
malam ini cuaca seoalah mendukung, hembusan angin yang menari-nari membuat Mila seoalh enggan berjauhan dengan lengan berotot suaminya. . .
mereka sedang duduk dibawah pohon rindang memandang banyak orang yang sedang asik bercengkrama di lapangan itu, memang tak besar tapi banyak keluarga yang kesana meski hanya untuk menikmati berbagai kuliner. . .
daun-daun kering yang berjatuhan seolah berterbang diantara dua orang yang sedang memadu kasih, ditengah keramaian malam ini. . .
"mil" panggil Elang memperhatikan wanita yang saat ini bergelayut manja dilengannya dengan tangan satunya sibuk memakan jagung bakar..
"apa?, kamu mau?" tanya Mila sambil menodongkan jagung bakar nya.
"enggak buat kamu aja" jawab Elang sambil membersihkan bekas jagung bakas pada bibir Mila.
"ternyata pacaran tuh kayak gini ya mas" ucap Mila mengulas senyum nya
"yah, anggap saja begitu. . ."
Mila terdiam mengingat masalalunya, meskipun ia sering keluar bersama Al akan tetapi tidak sebebas ini. . . ia bisa merasakan ada yang mengintai nya dari kejauhan sehingga ia tidak bisa melakukan hal-hal yang diinginkan secara bebas , untuk kontak fisik saja ia batasi. jika tidak ia akan ditelan hidup-hidup oleh kedua lelaki kesayangannya. huh benar-benar menyebalkan jika mengingatnya..
"kamu kenapa?, mikirin apa? keinget sama siapa?" tanya Elang tanpa ampun, karena memperhatikan Mila yang terdiam dengan pandangan kosongnya.
"mas. . . kalo nanya satu-satu dong" gerutu mila
"kamu lagi berusaha mengingat kenangan lama kamu ya, aku nggak bisa biarin itu" ucap Elang terang-terangan
"uluhhhh. . . suamiku posesif banget ya, aku cuma lagi mikirin betapa indahnya dunia ketika kita diberi kebebasan" ucap Mila melihat kearah depan dan tersenyum.
"kebebasan apa maksud kamu?" Elang mengerutkan keningnya
"ya saat berdua seperti ini, dulu aku selalu saja diawasi. . .jadi aku tidak bisa berbuat sesuka hati ku" Mila menghela nafasnya..
Elang yang paham arah pembicaraan mila malah tersenyum puas saat mendengar nya "siapa yang mengawasi mu?"
"siapa lagi kalo bukan dua laki-laki posesif itu" Mila mengerucut kan bibirnya.
"haruskah aku berterima kasih pada papah dan kak Erfan karena telah menjaga istri ku dengan begitu baik" Elang tersenyum
"jangan!, aku yakin kamu akan bergabung bersama mereka nanti, dua laki-laki posesif saja sudah melelahkan apalagi tiga" Mila menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
"mulai sekarang aku akan bergabung bersama mereka membentuk pasukan khusus untuk menjagamu dan mengintai mu dari jauh jadi kamu nggak bisa macem-macem"
Mila membelalakkan matanya tidak percaya "masssss....., jangan ngawur kamu"
"haha bercanda sayang" ucap Elang mengacak-acak rambut Mila karena ekspresi istrinya yang menggemaskan itu.
.
.
.
pagi ini mereka kumpul dimeja makan, karena setelah sarapan mereka akan pulang ke kota, liburan yang singkat telah berakhir. . .
"pak ada tamu" ucap mang Dadang dari arah ruang tamu. . .
"siapa?" tanya Elang karena ia tidak merasa memiliki kenalan disini.
belum sempat Elang menjawab , sosok laki-laki jangkung itu muncul dibelakang mang Ujang.
"Lo ngapain disini mbing?" tanya Tino menyadari sahabat disana
"siapa?" bisik ana pada Tino
"sohib lama"
"oh"
Mila hendak beranjak namun tangannya ditarik oleh Elang "mau kemana?" tanyanya
"mau ngambilin piring buat Royan" jawab Mila melihat Royan yang asik bermain ponselnya.
"abisin dulu makanannya, dia kalo laper pasti nyari rumput sendiri kok, ya kan mbing?" tanya Elang melemparkan pandangan pada Royan.
Royan yang tak tau apa-apa , hanya mengangguk dan terus sibuk dengan ponselnya . . .
Elang tersenyum "ya kan aku bilang juga apa"
__ADS_1
"temen-temen kamu tuh aneh semua" Mila menggelengkan kepalanya heran, apa iya royan juga memakan rerumputan 😌.
.
.
.
mereka berjalan menuju teras depan dengan tas memenuhi tangan mereka semuanya...
"jadi yang itu calon istri Lo" tanya Royan pada Tino, kini mereka berjalan dibelakang mereka semua.
"ya gitu deh" jawab Tino malas
"lumayan sih bodynya, hemmm. . .tapi kalo gue masih suka punya nya Elang" ucap Royan menyeringai.
Tino menonyor kepala sahabat nya yang seperti nya sedikit konslet itu , "kaya elo berani aja mbing, awas Lo macem-macem. . . ya tapi gue sih nggak urusan kalo tangan Lo m dipatahin sama Elang"
"ya elah nyet, canda kali. . . tapi gue sekarang kayanya udah nggak takut sama Elang deh" ucap Royan dengan sombongnya.
"ohhh begitu" terbesit ide kecil pada kepala Tino, iya tersenyum mendekati mobil yang baru saja diantar oleh supir karena sebelumnya mobil itu dibawa oleh erfan . . . ia mendekati dimas yang sibuk memasukkan tas digarasi. . . "gue sama Lo aja ya bro" Dimas hanya mengangguk, Tino mengajak ana menaiki mobil itu di jok belakang, sedangkan sella dan Dimas didepan. ia tersenyum mengamati Elang dan Royan dari kaca spion..
Elang melemparkan kunci mobilnya pada Royan, "gue yang nyetir" tanya Royan
Elang mengangguk dan mengajak Mila naik mobil di bangku belakang. . .
"eh jangan gila Lo Lang, Lo pikir gue sopir lo" gerutu Royan saat melihat Elang sudah duduk dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil seperti seorang raja.
"cepetan jalan! , kalo elo nggak mau numpang di mobil ini Lo bisa keluar"
"ck, bangkee emang" gerutu Royan namun tetap menjalankan mobil itu, Tino tersenyum puas melihat nya dari kaca spion , tadi saja Royan menyombongkan diri tidak takut dengan Elang. Tino juga sudah mengantisipasi agar ia beda mobil dengan Elang, jika tidak pasti Tino akan disuruh mengemudi sepanjang jalan.
.
.
.
__ADS_1
**malam Minggu rebahan aja ya 😂😂😂
sambil like-like vote-vote komen-komen 💋💋💋**