Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
tidak sadarkan diri


__ADS_3

sore ini Mila dan Elang bersiap-siap pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk kakaknya. . .


juga karena kedua orang tua Mila menyuruh mereka datang kesana malam ini. . .


"ada apa ya mas?, papah sama mamah nggak biasanya nyuruh kita berdua ke rumah sakit".


ucap Mila yang saat ini memakai anting nya.


Elang melingkarkan kedua tangannya pada leher Mila yang sedang menghadap ke kaca rias yang besar itu, kemudian pandangan mereka saling bertemu. "rapat keluarga kali" ucap Elang asal.


"ini keluarga mas bukan perusahaan!" ucap Mila sedikit meninggi kan suaranya karena jengkel.


"bercanda sayang, sensitif banget sih" ucap Elang mengelus rambut Mila.


"maaf, aku cuma takut ada berita buruk aja" ucap Mila menundukkan kepalanya.


"kok kamu berfikir seperti itu sih" tanya Elang.


"sebelumnya selalu begitu mas, papah dan mamah akan mengajak keluarganya berkumpul hanya untuk mengatur kalo tidak memerintah"


"jangan berprasangka buruk mil, mereka orang tuamu" tutur Elang lembut.


"iya mas. . . seperti nya sekarang akan berbeda karena aku sudah menjadi tanggung jawab mu, jadi tidak mungkin untuk orang tuaku dan akan menyuruh ku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku suka".


"iya tanggung jawab ku" ucap Elang dengan bibir yang terus melengkung, mengapa kalimat itu seperti kebahagiaan tersendiri untuk nya.


.


.


.


"kok nggak bisa dibuka sih mas pintu nya" gerutu Mila yang saat ini berada di depan kamar rawat kakaknya.


"coba sini" Elang memutar handle pintu nya "ini dikunci yang"


"nggak biasanya pintu nya dikunci".


"tok. . tok. ." Mila mengetuk pintu itu. . .


ceklek. . .


"kak brina!" ucap Mila terkejut melihat wanita itu disini.


"mi Mila. . . ayo masuk" ucap Sabrina terbata


mereka langsung memasuki ruangan, Elang duduk disofa, Sabrina duduk dikursi pinggir ranjang Erfan sedangkan Mila duduk di ranjang kakaknya dan terus menatap kakaknya.


"mata kamu bakalan copot mil kalo ngelihatin kakak kayak gitu" gerutu Erfan.


"kakak ngapain didalam kamar pintunya dikunci" selidik Mila.


"ya ampun mil, tadi kakak lupa . . . terkunci sepertinya" ucap Sabrina.


"kak brina nggak diapa-apain kan disini sama kak Erfan" ucap Mila.


"mil. . .!" sentak Erfan


"siapa tau kakak mau ngelakuin cara cepat biar mendapatkan restu"


"astaga ini anak pikiran nya , kakak nggak mungkin kayak gitu ya mil" gerutu Erfan.


"ya kalo nggak ngapa-ngapain biasa aja dong!" ucap Mila sinis.


"udah-udah" ucap Sabrina menengahi adik kakak yang beradu mulut itu.

__ADS_1


"jadi kak brina juga ada disini" ucap Mila menenangkan diri menatap Sabrina daripada menatap kakak nya yang menyulut emosi nya.


"eh i iya mil, sebenarnya kakak langsung balik kesini saat tahu kakak kamu kecelakaan".


"terus gimana orang tua kakak, mau nunggu kak Erfan sampai dapat restu nggak?" tanya Mila tanpa basa-basi.


"kakak usahakan mil batasnya Minggu ini, jadi kurang tiga hari lagi orang tua kakak akan mengatur perjodohan itu" ucap Sabrina menundukkan wajahnya.


"udahlah kita harus optimis, aku masih penasaran kenapa mamah nyuruh kamu kesini" ucap Erfan memandang Sabrina.


"jadi mamah juga nyuruh kak brina untuk datang?" tanya Mila


"iya mil" jawab Sabrina.


Mila menghela nafas panjang. . . "yaudah deh tunggu aja, pusing aku mikirin nya" ucap Mila menghampiri Elang yang berada di sofa.


ia menyandarkan kepalanya pada Elang. . .


"mau makan?, biar aku yang cariin?" tanya Elang karena sedari tadi Mila hanya menghabiskan beberapa sendok makanan saja.


Mila menggelengkan kepalanya "aku kok ngantuk ya mas" ucap Mila dengan mata yang sudah menciut.


Elang melingkarkan tangannya pada bahu Mila "tidur aja, nungguin papah sama mamah. . . . maaf ya udah buat kamu begadang tadi malam".


Mila mendongak kan kepalanya "udah kewajiban aku mas" ucapnya tersenyum malu.


"ehmmm. . ehmmm. ." Erfan berdehem begitu keras. "hargai yang belum halal dong".


Sabrina tertawa kecil "dunia serasa milik kalian berdua ya".


"hehe maaf kak" ucap Elang. .


Mila sudah beberapa kali menguap. . menahan rasa kantuknya...


"udah tidur aja" ucap Elang , Mila semakin membenamkan kepalanya pada pundak kokoh itu.


Milla berfikir sejenak kemudian mengangguk, ia merebahkan tubuhnya lalu berbantal paha suaminya.


Elang sudah bisa merasakan dengkuran halus Mila yang menandakan istrinya sudah terlelap saat ini . ia pun menyandarkan tubuhnya disofa karena jujur saja ia juga mengantuk karena begadang semalaman, apalagi harus bangun pagi karena Mila yang muntah-muntah.


.


.


.


Mila mengerjakan matanya melihat sekitar , kakaknya tidak ada diranjang nya . . seperti ia keluar dengan Sabrina. lalu ia menatap Elang yang sedang tertidur pulas dan bersandar pada sofa..


Mila beranjak bangun dari tidurnya , namun hal itu membuat Elang juga terbangun karena merasakan pergerakan Mila.


"kamu udah bangun" tanya Elang


"iya mas, maaf kamu kebangun juga ya"


"nggak papa kok"


"kak Erfan mana ya mas?"


"katanya mau ke taman sama Sabrina"


"oh"


Elang menyentuh dahi Mila dengan telapak tangannya. . Mila mengerutkan keningnya bingung "kenapa mas?"


Elang menggelengkan kepalanya "aku takut kamu sakit, muka kamu pucet banget yang".

__ADS_1


"masa sih, sedikit pusing aja sih" ucap Mila memijit pelipisnya.


"tuh kan, periksa aja ya mumpung masih disini". bujuk Elang.


"nanti aja mas sekalian kalo mau pulang, takutnya kalo mamah sama papah datang".


"iya tapi janji ya"


"iya-iya mas , aku mau pipis dulu" ucap Mila yang beranjak untuk berdiri, namun sungguh ia merasakan berat di kepalanya, ia mencoba untuk melangkahkan kakinya perlahan.


brukkk. . . Elang dengan sigap menangkap istrinya yang tiba-tiba pingsan.


"mil. . Mila!" Elang menepuk nepuk pipi Mila yang sudah tak sadarkan diri.


ia menggendong Mila lalu merebahkan tubuhnya pada ranjang Erfan dan ia segera memencet tombol darurat.


tak lama kemudian seorang dokter datang, dan bodoh nya ia lupa jika dokter yang menangani Erfan adalah Renaldi.


"loh kok Mila yang-"


"cepetan Lo periksa istri gue!" ucap Elang panik memotong ucapan Renaldi.


"i iya"


baru saja Renaldi hendak menyentuh tangan Mila untuk diperiksa.


"jangan sentuh Mila, panggil dokter lain saja" Elang menekan tombol darurat itu kembali.


Renaldi masih tercengang dengan ke posesifan


Elang namun disisi lain ia juga mengkhawatirkan Mila. untungnya tak butuh waktu lama seorang dokter perempuan datang ke ruangan itu.


"loh udah ada dokter Renaldi" ucap dokter itu.


"dokter Meli , cepat periksa keadaan nya". ucap Al.


"tapi saya kan dokter obgyn , bukan -"


"periksa saja!" sentak Elang,


dokter itupun langsung memeriksa keadaan Mila. .


ia masih tidak habis pikir padahal ada Renaldi kenapa ia disuruh memeriksa sedangkan setahunya pasien dikamar ini menderita patah tulang. namun sepertinya ia bukan pasien yang menempati ruangan ini.


dokter itu tersenyum setelah memeriksa keadaan Mila. "bapak suaminya?" tanya nya pada Elang.


"iya dok" jawab Elang.


"saya akan mengambil sampel darah dulu untuk diperiksa, satu jam lagi saya akan kembali kesini" ucap dokter itu terus tersenyum. Elang sendiri dibuat heran.


"istri bapak baik-baik saja pak, sebentar lagi juga akan sadar. . . kita tunggu kabar baik saja ya"


"iya dok".


kabar baik, apa maksud nya?


dokter itu pergi setelah mengambil darah Mila untuk diperiksa.


"aku pergi dulu" ucap Renaldi mengikuti Dokter itu


"Hem".


.


.

__ADS_1


.


terimakasih atas semua dukungan nya semangat!💋💋💋💋


__ADS_2