
"Lo nggak makan siang Lang" tanya Tino yang menatap sahabatnya iba, dengan penampilan kacau balau sudah tiga hari ini. . . Elang tidak fokus dengan pekerjaan, dikantor hanya tidur saja karena setiap malam ia tak bisa tertidur memikirkan istrinya. akibatnya Aris lah yang menanggung semuanya.
Elang mengusap wajahnya kasar "mau tidur aja gue". kemudian merebahkan tubuhnya ke sofa.
"duh Lang kalo kayak gini gimana Mila mau milih Lo, yang ada dia jijik". ucap Tino memancing emosi Elang dengan sengaja karena elang tidak bergeming sedikitpun.
"Lo mau bilang penampilan gue kucel kan, tapi sori tin gue masih gantengnya maksimal" ucapnya bangga.
"dengan lingkaran hitam di bawah mata Lo, baju kusut mirip kayak muka Lo dan kharisma di wajah Lo yang redup gini. . . masih yakin elo terlihat ganteng maksimal, cih. . ."
"sial!" umpat Elang.
"hahahaha, mendingan lo rawat tubuh Lo muka Lo , biar Mila makin kesengsem sama Lo"
"Lo pikir itu hal yang penting sekarang" ucapnya frustasi, sebenarnya tiga hari ini ia mengirimkan orang untuk mengawasi Mila dan Al. . . namun orang tersebut juga berada dalam jangkauan Royan yang ikut bekerja sama mengerjai nya. orang itu disuruh mengirimkan foto lama Mila dengan Al, yang membuat Elang semakin kelabakan. padahal selama tiga hari ini Mila dan Al sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Elang beranjak dari tidurnya "gue mau pulang deh tin, mau siap-siap buat besok". ucapnya tiba-tiba meraih jas dan ponselnya.
"masih jam kerja woy!" ucap Tino saat Elang berjalan dengan buru-buru
"bodi amat!"
.
.
.
seperti biasa, pagi ini sebelum bekerja Mila kerumah sakit untuk mengantarkan bubur kesukaan kakaknya, karena Erfan sangat tidak bisa memakan makanan rumah sakit.
Mila dan Erfan duduk disofa bersama. . . ia menemani kakaknya untuk sarapan, gejolak diperutnya tidak bisa lagi ia tahan saat melihat Erfan mengaduk-aduk buburnya yang semakin tak karuan bentuknya, karena terlalu banyak bahan yang dicampurkan mamahnya dalam bubur itu.
Mila berlari menuju wastafel kamar mandi sambil membungkam mulutnya. . . lalu menumpahkan semua isi perutnya, padahal ia hanya memakan roti saja pagi ini.
"udah dibilangin jangan diaduk" gerutunya saat keluar dari kamar mandi dan mengelap bibirnya dengan tissue.
"nggak enak tau kalo nggak diaduk" bantah Erfan yang menyengir kuda.
Mila hanya diam kemudian duduk di ranjang Erfan, mengambil jarak yang cukup jauh dari kakaknya karena jika ia melihat bubur itu dipastikan ia akan muntah lagi.
"kayaknya ada yang aneh deh mil" ucap Erfan menyadari sikap Mila akhir-akhir ini terlalu berlebihan untuk urusan makanan.
"apa?" tanya Mila mengerutkan keningnya
"jangan-jangan kamu hamil" ucap Erfan dengan serius, namun Mila malah terkekeh mendengarnya.
"masa orang muntah doang dibilang hamil, aku tuh emang enek banget kak sama yang itu" Mila kembali membungkam mulutnya ketika tak sengaja melihat lagi bubur kakaknya, berlari menuju kamar mandi.
"mendingan kamu periksa ke dokter mil" ucap erfan yang melihat adiknya lemas saat keluar dari kamar mandi.
"aku takut kak" ucapnya lemah
"takut kenapa?"
__ADS_1
"aku takut kecewa dan nggak sesuai yang diharapkan, jadi kalo bener aku hamil ya biarin aja nunggu perut aku gede . . . emang mau diapain" Mila tersenyum kecut.
"kamu itu hampir tiap pagi Lo muntah-muntah kayak gini".
"udahlah kak jangan cerewet kayak mamah deh"
"mamah juga bilang kayak gitu?" tanya Erfan
Mila mengangguk "yang penting kan aku juga nggak kerja terlalu capek, aku juga jaga makan aku meskipun nggak berselera".
"ini anak emang keras kepala kalo dibilangin" gerutu Erfan, karena itulah sikap Mila, semaunya sendiri semenjak dulu.
ceklek. . .
pintu ruangan terbuka, Mila dan Erfan menoleh bersamaan terlihat laki-laki yang memakai stelan jass dengan begitu gagahnya dan tersenyum kecil kearah mereka. senyumnya tetap sama mempesona...
Mila hampir saja menangis saat melihat sosok yang dirindukan nya selama tiga hari tidak bertemu. . . . dan ketika Elang menatapnya ia malah menunduk kan pandangan nya.
Elang menatap Erfan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan istrinya namun erfan yang masih mengunyah malah menaikan kedua bahu dengan santainya.
Elang mendekat kearah Mila yang duduk di ranjang Erfan, ia ikut duduk disana mengusap lembut rambut istrinya. "kenapa?" tanyanya.
Mila menggelengkan kepalanya dan air mata pun tidak bisa ia tahan lagi, Elang segera merengkuh tubuh Mila ia memeluk nya dengan erat.
rindu. . . satu kata yang sangat sederhana, namun begitu menggebu gebu . . . .ketika tidak melihat dirimu.
Mila menangis tersedu-sedu di pelukan Elang. . . sejujurnya Elang juga bingung dengan sikap Mila yang terlalu berlebihan seperti ini. .
apakah ini tandanya Mila rindu padanya, ataukah rasa bersalah karena ingin memilih Renaldi. . .
Elang menoleh meminta penjelasan pada erfan.
"udah deh Lang, kamu ajak Mila periksa ke dokter sana".
Mila sedikit menjauhkan tubuhnya saat mendengarkan perkataan erfan.
"ada apa kamu sakit?" tanya Elang menyentuh kening Mila dengan telapak tangannya.
"enggak kok mas, cuma masuk angin biasa".
Elang memperhatikan wajah Mila yang pucat "kita periksa sekarang ya, mumpung masih dirumah sakit". ucapnya menangkup wajah Mila.
"enggak mau, mau peluk kamu aja" ucapnya kemudian bersandar pada bahu Elang.
Erfan terkekeh geli mendengar Mila yang begitu manja, ia merasa benar dugaannya. . . adiknya memang sedang hamil.
setelah Mila sedikit tenang, Elang dan Mila berpamitan pada Erfan untuk berangkat bekerja..
"Lang" panggil Erfan ketika mereka sudah berada diambang pintu.
"iya kak?"
"ajakin Mila sarapan dulu, dia belum sarapan" ucanya tersenyum jahil kearah adiknya.
__ADS_1
Mila hanya memutar matanya jengah. "ayo mas, udah biarin dia sendirian disini".
"hey, wanita keras kepala!!!" teriak Erfan.
.
.
.
sepanjang perjalanan Elang tidak melepaskan tautan tangannya dengan Mila, dan satu tangannya tetap mengemudi. . . ia melaju dengan santai dan sangat berhati-hati.
"mas kamu fokus nyetir gih" ucap Mila
Elang mengecup punggung tangan Mila "nggak mau gini aja". ia melirik Mila sekilas "mau sarapan apa?" tanya nya.
"enggak usah, aku abis ini ada meeting penting". Mila melihat jam tangannya.
"sarapan aja sebentar" ucap Elang dengan tegas dan penuh penekanan, agar Mila tidak membantah nya. kadang memang ia harus bersikap seperti itu untuk menghadapi Mila yang keras kepala.
akhirnya Mila hanya mengangguk pasrah. . . ia tahu betul suaminya tak suka bantahan.
Elang memberhentikan mobilnya di depan restoran dekat kantor Mila. mereka berjalan beriringan dengan senyuman yang terus mengembang dikedua nya. . .
memilih meja didekat jendela untuk menghirup udara pagi ini, karena memang disana terdapat berbagai tumbuhan nan hijau di setiap sudutnya.
Mila memakan makanannya dengan lahap, entah mengapa selera makannya sangat baik pagi ini. . . apa karena ditemani sang suami, atau memang menu di restoran ini begitu lezat. . .
Elang terus menyuapi Mila dengan senang, merasa begitu gemas saat melihat istrinya yang terus mengunyah, berbeda sekali dengan Mila yang selalu perduli dengan porsi makannya.
"habis" ucap Elang nyengir kuda, saat menyuapi istrinya sampai makanan nya tandas.
Mila mengerucut kan bibirnya "kamu jahat ih mas, masak suruh aku ngabisin semua".
Elang terkekeh geli melihat nya "aku tadi juga udah makan banyak kok yang".
"perasaan aku deh mas yang makan terus dari tadi". omel nya
"aku yang makan banyak daritadi yang, banyak banget" sangkal Elang.
Mila terdiam saat melihat sosok yang sedang memasuki restoran itu. . . Elang mengikuti arah pandangan Mila. . . "Royan , ngapain disini" ucap Elang.
Mila terdiam bukan karena Royan , melainkan wanita yang kini sedang bersamanya. . .
sial, dia melihat kearah sini. . . jangan sampai Royan mengajak wanita itu kesini...
dan Royan yang menyadari Mila dan Elang berada disana seketika langsung panik, karena ia belum memenuhi persyaratan Mila memulangkan Terry yang saat ini sedang bersamanya.
.
.
.
__ADS_1
hayhayhay, balik lagi wkwk
dihujat nggakpapa deh asalkan votenya kencengin wkwkwk . . . canda gaesss 💋💋💋💋💋