Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
isi hati Mila


__ADS_3

"aku akan menemanimu Lang" ucap Renaldi menatap sahabatnya yang lemas setelah keluar dari ruangan itu.


"jangan merepotkan dirimu sendiri" jawab Elang


Al menggelengkan kepalanya "sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan, kak Erfan nggak papa kan nemenin Mila sendirian".


"gapapa, aku masuk dulu ya" Erfan bergegas menuju ruangan Mila.


Elang juga mengajak Al masuk ke ruangan disebelah mila. Elang merebahkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Al memilih duduk disofa.


"dulu, aku juga sama kagetnya dengan mu" ucap Al memulai pembicaraan.


"sekarang aku tahu alasan mu yang tiba-tiba membenci Retha, padahal dulu kamu yang sangat perhatian padanya" ucap Elang mengingat masa lalu.


"sebenarnya mereka berdua sama-sama salah tapi Mila berada di dalam kondisi paling parah, mana mungkin aku tetap baik ke Margaretha setelah tahu ia yang menyebabkan Mila depresi. . . aku salah Lang ,jangan meniru ku. . . aku percaya kamu orang yang bijak".


"apa yang harus aku lakukan nal, kamu tahu kan aku menganggap Margaretha sebagai adikku sendiri. dia hanya begitu karena butuh kasih sayang. . . sedangkan Mila adalah orang yang sangat aku cintai bahkan perhatian ku tidak pernah kurang selama ini padanya tapi tetap saja aku tidak bisa menenangkan nya".


"cih , menggelikan. . . kamu merasa hebat Lang diperebutkan oleh dua perempuan sekaligus" ucap Al tertawa, Elang ikut tersenyum mendengarnya.


"kenapa kalian semua merasa Margaretha menyukai ku" ucap Elang santai


Al mengerutkan keningnya karena tak paham, dan Elang bisa mengerti itu.


"nal, dia begitu padaku setelah kamu mengacuhkan nya dulu. . . aku yakin dia benar-benar kehilangan sosok dirimu, dia mendekati ku hanya karena ingin membuat mu cemburu, mana mungkin ia menyukai ku yang dingin ini sedangkan kamu adalah sosok yang begitu hangat". Elang mengingat betapa cuek nya ia pada para wanita, berbeda dengan Al yang memang perhatian dan baik pada siapapun.


Al kembali mengingat kejadian dulu, ia benar-benar marah pada Margaretha dan mementingkan Mila mungkin itu juga memupuk kebencian Margaretha pada Mila.


"ja jadi maksudnya dia suka sama aku hahahah" Al terus tertawa.


"serius nal, aku hanya obsesi nya saja. . . dihatinya yang terdalam pasti kamu".


"jangan ngarang Lang"


"jangan terlalu perhatian kepada orang jika kamu tidak bermaksud apa-apa, retha sangat salah paham padamu dulu" Elang mengingat Al yang begitu perhatian pada Retha , namun semuanya tidak lagi setelah Al mengenal perempuan terlarang nya, yaitu Mila.


"iya aku akan meminta maaf padanya". ucap Al


"nal. . . apa Mila memang separah itu jika kambuh, aku hanya pernah melihat nya dua kali" tanya Elang begitu serius.


"dulu ia sempat melakukan percobaan bunuh diri" ucap Al hati-hati.


Elang membelalakkan matanya tak percaya "a apa?"


"hanya aku yang tahu ini, ia melarang memberi tahu siapa-siapa"


Elang masih tercengang mendengarnya "apakah separah itu, a apa aku harus mengeblok akses Margaretha ke negara ini".


"apakah kamu tega Lang, dia bahkan tidak memiliki siapa-siapa" ucap Al meyakinkan.


Elang hanya menghela nafasnya. . .

__ADS_1


.


.


.


sudah tiga hari ini Elang menepati janjinya untuk tidak menemui Mila terlebih dahulu, namun ia selalu mengusahakan melihat nya dari kejauhan. ia hanya mendekat jika Mila sudah terlelap.


tapi selama tiga hari ini keadaan Mila masih sedikit mencemaskan, pasalnya ia sangat mudah tersulut emosi dan nafsu makannya pun menurun.


saat ini Al, dokter Puri dan dokter Meli melakukan pemeriksaan terhadap Mila dan mencoba untuk menasehatinya. Erfan sendiri pun bingung apa yang harus ia lakukan pada adiknya, sedangkan lusa adalah hari pernikahannya.


"bumil makannya harus yang banyak ya" tutur Al dengan nada bercanda nya.


"tuh dengerin dek" ucap Erfan yang berada di samping Mila.


"beneran nggak nafsu banget koh". ucap Mila lemas


"Bu Mila, kalo ibu cepat ingin keluar dari sini Bu Mila harus sedikit memaksakan diri untuk menelan makanan" tutur dokter Meli


Dokter Puri menepuk bahu Mila "pikiran nya yang santai aja, jangan terlalu setres".


"iya dok".


"makan ini dulu ya aku suapin deh" ucap Al mengambil piring yang sudah berisi makanan.


"emang nya aku anak kecil" sahut Mila dengan mengerucut kan bibirnya.


"dasar" Mila tertawa kecil lalu menerima suapan dari Al, namun seperti biasa Mila hanya menghabiskan beberapa sendok saja.


"ini minumnya" Al memberikan segelas air putih, lalu Mila meneguknya.


ceklek. . . pintu ruangan itu terbuka terlihat sepasang paruh baya berada disana.


tatapan tidak suka langsung dilayangkan pada Al oleh mamah Mila.


"Mila kamu kenapa?, kenapa nggak kasih tahu papah?" ucap pak Mawardi khawatir.


"kamu ngapain kesini!" ucap mamah Mila dengan sinis pada Al , apalagi terlihat Al sehabis menyuapi Mila.


"maaf Tante" ucap Al


"Mila, dimana suami kamu . . kenapa malah dia yang disini!"


"mah. . " erfan mencoba menenangkan mamahnya.


"Elang mana!"


"mah , cukup!" ucap Mila


"kamu ngapain sama laki-laki duda ini, Mila ingat ya kamu lagi hamil! . . . jangan berani-beraninya bermain dibelakang suami kamu".

__ADS_1


"mah kokoh Al itu orang yang baik, tapi kenapa sih mamah nggak pernah bisa melihat ketulusan hatinya. . . dia kesini sebagai teman mila".


"jangan tertipu dengan wajah polosnya!, dia hanya ingin memanfaatkan mu".


"mah cukup!, sudah cukup mamah merendahkan koh Al. bahkan orang yang terus mamah rendahkan dan mamah caci maki selama ini adalah orang yang berjasa pada Mila, asal mamah tahu kalo bukan karena koh Al Mila mungkin udah mati" ucap Mila meninggikan suaranya dan mulai menangis.


baru saja Erfan ingin mencegah Mila untuk berbicara lebih tapi dokter Puri menghalangi nya dan berbisik "biarkan Mila mengatakan apa yang selama ini ia pendam, setelah ini pasti ia lega" dan Erfan hanya bisa pasrah.


"maksud kamu apa mil?" ucap pak Mawardi


"asalkan papah sama mamah tahu ya . . .selama ini Mila sakit jiwa, Mila stres depresi dan ingin mati saja" ucap Mila dengan isak nya.


"nak. . " pak Mawardi mencoba menyentuh bahu Mila namun ditepis oleh nya.


"dulu koh Al selalu ada buat Mila, bahkan ketika Mila di bully pun. . . papah sama mamah selalu sibuk bekerja, selalu mementingkan kak Erfan putra mahkota kalian diatas segalanya. . ."


Mila menghela nafasnya sejenak "saat Mila dibully oleh teman-teman Mila karena fisik Mila , Mila benar-benar ingin mati dengan tenang, toh kalian juga tidak mengharapkan mila".


"Mila jangan berbicara seperti itu" ucap pak Mawardi yang masih kaget dan mamahnya pun sudah menangis karena melihat Mila yang begitu hancur.


"semua itu benar adanya!, kalian hanya menginginkan kakak bukan untuk jadi pewaris. dan aku memang nggak butuh harta kalian. . . kalian selalu mementingkan pendidikan kakak!, dan mengambing hitam kan Mila!, aku tahu secara teori dan akademis kak Erfan memang jauh diatas ku . . . tapi secara praktek aku lebih dari kakak, karena memang dari dulu aku mengurus perusahaan sedangkan kakak masih asik belajar. aku mengorbankan masa muda ku demi perusahaan kalian. . . pah? apa papah pernah melihat Mila kalah dalam memenangkan tender?, apa Mila pernah gagal dalam mengajak perusahaan lain bekerja sama. . . tapi semua itu sama saja kalian tidak pernah memandang ku".


"sayang. . . jangan seperti ini" pak Mawardi meneteskan air matanya, ia tak menyangka Mila berfikir seperti itu. .


apakah benar ia tidak adil pada Mila selama ini. .


"dua kali pah!, dua kali Mila ingin mati dan selalu koh Al yang menghalangi ku untuk menjemput kematian. . . tapi papah sama mamah malah bersikap begitu padanya, mila malu sama kokoh" Mila terus menangis tersedu-sedu. . dan mamahnya juga ikut menangis. .


"apa mamah sama papah tahu ?, aku membangun butik, bahkan tidak ada niatan untuk menjadi designer . . .tapi Mila mendirikannya hanya ingin lari dari keluarga ini dan meninggalkan nama Mawardi Utama saat mamah dan papah tidak merestui hubungan kami".


"Mila sudah cukup, semuanya sudah kamu keluarkan" dokter Puri mendekati Mila lalu memeluknya.


"maaf kan mamah nak, maafkan mamah" ucap mamahnya penuh penyesalan dan bahkan saat ini sudah terduduk lemas mendengarkan isi hati putri nya selama ini.


"Mila selalu menuruti keinginan kalian berdua" ucap Mila terisak-isak. . .


dokter Puri mengusap-usap punggung Mila dan membisikkan sesuatu yang membuatnya tenang. seolah Mila terhipnotis oleh semua kata-katanya ia langsung mengantuk begitu saja, inilah keahlian dokter Puri ia bisa menidurkan seseorang tanpa menggunakan bius ataupun obat tidur.


Erfan masih tercengang oleh apa yang dikatakan adiknya, selama ini Mila tidak pernah protes akan hal itu. . . betapa menyedihkannya ia harus memendam ini semua sendirian.


semua orang disana bahkan meneteskan air matanya, tak terkecuali Al yang bahkan sudah tahu semuanya. . . tapi ia sangat salut pada Mila yang selalu bersikap tegar seolah tidak ada apa-apa.


.


.


.


**gaesss slow up ya, lagi pulang kampung ini . . . up nya seadanya maaf kalo banyak typo. lagi mementingkan waktu bersama keluarga ...


lopeyuall 💋💋💋💋**

__ADS_1


__ADS_2