana
Elang mendekati Mila lalu duduk diranjang menatap Mila dengan mata yang menunjukkan penuh rasa kekhawatiran. ia tentu tahu semua tentang Mila.
ia membawa tangan Mila dalam genggamannya, mengecup nya sekilas lalu mendekat kan bibirnya pada telinga Mila "cepat sembuh ya sayang, im really Miss you" ucap nya pelan.
lalu dikecup nya kening Mila penuh sayang, beralih pada perut buncit itu "nak kamu pasti kangen ya sama Papii. . . sabar ya Papii pasti akan berusaha mendapatkan hati Mamii kamu, tunggu sampai Mamii sembuh ya" Elang mengusap-usap perut Mila persis seperti apa yang ia lakukan setiap malam sebelumnya.
entah sudah berapa jam Elang tidak mengubah posisi nya sama sekali tangan nya masih setia menggenggam erat tangan Mila dan memandangi wajah cantik itu.
ceklek. . .
ia menoleh saat pintu ruangan itu terbuka, terlihat kedua mertuanya menghampiri nya.
Pak Mawardi menepuk pelan pundak Elang "sudah malam pulang lah beristirahat lah, kamu bahkan belum mandi" ucap Pak Mawardi mengamati penampilan Elang yang masih mengenakan jas kantor yang sedikit acak-acakan.
betapa menunjukkan dirinya bukan apa-apa tanpa Mila disisi nya. . .
Pak Mawardi tahu betul, Elang gila kerja akhir-akhir ini. . selalu pulang saat Mila sudah terlelap, yah tapi ia tidak pulang ke rumahnya melainkan kamar sebelah istrinya di rumah sakit itu.
Elang mengangguk "titip mereka berdua ya pah, Elang pulang sebentar ganti baju abis itu kesini lagi".
"Elang pamit ya mah" Elang bergantian mencium tangan mamah Mila.
"hati-hati Lang udah malem, kalo kamu capek dirumah aja. . . nanti kalo ada apa-apa mamah kabari".
Elang tersenyum kecut "aku tidak bisa jauh dari mereka mah" ucap Al mengalihkan pandangannya ke mila.
mamah Mila hanya mengangguk lalu memeluk Elang yang terlihat hancur tanpa anaknya.
Elang lalu pergi dari sana dengan langkah yang amat berat...
setelah Elang menutup pintu itu beberapa saat Mila membuka matanya. mamah Mila mendekati anaknya "sayang gimana? , ada yang sakit?" tanya mamahnya khawatir.
Mila menggelengkan kepalanya lalu mengusap perutnya tidak bisa ia pungkiri ia sangat merindukan suaminya begitu juga dengan anaknya.
"mau buah?" tanya mamah nya dan dibalas anggukan oleh Mila.
"Mila. . " ucap pak Mawardi begitu serius, Mila tentu sudah paham apa yang akan dibicarakan oleh papah nya.
"pah nggak udah merasa bersalah, Mila udah lama sembuh kok. . . mungkin kemaren cuma kecapekan aja" elak Mila
__ADS_1
mamah Mila mengupas kan buah dengan tangan yang terus bergetar menahan tangisnya. pak Mawardi mendekati Mila lalu memeluknya erat "maafkan papah nak, maafkan papah. . . papah nggak bermaksud seperti itu" pak Mawardi meneteskan air matanya "maafkan papah, papah nggak tahu kamu kayak gini mil" papahnya menangis tersedu-sedu.
Mila memejamkan matanya bersamaan dengan air bening yang keluar begitu saja "Mila nggak apa-apa pah, maaf ya tadi kebawa emosi aja".
"jangan menutupi nya lagi mil, papah semakin merasa bersalah" Mila menumpahkan tangisnya pada pelukan papahnya.
cinta pertamanya yang tidak akan tergantikan. .
mamahnya menangis lalu ikut memeluk anak dan suaminya, mereka bertiga menangis tersedu-sedu.
orang tua Mila bisa merasakan betapa putri nya yang selalu dianggapnya tegar malah aslinya lemah tak berdaya, dan selalu berlapang dada atas ketidakadilan yang mereka berikan.
Mila tidur di tengah-tengah papah dan mamahnya, meskipun ranjangnya menjadi sangat sempit tapi ini adalah kebahagiaan yang tak tergantikan.
papah dan mamah nya memeluknya begitu erat.
"udah lama banget ya kita nggak tidur begini" ucap Mila memecahkan keheningan.
"papah juga baru sadar kalo putri papah udah sebesar ini"
Mila mencebikkan bibirnya "iya lah besar, papah nggak lihat Mila mau jadi ibu" ucap Mila mengusap perutnya.
"iya-iya yang mau jadi orang tua" ucap pak Mawardi dengan nada bercanda nya.
"nanti pokoknya kalo kamu lahiran mamah yang ngurusin semua kebutuhan kamu dan kamu harus tinggal di rumah" ucap mamahnya
Mila mengangguk "Mila juga maunya gitu, masih canggung kalo dirumahnya mamah mertua".
"senyaman kamu saja nak, kami akan selalu mendukung apapun yang kamu inginkan mulai dari sekarang" ucap papahnya.
Mila mengangguk lalu memeluk papah nya dan mamahnya memeluk Mila dari belakang "maaf ya mah, kalo nggak miring nggak enak hehe"
"iya sayang"
kenapa kebahagiaan ini tidak dari dulu orang tuanya berikan . . . .
.
.
.
**haloo semuanya balik lagi ya hahaha. . . maafkeun up nya kelamaan. bantu naikin rank lagi ya...
__ADS_1
lopeyuall 💋💋💋💋💋**