
Sarapan di pagi ini nampak begitu ramai, di kediaman keluarga Mawardi, semua nya berkumpul. . .
"ante Exel mau main sama Gem" ucap Exel mengerucutkan bibirnya karena terus dipaksa untuk makan terlebih dahulu oleh bundanya.
"nanti ya sayang, Gem masih tidur" ucap Mila yang sedang mengambilkan lauk pauk untuk suaminya.
"Exel makan dulu, nanti baru main sepuasnya sama Gem" sahut Erfan.
anak itu hanya menurut meskipun terlihat merajuk karena dilarang.
"Exel nanti main sama Gem sama opa ya" sahut pak Mawardi.
"papah libur?" tanya Mila.
"iya capek , biar diurusin kakak kamu aja. . . kalo kamu nggak mau".
Mila mendengus kesal, sebenarnya papahnya selalu memaksa untuk bekerja di kantor. Erfan sebenarnya juga ingin menyerahkan semuanya pada Mila . . . namun sama saja Mila menolak mentah-mentah, ia sekarang tidak butuh bekerja apapun. . atas kesepakatan nya bersama Elang.
papahnya dan kakaknya memaksa untuk memberikan lima puluh persen saham untuk Gemilang yang bahkan belum tau apa-apa.
"udah deh pah, nunggu Gem besar aja jangan paksa Mila" ucap mamah.
"belum tentu Gem juga mau, buat apa coba" sahut Mila yang memang tidak senang jika membicarakan masalah warisan.
"mentang-mentang suamimu sudah kaya" ucap Erfan dan mendapat lirikan sinis dari adiknya.
Sabrina menggenggam tangan Erfan agar diam dan melanjutkan makannya, karena perdebatan kakak adik itu memang tidak akan pernah ada ujungnya.
"kamu kayaknya akhir-akhir ini pulang malam terus ya Lang" ucap pak Mawardi menatap sang menantu.
Karena benar selama satu bulan ini Elang selalu pulang malam, namun jika ditanya kenapa Elang selalu bungkam.
"iya pah, lagi banyak kerjaan" sahut Elang.
"jangan capek-capek Lang, minta bantuan kakak mu kalo ada apa-apa" ucap pak Mawardi.
"iya pah".
"makan yang banyak mas" ucap Mila menyodorkan piring yang begitu penuh dengan nasi dan lauk.
"ini kebanyakan yang" ucap Elang.
"nanti kalo kamu nggak habis aku habisin deh" ucap Mila tersenyum lembut pada Elang, ia tahu Elang benar-benar lelah akhir-akhir ini seperti menanggung beban sendirian.
"makasih sayang"
"iya masku"
.
.
.
"aku berangkat dulu ya sayang" ucap Elang, Mila lalu meraih punggung tangan Elang untuk dikecup nya . . . kemudian Elang membalasnya dengan kecupan singkat pada bibir Mila.
Mila memeluk erat tubuh Elang seolah tidak rela jika kali ini suaminya benar-benar pergi, entah mengapa hati nya sangat ingin Elang disini menemaninya dan Gemilang dirumah saja.
jangan pergi mas...
Elang membalas pelukan Mila tak kalah eratnya "cuma sebentar sayang , nanti malam pulang. . . abis ini aku janji bakal ajak kamu liburan sama Gem" ucap Elang membelai lembut rambut Mila.
"jangan bekerja terlalu keras mas, kami tidak butuh uang mu" ucap Mila yang malah berurai air mata.
__ADS_1
"hey. . hey. . kenapa nangis sih" Elang menghapus air mata yang membasahi pipi Mila.
"entah mengapa kali ini aku benar-benar tidak ingin kamu pergi mas" lagi-lagi Mila memeluk Elang.
"untuk masa depan Gemilang yang, untuk kamu juga"
"tapi itu perusahaan kamu mas!, kenapa kamu harus bekerja sekeras ini hiks"
Mila menumpahkan segala sesuatu yang selama ini ia pendam, meskipun ia sangat mengerti perihal perusahaan, akan tetapi ia juga begitu rindu dengan suaminya.
"yang. . . sayang dengarkan mas mu ini" Elang menangkup wajah cantik istrinya "setelah ini aku berjanji akan benar-benar meluangkan waktu untuk kalian berdua".
dengan sangat berat hati Mila mengangguk, disisi lain ia juga tidak bisa memaksa Elang. . . itu hanya akan membebani suaminya saja.
"aku mencintaimu mil, jadilah wanita kuat untuk aku dan Gemilang" ucap Elang yang membuat air mata Mila luruh kembali.
"hati-hati mas" dengan sangat terpaksa Mila melepaskan rengkuhannya dari sang suami.
mengapa kali ini hatinya begitu tidak ikhlas melepaskan kepergian Elang, ingin sekali rasanya mengikat Elang agar tetap dirumah saja.
Mila terus memandangi mobil Elang yang sudah pergi dari hadapannya, Elang pergi dengan Aris yang selalu setia disamping Elang.
.
.
.
"ris, pastikan hari ini pulang lebih awal ya" ucap Elang pada Aris yang sedang mengemudi, ada perasaan sedih ketika melihat Mila seperti tadi, namun apalah daya pekerjaan yang menggunung sudah menunggu untuk dikerjakan.
"iya pak, hari ini tinggal cek di kota b saja" sahut Aris.
"langsung kesana saja ris, nggak usah mampir kantor biar bisa cepat pulang".
"sangat ris, apalagi sekarang kan cinta nya terbagi" ucap Elang ambigu.
"terbagi?" ucap Aris bingung.
"iya, antara aku dan Gemilang".
"oh saya kirain".
"makannya cepat menikah" ucap Elang yang membuat Aris menggaruk tengkuknya.
"satu tahun lagi pak" ucapnya.
"nunggu apa?, nunggu tunangan mu diambil orang" ucap Elang terkekeh.
Tiba-tiba hujan deras mengguyur wilayah Jalan tol yang nampak begitu sepi tidak seperti biasanya, Aris terus mengemudi dengan kecepatan lumayan tinggi.
Sepanjang perjalanan Elang terus menatap kearah jendela, meskipun raganya disini namun tidak dengan pikirannya . . . pikiran terbagi antara anak istrinya dan perusahaan yang mati-matian ia perjuangkan.
"pak Elang pegangan pak!" teriak Aris tiba-tiba pada Elang yang duduk di bangku belakang.
Elang tersadar dari lamunannya dan sontak kaget melihat Aris yang berusaha mengerem mobil nya karena truk besar tiba-tiba berhenti tepat di depan sana sedangkan kecepatan mobilnya terlalu tinggi sebelumnya.
BRAKKKKK !!!!!. . . . .
.
.
.
__ADS_1
brak. . .
suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring di telinga Mila, ia yang sedang menyusui sang buah hati sontak menoleh
Foto pernikahan nya jatuh dengan kaca yang bertaburan di atas nya, ia menatap nanar pada foto itu. tidak ada angin tidak ada hujan mengapa bisa jatuh begitu saja.
"Papii mu tidak papa kan Gem" ucap Mila yang sedari tadi perasaan nya sudah tidak enak.
Gemilang malah menangis begitu kencang.
huaaaa. . .huuuuuaaaaaaaa.....
"cup . .cup. . sayang ini nenn nya" namun Gemilang malah menolak dan menangis begitu kencang.
Mila menggendong Gemilang dan menepuk nepuk pantatnya "kamu mau apa nak , jangan menangis begini". ucap Mila begitu khawatir biasanya jika Gemilang menangis akan diam jika diberi ASI atau mainan kecil. namun ini berbeda anak itu terus menangis sesenggukan.
"sayang Mamii, jangan nangis nak. . . Mamii mohon" ucap Mila mengecup kening putranya.
"ada apa mil" ucap mamahnya yang berada diambang pintu.
"nggak tau mah , dia nggak mau diem dari tadi juga nggak mau *****".
"udah sini biar sama mamah, temui kakak kamu di bawah" ucap mamahnya mengambil alih Gemilang.
Dahi Mila mengernyit sejenak, tidak biasanya kakaknya kerumah disiang bolong begini.
"ada apa mah?"
"sudah turun saja" jawab mamahnya langsung menepis air matanya yang jatuh saat Mila keluar dari sana.
.
.
.
Tubuh Mila seolah limbung, tatapan nya kosong begitu kakaknya mengabarkan jika suaminya kecelakaan dan sedang dilarikan ke rumah sakit.
buliran bening itu mengalir begitu deras, namun tubuhnya tetap mematung seolah tidak bisa menerima apa yang dikatakan kakaknya.
Erfan menangkap tubuh Mila yang ambruk, namun matanya tetap terbuka. pak Mawardi dan Sabrina yang berada disana pun tak kuasa menahan tangisnya.
"ayo kita cari masku" ucapnya dengan bibir yang bergetar dengan tatapan yang begitu kosong.
"kamu harus bersiap Mil, apapun yang terjadi kamu tetap Mila wanita yang begitu kuat" ucap Erfan memeluk adiknya.
Mila kembali teringat akan ucapan Elang pagi tadi.
aku mencintaimu mil, jadilah wanita kuat untuk aku dan Gemilang.
apa maksud mu mas?
"kakak! ngomong apa sih!" sentak Mila , "ayo cepat cari masku, biar ku marahi dia . . . kenapa dia tidak mendengar ucapan ku tadi hiks hiks. . .aku meminta nya untuk tetap tinggal, apakah sesusah itu hua..hu. . hu. . hiks".
.
.
.
**Sory gaes lama up nya, benar-benar gak suka sama part ini huhuhuhu. . .
tetap vote ya buat aku lanjutin ceritanya
__ADS_1
💋💋💋💋💋**