Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Sebentar lagi


__ADS_3

Aris menceritakan semua tentang Darwin tanpa terkecuali, karena Elang ingin info yang sejelas-jelasnya.


"firasat ku benar ris". ucap Elang


"maksud nya pak?".


"aku juga seorang laki-laki, jadi aku tahu betul yang mana tatapan biasa yang mana tatapan mendamba". ucap Elang mengingat tatapan Darwin kapan hari.


"apa bapak sedang cemburu" tanya Aris begitu ragu.


"hah?" Elang tersenyum sejenak. "cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri" ucapnya lalu terdiam sejenak "dan kemaren aku tidak percaya diri ris" ucap Elang lemah.


Aris hampir saja tertawa melihat tingkah bosnya itu. ia menahan diri agar tidak tertawa di depan Elang.


"ehmm. . bapak sebentar lagi akan punya anak, jadi tidak perlu tidak percaya diri" ucap Aris.


Elang mengangguk "tapi ris, kalo kamu jadi aku coba bayangkan. laki-laki mana yang nggak akan tergoda sama Mila, dia terlalu sempurna".


Aris mengangguk setuju "ya itu sudah resiko punya istri yang cantik pak".


"dia bukan hanya cantik ris, dia punya segalanya. . . jadi bukankah wajar jika aku overprotektif padanya".


Aris lagi-lagi mengangguk, dan yang dikatakan Elang memang benar adanya. dan semua itu karena Elang juga sangat mencintai Mila.


.


.


.


"yangggg. . . " panggil Elang saat memasuki kamarnya.


" apa sih mas, teriak-teriak mulu" gerutu Mila kesal, Mila sedang melipat baju bayi yang yang akan ia persiapkan di kamar anak nya.


Elang lalu menghampiri istrinya, bergelayut manja di pundak Mila..


"kangen" ucap Elang manja.


Mila terkekeh geli mendengarnya "baru berapa menit nggak ketemu"


Elang memeluk Mila dan mengusap perut besar istrinya, ia berkali-kali menghela nafasnya mengingat perkataan Tino.


"ada apa mas?" tanya Mila begitu Elang bersandar dipundak nya dan hanya terdiam.


"aku takut" ucap Elang pelan.


"takut apa?" tanya Mila bingung karena tingkah laku Elang.


"maafin aku yang sayang" ucap Elang semakin menyusupkan kepalanya pada ceruk pundak Mila.

__ADS_1


"emang kamu salah apa mas?" tanya Mila yang masih saja sibuk melipat baju-baju mungil itu.


"maafin aku udah buat kamu menanggung banyak rasa sakit" ucap Elang penuh penyesalan


"rasa sakit waktu aku menjamah tubuhmu, rasa sakit waktu kamu hamil muda karena setiap pagi memuntahkan isi perutmu" air mata itu sungguh menetes di pipi Elang mengingat pengorbanan sang istri begitu besar saat ini.


"apalagi sekarang kamu susah tidur, bolak-balik ke kamar mandi. . . kaki dan pinggang mu juga sering pegal, belum lagi nanti jika kamu melahirkan" ucap Elang mengeratkan pelukannya.


Mila menghentikan pergerakan yang sedang melipat baju, ia menggenggam jemari Elang sambil tersenyum lembut padanya "aku senang bisa merasakan semua ini mas, aku bahagia bisa mengandung anakmu. . . sungguh aku merasa menjadi wanita seutuhnya karena rasa sakit yang begitu nikmat ini" Mila mengecup sekilas kening Elang.


"Mas, aku tidak butuh semua penyesalan mu, cukup kamu disamping ku menemani ku untuk rasa sakit ini. . . semuanya sudah lebih dari cukup".


Elang meraih tangan Mila untuk dikecup nya "terimakasih istri ku, terimakasih sudah menanggung semuanya" ucapnya semakin terisak.


di tangkup nya wajah Elang yang masih berlinang air mata "kamu kok nangis sih mas, nggak biasanya kayak gini aja nangis".


"Tino tadi cerita ke aku yang, betapa susah nya perjuangan ibu melahirkan anaknya. jika aku bisa menggantikan rasa sakit mu nanti . . . lebih baik aku saja yang menanggung nya".


Mila menggelengkan kepalanya lalu menghapus air mata suaminya "kamu cukup disamping ku saja mas, menguatkan ku nanti" Mila paham betul apa yang tengah dirasakan Elang, apalagi waktu untuk ia melahirkan tinggal menghitung hari.


"aku takut yang, pokoknya kalian berdua harus kuat dan berjanji untuk baik-baik saja".


Mila mengangguk "aku akan melakukan apapun untuk anak kita mas, bahkan nyawa ku pun siap kuberikan untuknya".


Elang menangkup wajah Mila dan menatap nya dengan serius "kalian berdua harus baik-baik saja, kamu harus tetap selalu ada untuk ku yang". Elang begitu takut Mila meninggalkan dirinya. Karena Tino bercerita tentang wanita yang melahirkan bersamaan dengan ana tidak bisa diselamatkan seusai melahirkan anaknya.


"iya mas, aku wanita kuat apa kamu lupa itu" ucap Mila sedikit tertawa mencairkan suasana yang begitu haru ini.


.


.


.


Tidak terasa kini usia kandungan Mila sudah delapan bulan lebih beberapa Minggu, tinggal menghitung hari menuju kelahiran sang buah hati.


Mila sibuk menata kamar yang akan ditempati sang buah hati nantinya, Mila menatap ranjang kecil itu . . . lalu beralih pada miniatur mobil-mobilan yang terpajang rapi pada lemari khusus.


Dirinya dan Elang yang mendesain sendiri ruangan itu, sekarang Elang sedang gusar diruang kerjanya. . . ia memilih bekerja dirumah agar siaga jika ada apa-apa dengan sang istri.


"Mamii" teriak anak kecil itu menghampiri Mila yang sedang duduk di sofa kamar calon buah hatinya...


"Jen" Mila berdiri menghampiri gadis kecil itu


"sama siapa?" tanya Mila.


"sama Ayah" ucapnya menunjuk Al yang sedang duduk di ruang tamu nya. Semenjak Mila pulang ke rumah orang tuanya, Jen sering bermain bersama Exel disana. . . mamah Mila juga senang bisa menjaga Jen dan Exel secara bersamaan. karena mereka sudah berdamai dengan Al.


"koh" sapa Mila pada Al yang sedang meneguk minumannya.

__ADS_1


Mila menggenggam tangan Jen lalu mengajaknya untuk duduk diseberang Al.


"gimana aman kan, belum ngerasain apa-apa?" tanya Al menatap perut Mila.


"belum koh".


"kalo ngerasa apa-apa atau ngeluarin sesuatu segera bilang sama Elang ya".


Mila mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru datang dan tersenyum padanya.


"anak Papii udah dari tadi" ucap Elang yang langsung menghampiri Jen.


Jen mengadahkan tangannya meminta digendong oleh Elang , dengan senang hati Elang menggendong tubuh mungil itu. . .


"Papii, adik Jen belum keluar juga ya?" tanya nya mengerucutkan bibirnya.


Elang terkekeh geli melihat gadis cantik itu "belum sayang, lihat itu perut Mamii mu masih besar, adik kamu masih ada di dalem sana".


"yahhhhh" ucap Jen dengan ekspresi kecewanya...


"Jen, tinggal ngitung hari masak gak sabar sih" sahut Al.


"iya-iya" ucapnya pasrah "kalo gitu Jen mau main sama Exel aja".


"tunggu sebentar ya sayang, sebentar lagi Exel datang kok. . . masih diperjalanan". ucap Mila mengusap punggung Jen yang saat ini dipangku Elang.


"gimana hubungan mu sama cewe itu nal" tanya Elang pada Al, Elang dan teman-temannya sudah mengetahui jika Al sedang bersusah payah untuk mendapatkan Margaretha. . . sangat susah memang menaklukkan hati perempuan yang sebenarnya juga memiliki rasa untuk nya.


"aku sedang berusaha Lang" sahut Al.


"cewe siapa?, kokoh Deket sama cewe sekarang" tanya Mila begitu antusias dan ikut berbahagia karena Al telah bangkit kembali untuk memulai hubungan asmaranya.


"ada deh mil, nanti aku kasih tahu. . . doakan saja dia cepat sembuh" ucap Al memilih menyembunyikan itu sampai Mila melahirkan, setidaknya Mila lebih kuat pada saat itu.


"dia lagi sakit koh?" tanya Mila.


"iya mil, tapi aku yakin dia akan sembuh".


"pasti koh, semoga kokoh bisa mendapatkan orang yang baik untuk menjadi ibu Jen. . . tapi Jen tetep anak Mamii, ingat ya Jen!" ucap Mila.


Jen hanya mengangguk sembari memainkan ponsel Elang. . .


.


.


.


VOTE NYA YA GAESSS, TOLONG 😉

__ADS_1


**banyakin vote yang disini dulu saja, novel satunya masih review kontrak. . . .


Lopeyuall 💋💋💋**


__ADS_2