Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Menghilang


__ADS_3

Mila mengusap air matanya, mengingat ini adalah yang pertama kalinya ia meninggalkan Gemilang untuk jarak yang cukup jauh.


Sedangkan Elang berjalan mengekori Mila dengan dua koper besar ditangannya, ia tahu jika punggung wanita itu sedang bergetar.


Karena mereka datang lebih awal daripada jam penerbangan, mereka harus menunggu terlebih dahulu.


Mila duduk sendiri dengan isakan tangisnya, sedangkan kemana laki-laki yang sedari tadi ia abaikan itu. . . entahlah ia tidak perduli, sekarang yang mengganjal di hatinya adalah berat untuk meninggalkan putra tampannya.


"minum dulu" ucap Elang yang baru datang ia menyerahkan sebotol air mineral beserta tissue kecil.


"terimakasih" ucap Mila dengan buru-buru menghapus air matanya.


"sini aku bukain" ucap Elang merebut air kemasan itu, kemudian menyerahkan kembali pada Mila setelah tutupnya berhasil terbuka.


Mila meneguk air itu hingga menyisakan separuh saja, "mas aku nggak bisa tinggalin Gem" ucap Mila yang membuat Elang keheranan.


"dia baik-baik aja, udah ada mamah kok"


"tapi gi gimana kalo nanti dia nyari aku hiks"


Elang membawa Mila kepelukan nya, Mila sudah sangat drama semenjak tadi pagi, padahal Gem anak itu dengan santainya ikut melambaikan tangannya ketika ia dan Mila pergi. .


Seolah merestui kedua orangtuanya untuk berduaan saja.


"udah jangan nangis, orang mikirnya aku apa-apain kamu nantinya" ucap Elang karena tampak semua orang menoleh kearahnya, tetapi jika dilihat mereka seperti sepasang kekasih yang akan berpisah jauh.


.


.


.


Sepanjang perjalanan Elang terus menerus memandangi wajah cantik istrinya yang terlelap dengan mata sembabnya, ia semakin merasa bersalah karena telah memisahkan ibu dan anak itu.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di resort mewah di negara Singa.


"loh, kok nggak di hotel?" tanya Mila bingung, karena setahunya resort ini lumayan jauh dari rumah sakit.


"udah , kita makan siang dulu abis rumah sakit" ucap Elang menggenggam tangan Mila yang masih terdiam mematung.


"kamu emang biasanya nginep disini kalo checkup ?" tanya Mila begitu heran.


"Hem".


Elang menyuruh karyawan resort itu untuk membawa kopernya ke kamar mereka, sedangkan ia dan Mila bergegas menuju restoran yang tidak jauh dari lobby.


"kenapa nggak langsung ke rumah sakit dulu aja" gerutu wanita cantik yang saat ini duduk berhadapan dengan Elang. bahkan Mila tidak pernah tersenyum sedari tadi.


"abis ini aja , kan jarak ke bandara deketnya kalo kesini" ucap Elang memasukkan potongan daging dalam mulutnya.

__ADS_1


"oh iya ya".


Setelah makan siang tidak ada obrolan diantara keduanya, Mila berkali kali menelpon mertuanya untuk menanyakan keadaan anaknya yang katanya anteng.


"mas mandi dulu Ayuk, ke kamar aja" ucap Mila karena sudah merasa badannya lengket.


"ke rumah sakit dulu aja!"


"yaudah deh" ucap Mila cuek, entah mengapa ia sangat kesal pada Elang yang semaunya sendiri.


sudah mengajak kesini secara mendadak, pilih resort yang sangat jauh dari rumah sakit, ah pokoknya ia sangat kesal.


.


.


.


Hampir satu jam mereka menempuh perjalanan ke rumah sakit terbesar di negara itu, karena mereka sudah membuat janji dengan dokter, jadi mereka langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan dokter itu.


Dokter yang mengenakan kacamata tebal itu tersenyum ramah pada mereka.


"istrinya pak Elang ya?" tanya dokter itu memandang Mila. (dalam bahasa Inggris ya)


"iya dok" jawab Mila.


"cantik" ucapnya yang membuat Elang mendelik kesal, apalagi dokter yang menanganinya tergolong masih muda.


Dokter itu menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Elang yang seluruhnya sudah benar-benar membaik, namun ditengah-tengah pembicaraan nya Elang tiba-tiba berdiri.


"aku mau ke toilet dulu ya mil" ucapnya memegang perutnya yang terlihat mulas.


"iya" ucap Mila yang masih penasaran oleh apa yang akan dikatakan dokter selanjutnya.


"jadi begini Bu Mila, ini termasuk keajaiban seluruh otak pak Elang benar-benar kembali seperti semula dalam waktu yang cukup singkat, karena biasanya orang yang mengalami kondisi seperti pak Elang ini cukup lama sembuhnya".


jelas dokter panjang lebar sembari menunjukkan foto Rontgen.


"jadi kapan suami saya bisa kembali mengingat?" tanya Mila begitu serius, namun ia jengkel ketika dokter itu malah tersenyum.


"mungkin dalam waktu dekat ini, itu sendiri pun tergantung dari kemauan pak Elang untuk mengingat kembali semuanya".


Mila menghela nafas beratnya "saya sungguh sangat lelah dok" ucapnya sedikit mengeluarkan unek-uneknya.


"pasti akan ada hal indah dibalik ini semua Bu".


Mereka sudah mengobrol dalam waktu yang lama, namun Elang belum juga kembali, Mila melihat jam dipergelangan tangannya.


"sudah hampir satu jam dok, sudah petang saya pamit dulu. . . mungkin suami saya sudah menunggu dibawah" ucap Mila yang berpamitan dengan dokter itu.

__ADS_1


.


.


.


Mila sudah mencari ke seluruh kamar mandi rumah sakit ini, namun Elang tak kunjung ia temukan, sudah satu jam lamanya ia mencari dan terus mencari namun hasilnya nihil.


Sebenarnya, kemana suaminya itu mengapa hilang tiba-tiba begini. . .


ia sangat lemas, berfikir yang tidak-tidak dengan suaminya . . akhirnya dengan langkah gontai nya ia menuju parkiran menghampiri supir yang tadi mengantar nya.


Hari sudah semakin menggelap bintang-bintang pun sudah bertebaran diatas sana. . .


"bapak tadi tidak melihat suami saya" ucap Mila yang terus menggenggam ponselnya, nomer Elang tidak aktif begitu saja.


"tidak Bu" ucap pak supir.


Mila menghela nafasnya menahan agar air matanya tidak terjatuh. Di dalam hatinya ia menguatkan dirinya sendiri dan menyakinkan dirinya bahwa Elang baik-baik saja.


"ayo pak kembali ke resort" ucap Mila dengan lemas, meskipun tidak mungkin tapi siapa tahu Elang sudah pulang terlebih dahulu. Tapi ia juga sudah menyuruh orang untuk mencari Elang di sela-sela rumah sakit.


"baik Bu".


Ternyata air mata yang sedari ia tahan justru malah luruh dengan derasnya saat ia menatap sekeliling kota ini.


Turunnya hujan saat ini seolah menambah keinginan nya untuk menangis lebih kencang bersama derasnya hujan.


Dimana masku?


Mila sudah tidak perduli lagi dengan tatapan orang-orang yang mungkin menatapnya dengan tanda tanya , ia terus berlari sambil menangis terisak menuju kamar yang telah dipesan suaminya


Tangannya bergetar ketika menyentuh handle pintu kamar itu, bagaimana jika Elang tidak berada disana. .


Harus mencari kemana lagi dirinya?


ia memberanikan diri untuk membuka kamar itu, gelap dan gulita menyelimuti seluruh ruangan yang belum pernah Mila masuki ini.


"mas" panggil nya dengan suara yang bergetar.


"mas kamu dimana. . hiks. . hu hu hu. . .huuuuaa" ia menangis begitu pilu saat tidak ada sahutan dari sana.


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE YA GAESSS. 💋💋💋

__ADS_1


INI TUH BENAR-BENAR MAU END YA, NANTI KAN KISAH SELANJUTNYA DI NOVEL TERBARUNYA GEMILANG


__ADS_2