Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Memecahkan celengan rindu ~ 2


__ADS_3

Tangan keduanya bertautan satu sama lain, seolah enggan untuk berjauhan, Rasa rindu diantara mereka yang membuncah seolah tak cukup hanya ditebus dengan bergandengan tangan saja.


Zeze terus tersenyum sembari menatap laki-laki yang begitu tinggi yang saat ini berjalan disampingnya, parfumnya yang menyeruak sangat menggetarkan hati.


"jangan dilihatin terus nggak bakal hilang kok" ucap Royan tersenyum sekilas, ditatap seperti itu oleh wanita yang dicintainya membuat hatinya berbunga.


"PD ih" ucap Zeze mencubit lengan Royan.


"aw!"


"Eh, eh , maaf" ucapnya kemudian mengusap-usap lengan Royan karena merasa bersalah.


"bercanda hahaha" Royan mengusap-usap kepala Zeze dengan gemas.


"kakak ih" ucap Zeze mencebikkan bibirnya, selalu seperti itu memang tingkah laki-laki itu.


"kakak masih tinggal disini ternyata" ucap Zeze saat mereka memasuki lift apartemen menuju lantai lima belas itu.


"aku baru menempati nya lagi sebulan yang lalu" ucap Royan tersenyum kecut.


Zeze menatap Royan dengan sendu "kamu pasti sangat berniat melupakan ku" ucap Zeze yang membuat Royan segera menggenggam tangan mungil itu.


"kalo aku bisa lupain kamu, mungkin udah bertahun-tahun yang lalu apartemen ini aku jual" ucapnya dengan serius.


Karena apartemen ini adalah satu-satunya kenangan bersama Zeze secara nyata.


"maaf" lirih Zeze dadanya mendadak begitu nyeri.


"yang penting sekarang kamu udah disini" ucap Royan tersenyum lalu menuntun Zeze keluar dari lift.


Royan membukakan pintu apartemennya, gelap hanya itulah suasana didalam sana ketika dirinya tidak ada.


Royan menyalakan lampu, sedangkan Zeze masih tercengang menatap ruangan ini sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada yang berubah satupun.


"kaget ya" ucap Royan yang mengerti akan perasaan wanita itu.


"kakak" lirih Zeze yang sudah berkaca-kaca, ia segera berhambur kepelukan Royan.


Zeze terus menangis terisak di pelukan Royan , sesulit itu laki-laki ini berusaha melupakannya , Zeze kira Royan sudah melupakannya karena selalu berganti-ganti wanita.


"aku nggak mau sedikit pun kenangan yang kita ukir berubah Ze disini" ucap Royan mengusap-usap punggung Zeze.


Zeze semakin merengkuh tubuh kokoh itu dengan erat "Ze-ze sayang sama kakak" ucap Zeze tercekat.


"aku lebih menyayangi mu Ze" ucap Royan menangkup kedua pipi Zeze.


"aku nggak mau pisah lagi" ucap Zeze masih dengan isakan nya.


"aku juga tidak akan melepaskan mu, aku bener-bener serius Ze sama kamu"


Zeze mengangguk sembari memaksakan senyumnya . . .


....


"kamu tidur disini saja Ze" ucap Royan, setelah mereka membersihkan diri dan mengisi perut ia mengantarkan Zeze agar tidur dikamar nya.

__ADS_1


"kakak mau kemana?" tanya Zeze saat Royan mengambil satu bantal dipelukan nya.


"aku tidur disofa saja"ucap Royan tersenyum.


Zeze menarik-narik lengan piyama Royan lalu menundukkan kepalanya "Zeze mau dipeluk" ucapnya malu-malu.


Royan terkekeh mendengarnya "maaf ya Ze, aku benar-benar tidak bisa menahannya, jadi lebih baik kamu tidur sendiri dulu malam ini, besok saja ya pelukannya jangan diranjang berbahaya" jujur Royan yang tidak berhenti tersenyum.


Mendesah kesal Zeze melepaskan Royan "kenapa harus ditahan?" ucap Zeze mengerucutkan bibirnya, ia mendongakkan pandangannya menatap Royan.


Ah, sial!


Jika Zeze merajuk seperti anak kecil begini, ia ingin sekali menelanj*ngi nya bulat-bulat sekarang juga.


Tapi disisi lain ia ingin menjadi orang yang benar, meskipun itu adalah ketidakmungkinan, namun apa salahnya berusaha.


"Aku hanya ingin menjaga mu Ze, bukan merusak mu" ucap Royan lalu duduk disisi ranjang, ia membelai lembut rambut panjang Zeze.


"aku sudah terlanjur rusak, dan itu karena mu" ucap Zeze yang membuat Royan merasa bersalah.


"maaf" lirihnya lalu menundukkan kepalanya.


Zeze menangkup kedua pipi Royan agar menatapnya "aku tidak menyesal kak, asalkan itu kamu".


Mendengar ucapan Zeze semanis itu membuat Royan segera mendekap erat tubuh ramping Zeze.


"i love you" bisiknya.


"love you too" ucap Zeze melingkarkan tangannya pada perut Royan.


"kangen banget aku sama kamu" ucapnya setelah mengecup kening Zeze begitu lama.


"maksudnya?" tanya Royan yang mendadak bodoh, benar kata orang ketika kita mencintai seseorang kita akan lebih mementingkan hati daripada otak.


Zeze melingkarkan tangannya pada leher Royan, lalu mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Royan dengan sayang, lalu mulai mengeksplor rasa manis dari bibir seseorang yang ia cintai itu.


"Ze" ucap Royan mengingatkan, ia bukan laki-laki baik yang bisa menahan hasratnya, apalagi ini adalah Zeze.


"katamu tidak ada yang bisa memuaskan mu kak, dan malam ini aku ingin melakukannya" ucap sembari menggigit bibirnya.


"aku bukan laki-laki baik Ze" ucap Royan sembari menindih tubuh Zeze "masih ada waktu jika kamu ingin pergi" ucapnya memperingatkan.


Bukannya pergi Zeze malah meraih kancing piyama Royan "malam ini aku milikmu" ucapnya begitu merdu yang membuat Royan segera melahap dengan rakus bibir merah itu.


Tangannya mulai bergerilya kesana-kemari, menyusuri setiap inchi lekuk tubuh yang ia rindukan, berkali-kali ia meniduri wanita manapun atau model papan atas sekalipun.


Tidak ada yang bisa menandingi nikmatnya tubuh wanita yang ia cintai, hasrat yang ia tahan bertahun-tahun , akhirnya melebur juga dalam kehangatan yang mereka raih malam ini.


Desahan-desahan nakal dari mulut Zeze yang membuat pergerakannya semakin liar, tubuh wanita ini masih sama nikmatnya waktu pertama kali ia mengambil kesuciannya.


Disaat Zeze mencoba mengimbangi permainan panasnya ia sungguh bahagia, ia adalah laki-laki paling bahagia di malam ini.


Masa bodoh dengan esok, ia akan tetap memperjuangkan cintanya ini. . .


"kakh akh".

__ADS_1


.


.


.


Sinar matahari menerpa wajah cantik Zeze, Royan tak henti-hentinya memandangi wajah cantik nan manis ini.


Beberapa tahun ia melewati hari tanpa Zeze terasa suram, ia tidak ingin kehilangan lagi.


Mata lentik itu mengerjap-ngerjap dan langsung berpandangan dengan Royan yang menatapnya dengan senyuman...


Zeze tersenyum malu pada Royan "kok udah bangun?" tanya nya "gimana, gak bikin puas ya" ucapnya khawatir.


"Ze, kok kamu berpikiran begitu sih" ucap Royan merapikan anak rambut Zeze yang menghalangi pandangan nya.


"kan biasanya aku dulu yang bangun"


Royan tertawa kecil "aku puas banget sayang" bisiknya diiringi dengan desahan nakal.


"kakak!" protes Zeze.


"hahahahhaaha" Royan tertawa puas karena berhasil menjahili Zeze.


"kamu mau tahu kenapa aku bangun duluan?" tanya Royan dan mendadak dan serius.


"kenapa?" tanya Zeze mengusap rahang tegas Royan.


"karena aku takut tadi malam hanya mimpi" lirih Royan membawa Zeze dalam dekapannya.


"rasanya masih tidak percaya jika kamu disini menemani ku, dan menghangatkan ku" lanjutnya.


Zeze paham betul apa yang tengah dirasakan oleh laki-laki ini, ia memang sangat keterlaluan karena telah memutuskan Royan sebelah pihak.


"udah sedih-sedihan nya" ucap Zeze "yang penting kan Zeze sekarang ini disini buat kakak".


"mau makan apa, biar aku orderin" ucap Royan sembari menghirup aroma rambut Zeze.


"Zeze mau masak buat kakak" ucap Zeze yang membuat Royan menatapnya tak percaya.


"kamu bisa masak?" tanyanya sambil antusias karena dulu wanita ini memasak telur saja gosong.


Zeze mengangguk "bisa" ucapnya lalu tersenyum.


"masak apa?" tanya Royan berbinar.


"mie instan" ucap Zeze nyengir kuda.


"apa?"


.


.


.

__ADS_1


Yeay ketemu lagi, minta koin atau poin seikhlasnya, biar tambah semangat untuk lanjut 😂


LIKE-LIKE JUGA YA, MAKASIH UDAH SETIA SAMPAI DISINI 💋💋💋


__ADS_2