
Mila membawa Gemilang untuk mendekati Al dan Jen yang baru datang, sedangkan Elang masih diam mematung melihat gadis mungil itu.
Pikirannya sungguh tak karuan, menikah di umur berapa ia, sehingga saat ini sudah memiliki dua anak. . . itu pertanyaan yang muncul dibenak nya.
"Pap gendong Jen dong, Jen kangen sama Papii" ucap Mila pada Elang yang terus terdiam.
Dengan ragu Elang membawa Jen dalam pangkuannya, ia menatap manik kecil yang terus memeluknya dengan erat itu.
kenapa tidak mirip denganku ataupun dia. batin Elang memperhatikan Mila dan Jen secara bergantian.
"Gem sini gendong Ayah" ucap Al mengambil Gemilang dari gendongan Mila.
"koh" gerutu Mila , karena jika Elang sudah mengingat kembali, ia akan marah besar jika Al mengajari Gem memanggilnya Ayah.
"tenang saja mil, laki-laki posesif ini sedang tidak mengingatnya" ucap Al terkekeh.
Elang hanya terdiam dan menatap penuh tanda tanya pada Mila, Mila mendekati Elang lalu duduk berjongkok untuk mencium puncak kepala Jen.
"nanti aku jelasin mas" ucap Mila mengusap pipi Elang, ia sudah tahu jalan pikiran suaminya.
"Mamii , Papii kok diem aja sih" ucap Jen mengerucutkan bibirnya.
"Sayang Papii masih sakit jadi nggak boleh banyak ngomong dulu" ucap Mila membelai rambut Jen.
"gimana mil? , Gem udah mau susu formula" tanya Al yang sibuk dengan bayi mungil itu.
"dikit-dikit koh, tapi dia maunya kalo nggak ada aku , soalnya kalau lihat aku pasti minta ASI Mamii nya" ucap Mila yang beranjak duduk disamping Elang.
"kenapa harus dikasih susu formula" tanya Elang yang sedari tadi terdiam.
"kan aku mau nemenin kamu berobat keluar negeri mas, jadi Gem juga harus dilatih".
"apakah tidak ada orang lain yang menemaniku, lebih baik jangan meninggalkan nya" ucap Elang begitu serius.
Mila dan Al saling berpandangan mendengar itu, mengapa Elang sangat perduli pada Gemilang padahal ia sendiri tidak mengingatnya.
"kalau kamu mau , biar aku yang menemani mu" ucap Al menatap Elang.
"Aku setuju" ucap Elang, mengingat Gemilang yang selalu lengket pada Mila, ia tidak tega jika anak tampan itu harus ditinggal apalagi dikasih susu formula.
"kamu yakin mas" ucap Mila yang begitu ragu, ia takut jika Elang tidak nyaman bersama orang lain.
"iya, lagipula hanya dua hari kan".
"baiklah, kalo ada apa-apa jangan sungkan bilang pada koh Al".
"iya"
.
.
__ADS_1
.
Mila mengemasi beberapa pakaian Elang, dan memasukkan nya ke dalam koper.
Air matanya kembali luruh mengingat Elang akan meninggalkan dirinya, meskipun hanya sementara namun rasa trauma itu terlalu dalam baginya.
Elang yang baru saja dari balkon menghampiri Mila dan duduk dibelakang nya.
"tidak usah banyak-banyak" ucapnya karena Mila seolah memasukkan semua kebutuhan Elang didalam sana.
"iya" ucap Mila menahan isakan tangisnya.
Elang yang merasa aneh dengan suara Mila lalu menengok kearah Mila, dan benar saja Mila sedang menangis.
"ke kenapa menangis?" tanya Elang yang bingung.
namun Mila malah semakin terisak, entah ada angin apa ia sangat ingin sekali memeluk Mila , dan sekarang ia sudah melakukan nya. . . ia memeluk Mila dari belakang.
"berjanjilah untuk baik-baik saja mas" ucap Mila yang beruraian air mata.
"iya"
Beberapa saat dalam keheningan yang melingkupi mereka, hanya suara Isak tangis Mila yang kini sudah perlahan menghilang.
"aku mau tidur" ucap Mila melepaskan pelukannya, dan segera membaringkan tubuhnya.
Elang menyelimuti tubuh Mila lalu ikut berbaring disampingnya , melihat Mila seperti ini mengapa hatinya sangat perih.
"tidurlah" ucap Mila karena Elang terus memandangi nya.
"kamu boleh memeluk ku" ucap Elang yang membuat kening Mila berkerut.
"jika tidak mau yasudah" lanjutnya yang hendak berbalik membelakangi Mila.
Mila yang menyadari hal itu segera merapatkan tubuhnya pada Elang, ia hanya masih tak percaya Elang mengatakan itu. . . Mila membenamkan wajahnya pada dada yang masih sama nyamannya sama kokohnya.
Sesaat kebisuan melanda keduanya, sebelum Elang memberanikan diri untuk membuka suara "anak perempuan tadi siapa?" tanya nya.
"anak kita" ucap Mila , memilih berbohong daripada menjawab beribu pertanyaan selanjutnya. yang sebenarnya dirinya pun bingung. ia menganggap anak mantannya sebagai anaknya sendiri. . . jika orang lain tahu pasti akan berpikir yang tidak-tidak, termasuk Elang yang belum paham saat ini.
"tapi--"
"mas aku lelah, aku ingin tidur" ucap Mila mengeratkan pelukannya pada Elang.
"tidurlah"
"peluk aku" ucap Mila menatap Elang dengan puppy eyes nya.
Elang luluh begitu saja dan memeluk mila yang tersenyum penuh kemenangan.
.
__ADS_1
.
.
Pagi ini Mila sendiri yang mengantarkan Elang ke bandara. ia hanya ingin memastikan bahwa Elang selamat sampai sana.
Tangan yang saling bertautan itu seolah enggan ia lepaskan,ia benar-benar tidak tega melepaskan Elang untuk pergi sendiri dengan kondisi yang seperti ini.
"udah dari tadi?" sapa Al yang baru datang bersama Tino.
"loh kok bisa sama Tino koh?"
"dia minta dianter mil" sahut Tino yang juga menunjukkan raut wajah khawatirnya.
"kalian santai aja, aku bakal jaga Elang kok" ucap Al menatap Mila dan Tino.
"kalo ada apa-apa langsung telfon aja koh".
"iya mil"
"aku duluan ya mil, tin" ucap Al yang sudah berjalan mendahului mereka. "ayo Lang" ucap Al setelah mendengar pengumuman jika pesawat yang akan ia tumpangi akan segera berangkat.
"hati-hati Lang" ucap Tino menepuk pundak Elang lalu memeluknya, dan Elang mengangguk.
Tatapan Elang beralih pada Mila yang matanya sudah berkaca-kaca, "aku berangkat ya" ucapnya menatap nanar pada Mila.
Mila mengangguk bersamaan air mata yang luruh begitu saja, "kamu harus cepat sembuh mas" ucapnya kemudian mencium tangan suaminya.
"iya" ucap Elang kemudian melangkah menyusul Al yang sudah berjalan.
"mas!" panggil Mila yang membuat Elang menoleh. Mila berlari kearah Elang lalu memeluknya dengan erat.
Al pun juga ikut menoleh mendengar suara itu, ia tersenyum kecut dengan tingkah laku Mila.
"aku harus pergi agar cepat mengingat mu" ucap Elang mengusap punggung Mila yang bergetar.
Mila melepaskan pelukannya lalu mengangguk.
Namun matanya membulat seketika saat Elang memberikan sebuah kecupan manis pada kening nya. "aku pergi" ucap Elang menghapus air mata Mila lalu melangkah pergi menyusul Al yang sudah menunggunya.
Sedangkan Mila masih mematung sembari menatap punggung yang kekar itu,
"udah selesai drama nya?" canda Tino mencairkan suasana meskipun tadi ia juga sempat hampir menangis.
.
.
.
Tinggal beberapa episode ya, tunggu sampai Elang sembuh. . .
__ADS_1
Mohon dukungannya ya like komen and vote 💋💋💋