Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Pesta Lajang (2)


__ADS_3

"serius bambangggg" timpal Royan


"jadi penasaran sama istri nya Elang" sahut Renaldi


"besok juga ketemu kok" ucap Elang , karena besok adalah pesta resepsi pernikahan Tino dan ana dan akan banyak teman-teman lama nya yang akan datang serta karyawan-karyawan diperusahaan nya karena Tino adalah direktur keuangan dari Elang grup.


dan disaat mereka sedang asik bercengkrama tiba-tiba datanglah tiga wanita cantik berpakaian mini diruangan itu.


Royan menyeringai lebar melihat "come on girls" ucapnya.


"yan!!!" geram Elang dan Renaldi bersamaan


berbeda dengan Tino ia terlihat berbinar melihatnya "wohoho. . . Lo emang sohib gue yang paling pengertian mbing" ucap Tino.


dan Royan langsung berdiri dari tempat duduknya menyita perhatian semua yang ada disana "perhatian semua nya, ini hadiah kecil dari gue karena kita udah lama nggak ngumpul mari bersenang-senang malam ini" ucapnya sedikit mengeraskan suara karena musik disana cukup keras.. "dan kalian ladies , satu meja satu ya" lanjutnya.


kemudian ketiga gadis itu berpencar dan langsung bergabung bersama para laki-laki itu, dan semua laki-laki yang berada disana adalah laki-laki kelas atas.


"Terry Situmorang" sapa Royan pada wanita seksi yang menghampiri meja mereka. Royan mengeluarkan uang banyak untuk dapat mengundang model papan atas luar negeri keturunan Indonesia itu dan Royan memang tidak pernah mengundang wanita yang biasa-biasa saja.


wanita bertubuh seksi dengan pakaian terbuka dengan bibir yang seksi pula, ia hanya tersenyum pada Royan kemudian pandangan wanita bule itu mengarah pada laki-laki yang acuh padanya.


"e elang suryo" katanya sambil menatap kagum pada laki-laki yang biasanya hanya dilihat dari koran bisnis luar negeri itu.


"kau mengenalku" ucap Elang datar.


Terry langsung duduk ditengah-tengah Elang dan Renaldi menyerobot begitu saja.


"Royan!!!" teriak Elang dan menatap tajam pada Royan dan merasa risih dengan Terry.


Royan yang menyadari itu segera membuka mulutnya "Terry sebaiknya kamu pindah kesini" ucapnya sambil menepuk sofa ditengahnya dia dan Tino.


"tapi..." sahut Terry


"maaf nona , aku dan temanku yang satu ini benar-benar tidak tertarik untuk bermain main, sebaiknya anda berpindah posisi" ucap Renaldi tiba-tiba.

__ADS_1


Terry mengalah daripada ia harus direndahkan lebih baik berpindah, dan memikirkan cara yang tidak terlalu agresif untuk mendekati Elang.


"maaf aku tadi belum menjawab pertanyaan Elang, tentu saja aku mengenalimu siapa yang tidak mengenali pemilik Elang Group , kau begitu bersih dari skandal aku mengangumi mu" ucapnya terang-terangan.


Terry menuangkan wine untuk Elang dan Renaldi "silahkan" kemudian berganti menuangkan wine untuk Royan dan Tino.


Elang meneguknya sampai tandas, sedangkan Renaldi memundurkan segelas wine yang menggoda di hadapannya.


"jadi elo masih nggak minum minum ci" ucap Tino


"yah elo kaya nggak tau pak dokter satu ini aja nyet" sahut Royan.


"satu gelas aja nggak akan buat Lo penyakitan nal" sahut Elang


"gue kan dokter, jadi kalo gue sakit gue nggak bisa ngobatin diri gue sendiri haha" candanya , begitu lah Renaldi sosok yang paling kalem diantara mereka namun juga bisa mengimbangi godaan dari mereka.


"emang paling bisa Lo kalo ngelak" ucap Tino


"masak dokter nyuntik dokter sih, kan gak lucu haha" Renaldi tertawa renyah


Elang merasa risih saat Terry terus menatapnya. ia mencoba cuek dan tidak peduli. bagaimana pun juga ini bukan yang pertama kalinya ia menghadapi wanita yang seperti Terry.


disatu sisi terlihat perempuan yang begitu gelisah, karena waktu menunjukkan pukul tengah malam sedangkan suaminya belum juga pulang.


Mila terus menatap keluar jendela kamarnya dengan ponsel yang masih menempel ditelinga nya , namun entah sudah beberapa kali ia menghubungi nomor itu namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban sama sekali.


"awas aja entar kalo pulang" gumam Mila kesal.


entah mengapa gejolak dihatinya begitu luar biasa karena Elang tak kunjung pulang, rasanya khawatir ini begitu menyesakkan dadanya.


Mila mencoba menghubungi aris.


"haloo mas Aris, mas Aris lagi sama Elang nggak?" tanya nya dengan nada melemah


"halo mil, enggak tadi aku langsung pulang soalnya udah larut jadi nggak jadi nyusul"

__ADS_1


"mas Aris, mas Elang belum pulang" ucapnya dengan air mata yang membasahi pipinya, mengapa ia menjadi selemah ini.


"kamu nangis mil?" tanya Aris karena mendengar suara Mila yang bergetar.


mila masih terdiam dengan sedikit isakan. . .


"mil , jangan nangis biar aku nyusul Elang kesana. . aku bakal bawa Elang pulang kamu tenang aja tidur duluan aja, aku pastiin bawa Elang pulang ya" Aris mencoba menenangkan


"ma makasih mas Aris"


tut. . . .


Tino yang baru saja dari kamar mandi menghampiri mereka . . . "brooo semua sory banget ya bini gue telpon gue harus pulang".


"cih, suami takut istri Lo" sahut Royan.


"serah deh gue gak peduli yang penting gue nggak bikin dia nangis". ucap Tino


"hahahaha sejak kapan elo berubah kayak gini nyet" sahut Royan.


Tino tak menghiraukan nya dan berlalu begitu saja.


Renaldi menepuk bahu Elang yang bersandar pada kursi dan memejamkan matanya. "Lang"


namun tidak ada jawaban seperti nya ia sudah mabuk berat.


Terry yang melihat itu hendak beranjak namun secepat mungkin Royan menahan tangannya. "jangan macem-macem" ucapnya.


"Aris" ucap Royan pada seseorang yang baru datang dengan nafas yang tersengal-sengal ,


"Royan, pak Elang ma-" kalimatnya terputus setelah melihat laki-laki. yang duduk bersama Elang.


"ris" panggil laki-laki itu berbinar


namun Aris membeku lidahnya kelu, masih mencoba menetralkan otaknya. . .

__ADS_1


__ADS_2