Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Terungkap ~ 9


__ADS_3

"Pelan-pelan mah." Zeze membantu mamah untuk turun dari mobil. Siang ini mamah sudah boleh pulang dengan syarat harus istirahat dulu, dan tidak melakukan aktivitas berat lainnya.


Zeze membantu mamah untuk berjalan memasuki rumah. Mamah tampak mengedarkan pandangannya mencari sesuatu. Zeze tersenyum kecil karena itu.


"Kak Royan pulang pagi banget tadi, soalnya ada meeting sama kak Elang." Zeze paham betul apa yang tengah dipikirkan oleh mamah.


"Siapa yang nanya sih Ze." Mamah tiba-tiba mendahului langkah kaki Zeze.


Semenjak tadi malam mamah sudah lumayan luluh dengan Royan. Meskipun masih dingin, namun ia tidak menolak saat Royan membantunya untuk ke kamar mandi.


"Zeze yang nanya," menyusul langkah kaki mamahnya dan tersenyum.


Tiba-tiba langkah kaki mamah terhenti. Zeze segera mendekat.


"Nanti malam Reza dan orangtuanya akan kesini." Zeze masih mematung mendengar kata-kata itu, ia pikir mamahnya sudah sedikit suka dengan Royan.


"Mah.." ucap Zeze pelan.


"Ini untuk masa depan kamu, Ze." Melangkahkan kakinya meninggal Zeze yang masih tercengang.


"Masa depan semenakjubkan apa yang mamah inginkan." Lirih Zeze dengan bibir yang sudah bergetar.


.


.


.


"Farmasi lengkap!" Teriak Royan nyaring, dengan tangan yang menggebrak meja.


"Apaan sih mbing, kaget gue!" Tino yang sedang minum sampai kopinya tumpah pada celananya. "Sial," umpatnya lagi.


Ditengah-tengah keramaian kafe semi bar ini, empat laki-laki tampan itu tampak duduk melingkar.


"Mau ngomong apaan cepat, waktu gue terbatas." Elang berucap sembari meraih sepotong kue di atas meja.


"Ayo, dua jam lagi aku ada operasi nih." Al masih sibuk dengan ponselnya, meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk Royan yang katanya butuh solusi.


"Gue butuh bantuan kalian." Royan menampilkan senyuman liciknya.


"Aw," pekik nya saat tiba-tiba merasakan tonyoran di kepala.


"Nggak pantes lo akting jahat." Tino terkekeh melihat raut wajah Royan yang kesal.


"Kalau lima menit lagi nggak ngomong juga, bayar sendiri semua makanan ini." Ancam Elang yang sibuk mengunyah, ia rela pulang lembur langsung kesini hanya karena si kambing sialan.


"Iya-iya. Sobat nggak ada akhlak semua, udah tau temannya lagi susah.." ucap Royan terpotong ketika Al tiba-tiba berdiri.


"Iya gue ngomong, bangsad!" Sembur Royan menahan Al untuk kembali duduk.


"Gue minta kalian bantuin gue cari tahu tentang Reza Atmaja. Ada kejanggalan setelah seharian gue ngikutin dia." Royan menghela nafasnya, mengingat kali ini rivalnya bukan orang yang mudah.

__ADS_1


"Kenapa?" Elang mengangkat sebelah alisnya, setahunya Reza adalah orang yang baik dan tidak macam-macam.


"Pertama, rumah Reza aneh. Gerbang rumah tinggi banget, sampe-sampe rumahnya nggak kelihatan. Terus, anehnya lagi dia ganti mobil tiga kali selama satu hari."


"Orang kaya mah biasa mbing." ucap Al sembari meneguk kopi favorit miliknya.


"Bukan gitu, dia selalu ninggalin mobilnya di tempat yang berbeda."


"Sebenernya gue juga ngerasa gitu." Elang tiba-tiba menjadi serius. "Sudah beberapa kali gue lihat kemejanya ada bercak darah. Mungkin kalo itu Al gue nggak masalah, tapi Reza pengusaha, bukan dokter."


Royan mengangguk. "Nah bener kan, dia terlalu misterius Lang."


"Oke, kita suruh orang aja buat nyelidikin dia." Tino memberi saran.


"Jangan, kita turun tangan sendiri saja. Dan mungkin hanya lo yang bisa masuk ke rumahnya Lang." Sahut Royan.


"Jangan, terlalu berbahaya."


"Eh... siapa namanya tadi." Al tampak memegang ponselnya dengan mata yang membelalak.


"Reza Atmaja, pengusaha muda tanpa harta orang tua." Jelas Tino terkekeh.


"Ini orangnya," tanya Al memperlihatkan layar ponselnya.


"Iya itu." Royan merebut ponsel Al, karena nama Reza terpampang pada salah satu kabar berita.


Reza Atmaja, pengusaha muda kaya raya ditangkap polisi malam ini.


Masih ingat sosok Teo Wijaya, pengusaha tambang yang hilang beberapa hari lalu. Kini ditemukan tewas di rumah Reza Atmaja, pesaing bisnisnya.


Masih banyak judul yang membuat mereka berempat terdiam dan saling berpandangan.


"Sepertinya, Reza mendekati Zeze karena ingin melenyapkan kamu diam-diam Lang." Al menatap khawatir, untung saja belum sampai Reza masuk ke keluarga Elang. Karena saat ini Elang Group berada di posisi paling kuat dalam dunia perbisnisan.


"Sialan!" umpat Royan mengepalkan tangannya.


Elang mencoba meredam emosinya. "Ayo kerumah Zeze sekarang." Berdiri begitu saja dan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.


Ia sangat menghawatirkan Tantenya dan juga Zeze. Karena malam ini ada acara makan malam bersama keluarga Reza.


.


.


.


Dengan satu mobil, mereka menuju rumah Zeze. Royan tidak berhenti mengumpat sejak tadi.


"Sabar kambing!" Seru Tino yang tengah mengemudi, merasa kesal karena Royan terus menyuruh dirinya untuk mempercepat kemudinya. "Gue masih mau hidup ya."


"Tenang aja, kan kalau ada apa-apa disini ada dokter Al." Timpal Royan mencoba untuk tenang.

__ADS_1


"Lo bener-bener nggak waras ya. Gimana kalau Al malah yang lukanya paling parah kalau kita kecelakaan." Elang yang barada di bangku depan begitu kesal karena perdebatan mereka.


"Kamu nyumpahin aku Lang!" Al membelalakkan matanya tidak percaya dengan perkataan sahabat-sahabatnya yang semakin melantur.


"Nggak ada yang waras memang." Dengus Al kesal menatap para sahabatnya yang malah tertawa di keadaan segenting ini.


.....


Royan menuruni mobil dengan terburu-buru, mengetuk pintu rumah begitu kasar.


"Ze!"


"Jangan teriak-teriak," ucap Tino kesal.


Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok cantik yang sudah mengenalkan pakaian tidurnya. Wajahnya tampak mengantuk sehabis bangun tidur.


"Kamu nggak papa kan." Royan memeluk Zeze dengan erat, begitu takut sesuatu terjadi padanya.


Zeze mengangguk, mengusap-usap punggung Royan. "Zeze sudah tahu kok kak, tadi orang tua mas Reza masih disini waktu berita penangkapan mas Reza muncul di TV. Mas Reza tidak bisa datang karena ada urusan penting, dan orangtuanya begitu terkejut dengan berita itu."


"Syukurlah," ucap Elang lega.


"Mamah kamu mana Ze?" tanya Al tidak mendapati wanita paruh baya yang baru saja sembuh itu.


"Lagi tidur kak, mamah tidak mempermasalahkan semuanya kok. Justru malah bersyukur karena tahu kebusukan mas Reza selama ini." Zeze tersenyum kecil menatap Royan.


"Dan mamah nyuruh kakak besok untuk kesini."


Royan terperangah mendengarnya, "Serius?" tanya nya tak percaya.


"Iya, jangan lupa bawa martabak manis ya." Zeze tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Wah, selamat mbing!" Seru Tino memeluk sahabatnya.


"Gue percaya lo bisa jagain Zeze." Elang menepuk pundak Royan yang tersenyum lebar.


"Yah, bakal ada yang sold out lagi. Aku jomblo sendirian." Al memasang wajah cemberutnya.


"Lo udah pernah nikah, sialan." Tino bergantian memeluk Al. "Tenang aja, gue bakal cariin jodoh buat lo."


Mereka semua terkekeh melihat Al yang menggelengkan kepalanya. Kenalan Tino mana ada yang beres.


.


.


.


Untuk vote sama hadiahnya di novel aku yang judulnya "Bartender cantiku" saja ya. Daripada disini sia-sia.


FOLLOW IG AKU YA GAESSS @BLUESKYMA1 💋

__ADS_1


__ADS_2