
"ini kencan kita berdua setelah empat bulan" ucap Elang menyodorkan garpu yang berisi steak daging sapi yang begitu menggoda, pada Mila.
Mila mendekat lalu menerima suapan itu " makasih, mas ku" ucap Mila tersenyum setelah menerima nya.
Saat ini mereka sedang berada di restoran bawah, apartemen Mila. . . setelah peperangan yang begitu menyenangkan, perut mereka sama-sama perlu untuk di isi.
"aku kangen sama Gem, mas". ucap Mila mengingat sang buah hati.
"yaudah habisin dulu, abis ini kita langsung ke rumah mamah. Gemilang lagi tidur siang kata mamah" ucap Elang sembari mengunyah.
Mata Mila terkesiap ketika melihat orang yang dikenalnya di jarak yang cukup jauh darinya. .
Leon? sedang apa ia disini?
Namun ia sedikit terlonjak ketika melihatnya menggendong anak kecil yang begitu cantik dan lucu.
"yang" panggil Elang.
Mila segera mengalihkan pandangannya.
" i iya mas"
"kamu lihatin apa sih" ucap Elang yang hendak menoleh namun Mila segera mencekal tangannya.
"enggak mas, aku sedikit capek. . . mau disuapin kamu aja" ucap Mila mengalihkan perhatian Elang.
bisa bahaya jika mereka bertemu, bisa baku hantam nantinya. . .
"setelah sekian lama akhirnya bisa buat kamu kecapekan juga" ucap Elang mengusap lembut rambut Mila.
"ih jahatnya, ingat ya sekarang udah ada Gemilang. jadi, harus inget tempat dan waktu". ucap Mila , karena ia tahu betul jika Elang sudah menginginkan dirinya. . . sudah masa bodoh dengan semua.
"iya Mamii" ucap Elang menurut seperti anak kecil, ia hanya bisa pasrah ketika Mila menasehati nya seperti ini.
.
.
.
Elang dan Mila melangkahkan kakinya memasuki rumah Elang, terdengar suara riuh di ruang tengahnya. memang Gemilang selalu bisa membuat rumah menjadi ramai. . .
"dia nangis tuh yang" ucap Elang saat mendengar rengekan suara putra nya.
"kalo bangun tidur emang gitu kadang" ucap Mila semakin mendekat, terlihat Gemilang sedang digendong seorang gadis. dan mamahnya ikut menenangkan nya.
"siapa?" tanya Mila menoleh kearah Elang.
Elang tersenyum melihat gadis itu "anaknya Tante, kayaknya dia baru pulang dari luar negeri".
"Mamii mu datang Gem, jangan nangis lagi" ucap mamah Elang ketika melihat Elang dan Mila berjalan kearahnya.
Anak kecil itu seolah tahu, saat melihat Mila tangis nya semakin pecah dan meronta-ronta ingin digendong.
"anak Mamii, kenapa sini. . cup. .cup. .anak ganteng nggak boleh nangis" Mila mengambil alih Gemilang dari gadis itu, Mila menimang nimang putranya.
"Kak Elang" gadis itu mencium punggung tangan Elang, lalu beralih menatap Mila "mbak Mila ya, kenalin aku Zeze" ucapnya beralih mencium tangan Mila.
__ADS_1
"i iya" jawab Mila.
"kak Elang pinter cari istri . . . cantik" pujinya.
"hehe makasih" ucap Mila begitu sungkan.
Setelah itu ia duduk disofa untuk memberi ASI pada Gemilang, Elang duduk disamping Mila sambil terus menggoda Gemilang. . . Elang senang sekali jika putranya tersenyum.
"kamu kapan pulang Ze?" tanya Elang beralih menatap ponakan nya itu.
"baru kemarin kak, nggak sabar pengen ketemu sama Gemilang" ucap Zeze menatap keponakannya yang tampan dan menggemaskan itu.
"kuliah dimana?" tanya Mila.
"ehm . . . di XX University mbak" ucapnya tersenyum kearah Mila.
"oh" ucap Mila sambil mengangguk.
Zeze terus menatap kearah Mila, pandangannya sedikit sendu. Mila yang menyadari itu mengerutkan keningnya bingung.
"ada apa Ze?" tanya Mila yang tak nyaman dipandang i seperti itu.
Zeze menggeleng kemudian menundukkan pandangannya, ia menghela nafasnya sejenak kemudian tersenyum pada Mila.
"Zeze keinget sama mbaknya Zeze, mbak Mila" ucapnya menghapus air mata yang sudah tumpah.
Mila menatap Elang untuk mencari jawaban "mbak nya Zeze meninggal tiga tahun yang lalu" Mila menutup mulutnya seolah tak percaya. ternyata tantenya Elang hanya hidup berdua dengan Zeze.
Mila memberikan Gemilang kepada Elang ia mendekati Zeze lalu memeluknya "yang sabar ya ze" ucap Mila menenangkan.
Mila mengusap punggung Zeze "kamu boleh kok nganggep aku sebagai mbak mu, meskipun tidak akan pernah bisa menggantikan posisi nya di hatimu".
Zeze melepaskan pelukannya lalu menatap Mila dengan sendu "makasih mbak Mila, Zeze pengen ngerasain punya seorang kakak lagi".
"iya ze"
"ada apa ini kok nangis-nangis" tanya mamah Elang yang baru saja dari kamar mandi.
"biasa mah, Zeze keinget Zia" ucap Elang sambil menepuk nepuk bokong anaknya.
"udahlah ze, ikhlas in. . . sekarang Mila akan menjadi mbak mu" ucap mamah.
"iya Tante" ucap Zeze tersenyum kembali memeluk Mila.
"senengnya, serasa punya adek" canda Mila yang membuat Zeze tersenyum.
"mbak Mila, besok jalan-jalan yuk" ucap Zeze yang kembali bersemangat.
"besok rencananya mbak mau ke mall, sama mas Elang sama Gem. . . kamu ikut ya" ucap Mila tersenyum.
"iya boleh-boleh, Zeze mau shopping baju buat Gemilang. . . pasti lucu deh".
"iya Ze" Mila beralih menatap Elang "mas kalo gitu besok aku ajak Zeze ya, kan katanya kamu mau ngajak--".
"gampang gampang beres" belum sempat Mila menyelesaikan pembicaraan nya, Elang sudah menyela nya.
Mila mengernyit sejenak, kemudian yasudah lah. . .
__ADS_1
"hati-hati kalo mau bawa Gemilang ke mall" ucap mamah.
"tenang mah, kan ada Elang" ucap Elang kemudian menatap putra nya "ya nggak Gem, Papii kan selalu jagain kamu ya" ucap Elang dengan nada bercanda nya.
"kak Elang sekarang beda banget ya" ucap Zeze tersenyum.
"hah, beda apanya?" tanya Elang.
"dulu kan orangnya cuek banget, sekarang jadi lebih hangat" ucap Zeze.
"berkat mbak mu Ze" ucap mamah yang membuat semuanya tersenyum.
.
.
.
Mila memeluk erat tubuh Elang yang sedang berbaring diranjang bersama nya, sedangkan Gemilang tidur di kamar sebelah bersama pengasuh nya, mereka menyewa pengasuh hanya untuk menjaga saat Gemilang tidur saja . . . untuk yang lain-lain Mila mengurus nya sendiri.
"mas aku keinget sama Zeze terus deh, kasian dia" ucap Mila.
Elang mengusap lembut pipi Mila "udah takdir yang, dia dulu sangat dekat dengan Zia".
"emang Zia meninggal nya kenapa mas?" tanya Mila menatap Elang.
"dia dirawat di rumah sakit sehari, abis itu langsung nggak ada".
Mila mengangguk "jika takdir memisahkan kita dengan cara kematian, aku harap kamu baik-baik saja tanpaku mas".
Elang menatap tajam kearah Mila "jangan berbicara seperti itu!" ucapnya dingin.
Mila yang takut, langsung membenamkan wajahnya pada dada Elang . . . ia takut memandang mata Elang, Elang memang jarang marah tapi sekalinya marah benar-benar menyeramkan.
"aku tidak suka kamu berbicara seperti itu" ucap Elang menghela nafas sejenak "aku tidak sanggup tanpamu" ucap Elang mengecup kening mila.
"aku juga mas".
"besok agak pagi aja ya, kasian kalo baby kepanasan" ucap Elang mengalihkan pembicaraan.
"iya mas, seneng deh Zeze bisa ikut" ucap Mila tersenyum.
"Mil, sebenarnya Zeze itu, mantannya-"
"mantannya siapa mas?"
"udahlah besok aja" ucap Elang yang mulai menindih tubuh Mila, tatapan yang mulai sayu. Mila sudah paham jika tatapan suaminya seperti ini. . . berarti ia tidak bisa tidur dengan cepat malam ini.
.
.
.
**Terimakasih atas dukungannya, jangan bosan dulu yaπ€
vote vote yang banyak heheheπππππ**
__ADS_1