
jantung Mila serasa ingin meninggalkan tempatnya, saat mamahnya memencet tombol itu.
sedangkan pak Mawardi memilih duduk bersama sang menantu. Mila masih berdiri bengong di samping ranjang kakaknya.
"sayang sini" panggil Elang , Mila langsung beranjak duduk didekat suaminya.
Elang sangat paham ekspresi mila saat ini, ia pasti takut jika Al datang kesini..
ceklek. . .
sosok pria berjubah putih dengan mata yang menyipit juga kulit yang putih namun tetap saja tampan. ia menatap orang disana tanpa ekspresi, sedangkan semua orang yang disana . . .tentu saja kaget melihatnya.
pak Mawardi melirik kearah putri nya yang tertunduk, sedangkan mamahnya langsung melayangkan tatapan tidak sukanya. Erfan juga hanya memandang cemas adiknya.
"masuk dok" suara pak Mawardi membelah keheningan.
Al mengangguk seraya berjalan mendekati Erfan lalu memeriksa beberapa alat vitalnya. mamah Mila terus memandangi Al tapi beberapa saat ia berjalan kearah suaminya ia duduk diantara Elang dan pak Mawardi.
betapa ingin menunjukkan jika keluarganya sangat sempurna saat ini, mantu yang tampan, kaya raya, ia menatap Al seolah mengejek.
"Lang, kamu nggak kerja kok bisa ada disini" tanya mamah dengan nada suara yang dibuat sengaja.
"iya mah, tadi rencananya mau nyusul Mila makan siang. tapi malah dapet kabar tidak mengenakan tentang kak Erfan".
"ya ampun sayang, jangan bilang kamu belum makan". tutur mamah mila.
Al tau jika mamah Mila hanya memancingnya dan ingin menunjukkan Elang lah yang pantas bersanding dengan putrinya.
Elang menggelengkan kepalanya...
"Mila gimana sih suamimu belum makan loh, jangan sampai sakit Lang . . . kamu kan orang penting" ucapnya melirik Al.
"beneran kamu belum makan mas?" Mila masih saja tegang.
"belum sempet".
"ajak Elang makan dulu gih" ucap mamahnya.
"iya mil sana, kasian Elang" pak Mawardi ikut bicara.
"ayo mas" dengan ragu Mila meninggalkan ruangan itu bersama elang.
maafkan aku koh, aku harus meninggalkan mu. .
semoga keluarga ku tidak semena mena padamu.
ceklek. . . pintu ruangan tertutup.
"bagaimana keadaan erfan Al?" tanya pak Mawardi.
__ADS_1
"untuk bagian dalamnya aman om , cuma untuk tangannya butuh beberapa Minggu untuk pemulihan" tutur Al.
"kenapa harus kamu sih dokternya, memangnya dirumah sakit ini tidak ada dokter lain apa" ucap mamah mila sinis.
"mah udahlah" Erfan menenangkan.
"maaf Tante, saya hanya berniat menolong kak Erfan saja tidak lebih" ucap Al dengan sopan.
"dia bukan kakak kamu!"
"mah udahlah, nak Al duduk sini" pak Mawardi menunjuk sofa di depannya.
"iya om"
Al duduk menghadap kedua orang tua mila, persis seperti beberapa tahun yang lalu. . . dalam situasi yang menegangkan.
"maafkan om sama Tante tentang kejadian tidak mengenakan dulu ya" ucap pak Mawardi.
"pah-" pak Mawardi menepuk paha istrinya agar diam.
"saya juga minta maaf jika saya harus kembali kesini om, karena saya memang tidak bisa jauh dari tanah kelahiran saya"
"tidak apa-apa yang penting sekarang masalah sudah selesai, Mila sudah bahagia bersama Elang" tutur pak Mawardi.
"iya bahagia lah, apa sih kurang nya Elang" sahut mamah Mila.
"iya saya tahu Tante, saya ikut berbahagia jika Tante sudah menemukan mantu idaman Tante".
"baiklah kalau begitu jangan pernah berharap pada mila, ataupun menemui nya" ucap mamah Mila terus terang.
"jika Mila bahagia saya akan terus diam seperti ini Tante, tapi jika ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya. . . maafkan saya jika saya harus turun tangan".
"apa maksud kamu!!"
"maaf Tante saya harus permisi dulu, sudah ditunggu pasien yang lain. . . . mari om, kak" Al meninggalkan ruangan itu, memang gegabah jika ia menentang mamah Mila tetapi ia sangat serius dengan perkataannya itu.
"mamah benar-benar tidak habis pikir! huh".
"sudah lah mah" pak Mawardi menenangkan sedangkan Erfan juga ngilu mendengar kan mamahnya yang begitu kejam. Al termasuk sosok yang gigih dari dulu, tapi bagaimana dengan Sabrina yang hatinya begitu rapuh?, mampukah ia menghadapi mamahnya?.
.
.
.
"kamu nggak makan lagi?" tanya Elang yang kini melahap makanannya.
Mila menggelengkan kepalanya, sangat terlihat jelas diraut wajah nya menunjukkan kekhawatiran.
__ADS_1
aku harus bagaimana mil?..
Elang tidak bisa berkata-kata hanya mampu memandangi Mila yang juga terdiam, seketika rasa percaya diri untuk berjuang hilang seketika memperhatikan raut wajah Mila yang penuh dengan kecemasan.
"kalian disini" tanya Royan yang baru saja datang
Mila dan Elang menoleh seketika "iya" jawab Elang singkat.
"gue udah tau masalah Lo Lang, dari Tino. . . dan ini menyangkut persahabatan kita".
"masalah apa?" tanya Mila yang tidak tahu pembicaraan mereka.
"kamu juga harus ikut mil, semua harus diluruskan" ucap Royan.
"Yan, gue sendiri aja" ucap Elang
"nggak Lang semua harus jelas!".
Elang melirik Mila. . ."yasudah lah" ucapnya pasrah, semangat nya begitu pudar.
"jam tujuh nanti di kafe XXX lantai paling atas" ucap Royan kemudian pergi begitu saja, ia ingin meluruskan masalah Elang dengan Al, jika tidak ia tahu betul Elang yang mudah tersulut emosi jika sedang cemburu.
"masalah apa sih mas?" tanya Mila
"udahlah nanti kamu juga tahu, dan sepertinya kamu harus segera berbicara tentang hal yang kemaren ingin kamu bicarakan".
Mila menunduk "aku belum siap mas"
"jika menunggu mu siap harus berapa lama lagi mil, sampai kamu ragu lagi perasaan mu padaku?" ucap elang.
"mas, buka-".
"sudah lah mil, aku harus ke kantor" Elang melihat jam tangannya. "kamu masuk sendiri ya salam buat mereka semua".
CUP. . . Elang mendaratkan sebuah kecupan manis di kening istrinya, saat ini pikiran Elang benar-benar kalut . ia harus menenangkan dirinya dulu, sebelum mempersiapkan diri untuk nanti malam.
kemudian ia pergi begitu saja. . . .
.
.
.
**HALOHAA SEMUA. . .
BANTU NAIKIN RANKING LAGI DONG
TURUN BANYAK BANGET PARAH huhuhuhu...
__ADS_1
vote ya 💋💋💋💋💋💋**