
Pagi ini setelah pemeriksaan, Zeze membantu mamah untuk naik kursi roda. Katanya ingin mencari udara segar.
"Bisa nggak, Ze. Tapi mamah lagi lemes banget." Mamah tampak ragu ketika badan mungil Zeze ingin menghadangnya.
"Pelan-pelan mah,"
Zeze sekuat tenaga menahan tubuh mamahnya, namun itu semua sia-sia.
Bruk!
Mereka terjatuh berdua dengan posisi Zeze yang berada dibawah sang mamah.
"Ze!" teriak mamah.
Seorang laki-laki berlari menuju ruangan ketika mendengar teriakan yang begitu nyaring.
Royan segera mendekati mereka. Awalnya mamah bingung ketika melihat Royan, namun beliau diam saat Royan mengangkat tubuhnya. Karena Zeze juga terlihat kesakitan.
Royan segera mendudukkan tubuh mamah di kursi roda. "Tante nggak papa?" tanya nya mengusap-usap lutut mamah seolah ada debu disana.
"Bantu Zeze saja," mamah berkata enggan menatap Royan.
"Kamu nggak papa?" Tanya Royan membantu Zeze untuk berdiri, mengusap punggung wanita itu yang sepertinya juga syok.
Zeze menggeleng dan memegangi pinggangnya. "Pinggang aku aja kak yang agak ngilu."
"Kenapa nggak panggil aku tadi." Royan menatap Zeze penuh kekhawatiran. Lalu beralih menatap mamah. "Boleh saja bantu pijat pinggang Zeze, Tan?"
Karena melihat raut wajah Zeze yang kesakitan, mamah menyingkirkan segala egonya. "Ya."
Royan membantu Zeze agar tengkurap di sofa.
"Memang kamu bisa?" tanya mamah begitu ragu, atau jangan-jangan ini hanya modus laki-laki ini.
"Bisa tan.."
"Bisalah mah, kak Royan ikut perguruan yang sama seperti kak Elang. Mereka semua bisa memijat." Zeze terkekeh pelan mengingat hal itu.
"Baiklah, awas saja kalau Zeze kenapa-kenapa." Peringat mamah yang menunjukkan raut wajah khawatirnya.
Dengan ragu Royan menyingkap sedikit kaus yang menutupi pinggang Zeze. Meskipun ia sudah terbiasa melihatnya, namun kali ini didepan mamahnya. Jadi, mana bisa ia tenang.
"Dikit saja bukanya." Peringat mamah.
"I-iya tan." Royan begitu gugup.
__ADS_1
Royan memijit pelan pinggang Zeze. "Kalau sakit bilang ya," ucapnya lembut.
Zeze mengangguk, selalu mempercayai laki-laki ini untuk menyembuhkan lukanya.
"Coba duduk," ucap Royan membantu Zeze untuk beranjak.
Zeze tersenyum, "langsung hilang sakitnya."
"Kamu kok bisa ada disini." Mamah berucap dengan dingin.
Mereka menoleh, Zeze menahan lengan Royan yang hendak menjawab.
"Kak Royan temenin Zeze dari kemarin mah. Kak Royan yang cari buah untuk mamah, nebus resep obat mamah, dia rela tidur diluar karena Zeze nggak bolehin kesini. Takut mamah marah." Zeze menatap takut pada mamahnya.
"Yasudah, suruh dia pergi." Mamah begitu enggan untuk menatap Royan.
"Iya kak Royan memang harus bekerja. Nanti malam saja kesini lagi."
"Kamu bisa menyuruh Reza, Ze. Dia akan menemani mu." Kata mamah yang membuat Zeze menghela nafasnya.
"Zeze, anter kak Royan dulu mah." Pamit Zeze menarik tangan Royan agar keluar dari sana.
"Aku bakal jagain kamu sama mamah kamu. Meskipun beliau menolak, tapi percayalah Ze. Aku lakuin ini semua karena memang keinginan dari lubuk hati aku. Aku ingin memastikan kalian berdua baik-baik saja."
Zeze mengangguk, meraih tangan Royan untuk dikecup. "Kita usaha dari sini ya, kakak kerja dulu. Zeze bakal jaga hati Zeze kok, kakak nggak usah khawatir kalau mas Reza kesini."
Zeze membalas dekapan itu tak kalah erat. "Iya, kak."
.
.
.
Sore ini semangat Royan begitu menggebu-gebu karena berhasil menandatangani kontrak kerjasama dengan Elang Group. Ia melangkahkan kakinya dengan semangat menuju ruangan mamah Zeze.
Martabak manis serta sate kelinci sudah berada di genggamannya. Zeze memesan makanan itu karena tak berselera makan katanya.
Namun langkahnya terhenti, senyumnya memudar, ketika melihat Zeze berdiri didepan ruangan bersama Reza.
"Kamu lihat tadi kan, mamah kamu langsung sembuh begitu aku jenguk." Perkataan Reza masih terdengar samar dengan jarak Royan yang lumayan jauh.
"Mamah memang sudah sembuh dari tadi pagi." Zeze menatap tidak suka pada laki-laki percaya diri ini.
"Minggu depan kita fitting baju pengantin ya, kamu dengar sendiri kan mamah kamu nyuruh apa." Reza masih mempertahankan senyumnya dihadapan Zeze.
__ADS_1
"Saya sebenarnya heran, kenapa bapak begitu memaksa menikahi saya. Padahal kenal juga baru, tidak ada kelebihan yang saya miliki. Apa yang anda incar sebenarnya?" Tatapan tajam Zeze hunuskan pada Reza.
Reza mengangguk dan tersenyum kecil. "Kamu ternyata cukup jeli untuk urusan ini."
"Katakan apa mau anda yang sebenarnya!" Zeze begitu emosi kali ini. Namun rengkuhan di bahunya membuat Zeze sedikit lebih tenang. Menatap Royan adalah ketenangan dan kenyamanan tersendiri baginya.
"Pergi!" Usir Royan yang sedang malas berdebat.
"Anda boleh menyentuhnya sekarang. Tapi lihat saja mulai minggu depan Zeze milik saya." Tegas Reza sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Zeze berkali-kali menghela nafasnya ketika melihat langkah kaki Reza yang semakin menjauh. "Zeze nggak habis pikir sama dia."
Royan mengusap-usap lembut rambut Zeze. "Semakin kesini dia semakin mencurigakan. Kakak akan mencari tahu tentang Reza Atmaja."
"Zeze nggak kuat lagi ngadepin dia kak."
"Sabar Ze, makan martabak dulu saja biar tenang." Royan mengulas senyumnya sembari menyerahkan kantong itu.
"Kakak memang selalu tahu apa yang Zeze inginkan." Zeze menggenggam tangan Royan untuk memasuki ruangan. "Mamah lagi tidur kok, tenang saja."
Mereka duduk di sofa menikmati martabak manis rasa cokelat kacang. Zeze menyuapi Royan dengan telaten, karena tahu betul Royan tidak suka memegang martabak yang akan mengotori tangannya.
"Gimana keadaan mamah kamu?" tanya Royan sembari mengunyah.
"Sudah mendingan kok. Paling besok sudah boleh pulang."
Royan mengangguk. "Ze, lebih baik kamu ikut mamah mu pulang saja. Temani beliau."
"Tapi kak, gimana kalau nanti mamah paksa Zeze buat nikah sama mas Reza."
"Kamu tenang saja, pelan-pelan aku akan usaha ya. Aku nggak akan ngebiarin hal itu terjadi Ze."
Mata yang masih terpejam itu, mendengar jelas apa yang tengah mereka bicarakan. Tak bisa ia pungkiri bahwa Royan begitu perhatian dan menjaga Zeze. Namun tetap saja masih ada ketidakrelaan ketika anaknya bersama laki-laki itu.
"Semoga mamah cepat luluh ya kak." Zeze bergelayut manja pada lengan kokoh Royan. Dan kalimat yang baru saja terucap membuat hati mamah begitu ngilu mendengarnya.
Ia seperti ibu yang kejam, tidak membiarkan anaknya untuk bahagia.
Maafkan mamah, Ze.
.
.
.
__ADS_1
Untuk vote sama hadiahnya di novel aku yang judulnya "Bartender cantiku" saja ya. Daripada disini sia-sia.
FOLLOW IG AKU YA GAESSS @BLUESKYMA1