
Jam istirahat sudah tiba, Embun memilih duduk di kelas. Naura bergegas ke kantin, karena dari cacing di perutnya terus saja berisik minta diisi.
Embun mengeluarkan bekal dari dalam laci. Sejak tadi Naura merengek ingin meminta bagian, tapi Embun tegaskan bahwa ia tidak ingin berbagi. Dengan dalih, kalau nasi goreng buatan neneknya yang terenak yang ia makan.
Jelas saja Naura bersungut dan pergu tanpa mengajak Embun. Bayu dan Azriel tampak mengejar Naura. Mereka sepertinya penasaran akan sikap Embun kala hujan kemarin.
"Ra, tunggu," kata mereka kompak.
Naura menoleh dan memandang kedua lelaki itu intens. "Apa? Malas aku bareng kalian."
"Ya ampun, Ra. Gitu amat. Lagian, sama-sama mau ke kantin juga."
Kedua anak lelaki itu kini berjalan beriringan dengan Naura. Sesekali Bayu mencuri pandang ke arah Naura.
"Ra, semalam bukannya kamu pulang bareng Embun, ya?"
"Ya. Emang kenapa?"
"Kok aku lihat dia sendirian?"
"Hah? Apa? Sendirian? Embun?"
"Ya, kita panggilin diam aja. Mana hujannya deras."
Naura tampak berkedip dan bingung. Pasalnya, ia sangat tahu kalau sahabatnya itu takut dengan hujan. Kenangan menyakitkan kembali terulang kala tetesan air jatuh membasahi bumi.
Bahu Naura ditepuk oleh Azriel. Ia terlonjak kaget, seketika rasa laparnya hilang. Pikirannya melayang bertanya-tanya ke mana perginya Galang. Bukannya dia kemarin meninggalkan Embun bersama dengan salah satu bintang basket itu.
"Ye, dia malah ngelamun."
"Mmmhh, aku ada keperluan dulu semalam. Jadi terpaksa tinggalin dia. Katanya sih, dia mau dijemput Om Juna," kilah Naura yang sengaja menyembunyikan keberadaan Galang.
"Btw, yang masih jadi pertanyaan. Motornya Galang itu nggak jauh loh dari tempat Embun, tapi orangnya nggak ada."
"Ya, tau tuh anak ngilang ke mana."
Tangan Naura sudah dikepal geram. Ia marah besar pada Galang sebab tidak bisa menjaga Embun dengan baik, meski Galang sendiri tidak tahu kalau Embun punya trauma akan hujan.
"Em, tumben kalian nggak bareng Galang. Biasanya kembar tiga."
"Tau tuh anak, dari tadi ngilang mulu. Apa hobi barunya itu mungkin, ya."
"Aku curiga, deh. Kalau Embun sama Galang itu ada apa-apa," ucap Azriel penasaran dan memicingkan mata seolah mencaro jawaban dari Naura.
Naura memukul kepala Azriel kuat, hingga ia hampir tersungkur. "Itu tuh nggak mungkin. Kalau Galang siap dijadikan perkedel sama Om Juna, silakan deketin Embun. Lagian, Embun itu nurut banget sama Om Juna. Sekarang Galang di mana?"
Mereka berdua kompak mengangkat bahu. Naura membuang napas kasar dan buru-buru kembali ke kelas. Mencari keberadaan Galang. Dengan langkah seribu, Naura menaiki tangga.
Sesampai di kelas, ia menyapu setiap sudut mencari Galang. Namun, hasilnya nihil. Galang tidak ada di sana, begitu juga Embun.
Mereka berdua rupanya tengah berada di loker para pemain basket. Tempat yang biasanya sepi kala tidak ada pertandingan atau latihan.
Kursi kayu panjang dengan lemari berbentuk persegi dengan kunci masing-masing yang pemain miliki tertata di samping kursi.
Embun diminta Galang duduk. Galang berlutut di depannya, menatap lekat bola mata bulat Embun. Tatapannya mencari sesuatu, Embun menjadi salah tingkah melihat aksi Galang.
Galang memegang kedua tangan Embun. Ia meremas-remasnya. Embun mengerutkan dahi.
"Mbun, kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Galang lagi, sontak wajah Embun memerah. Menurut Galang, yang kemarin itu hanya ingin melihat ekspreai Embun. Begitu ia yakin, barulah dinyatakan dengan cara spesial.
Embun mengulum senyum, lalu mengangguk. Galang tersenyum semringah. "Tapi, ada syaratnya Embun. Apa kamu bisa?"
"Syarat?"
"Ya."
"Apa?"
"Kamu harus jujur sama aku. Bisa?"
__ADS_1
"Sebisa mungkin aku jujur, tapi kalau ada satu hal yang aku butuh waktu untuk kasih tau kamu, berarti itu hal yang beraaaat banget buat aku. Kamu bisa ngerti?"
"Bisa Embun."
Galang bangkit dan duduk di samping Embun. Tangan Embun tidak dilepas Galang hingga bel berbunyi. Embun sudah sibuk akan pergi, tapi Galang masih saja ogah melepaskan kekasihnya itu.
"Lang, kita harus masuk kelas."
"Sebentar lagi ya, Mbun. Lima menit lagi. Aku masih pengen deket-deket sama kamu."
"Tapi, Lang."
Galang mencium pipi Embun, sontak Embun kaget. Matanya membulat sempurna. Tidak percaya apa yang sudah dilakukan Galang padanya.
"Galang, ih!" gerutu Embun yang memukul-mukul lengan Galang. Galang hanya terkekeh, ia tahu kalau Embun tengah malu saat ini.
Galang terus mengembangkan senyum sembari menggenggam tangan Embun keluar dari loker tim basket. Mereka berjalan menyusuri lorong, saat sudah hampir berada di halaman sekolah, Embun menarik tangannya.
Galang yang jahil malah terus saja mengeratkan genggamannya.
"Galang, nanti ketahuan anak-anak."
"Biarin, biar mereka tahu kalau aku udah punya kamu."
"Ya, tapi akunya yang nggak siap kalau harus dibully sama yang lain."
Galang dan Embun sepakat melepaskan genggaman. Sebelum ada yang melihat mereka. Kisah manis di sekolah tengah dirasakan keduanya. Ini pertama kalinya bagi Embun.
Sesampai di kelas, sontak mereka diberondong pertanyaan oleh Naura yang sejal tadi mencari. Beruntung, masih belum banyak anak-anak yang lain.
Naura berkacak pinggang berdiri di hadapan keduanya meski berjarak lumayan jauh. Jari telunjuk Naura bergerak meminta Galang ikut serta. Mereka berdiri di sudut kelas.
"Lang, bukannya semalam kamu sama Embun, ya. Terus, kenapa kamu tinggalin dia sendirian? Mana hujan lagi!"
"Ck! Apaan sih, datang-datang langsung nyerbu kayak gitu. Kamu pikir aku tahanan! Lagian, emang kenapa kalau hujan?"
"Yah, nggak apa-apa, sih."
"Justru karena hujan, makanya aku pergi sebentar beli payung. Udah ah, males ngomong sama kamu."
Galang pergi, ketika berada di samping Embun ia mengedipkan mata seraya tersenyum. Embun terbelalak, takut jika Naura mengetahuinya.
"Mbun."
"He uh?"
"Kamu kenapa nggak jujur aja sih sama semua orang. Terutama sama Galang. Kalau sebenernya kamu tuh trauma sama hujan."
"Ssssttt ...!" Embun membungkam mulut Naura dengan tangannya. Takut Galang dengar, sebisa mungkin ia menutupi hal ini. Bukan untuk selamanya, hanya saja belum waktunya bagi Embun untuk bercerita panjang lebar tentang dirinya pada Galang.
"Argh!" teriak Embun yang tangannya digigit oleh Naura. Embun mengibas-ngibaskan tangannya karena sakit.
"Mbun, anak-anak juga pada penasaran sih sama kamu. Mereka selalu perhatiin kamu, waktu hujan. Untung, aja Om Juna dulu jelasin ke para guru."
Guru yang lain sudah tampak melangkah masuk, kami buru-buru untuk kembali ke kelas. Sekilas Embun melirik Galang, yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada semburat senyum, ada juga tatapan penuh arti.
Kegiatan belajar mengajar sudah usai. Tadi Galang sempat mengirim pesan pada Embun untuk pulang bareng. Jelas saja Embun mengiyakan. Siapa yang tidak ingin dekat-dekat dengan pacarnya.
Naura sengaja diminta Embun untuk pulang duluan. Masih ada hal yang harua diurus Embun, begitu alasannya pada gadis centik itu. Embun sengaja menunggu Galang dengan berpura-pura menyusun buku.
Azriel dan Bayu juga tampak mengajak Galang pulang bersama, tapi Galang beralasan bahwa sedang ada latihan.
Galang mulai melangkah ke arah tempat duduk Embun. Kelas sudah sepi, hanya ada mereka berdua.
"Yuk!" ajak Galang yang meminta tangan Embun. Sontak saja gadis itu memberikan apa yang Galang minta. Jari-jari Galang menyusup ke sela jemari Embun.
Mereka berjalan beriringan dengan senyum yang mengembang sempurna. Naura mungkin sudah jauh dari meninggal Embun. Ia kini sudah berada di depan pagar.
Naura tampak menghentikan langkah sejenak saat melihat Juna yang duduk di atas motor dengan gagahnya. Naura mencoba memutar balik agar Juna tidak melihatnya. Namun, sayang sikap Naura tersebut sudah terlebih dulu tertangkap netra Juna.
__ADS_1
"Naura," panggilnya yang membuat Naura tidak bisa berkilah lagi, segera ia kembali ke jalan utama.
Naura mengambil ponsel, cepat-cepat mengirim pesan pada Embun kalau Juna sudah tiba di depan gerbang.
"Gila ...! Mbun, Om Juna nunggu di depan gerbang. Buruuuaaannn...!"
Embun yang sadar ponselnya berdering langsung mengecek pesan yang masuk. Embun melotot dan langsung pamit pada Galang.
"Lang, kayaknya aku nggak bisa pulang bareng kamu, deh. Om Juna udah nunggu di depan."
"Oh, oke. Besok pulang sekolah kita nonton, ya."
"Ya. Bye."
"Bye, Pacar."
Embun sedikit berlari mendatangi Juna. Pasalnya, sekarang memang mereka sudah janjian untuk pergi ke makam Ratna juga Ahmad. Itu sebabnya, Juna berangkat pagi buta.
"Om Juna."
"Hei, Mbul. Kamu kok belakangan keluarnya? Nggak bareng Naura?" telisiknya yang menunjuk ke arah Naura dan Embun bergantian.
"Ya, tadi Embun masih ada catatan sedikit, Om. Makanya nyuruh Naura duluan."
"Terus kalau Naura pulang duluan, kamu pulang sama siapa nanti?"
Kedua bocah sekolah menengah ini tampak bingung menjawab pertanyaan Juna. Hanya mata yang menari ke sana kemari.
"Embun bisa pulang sendiri, Om. Atau kan bisa telepon Kakek."
"Hem, oke. Tapi kamu nggak boleh pulang sendirian. Kalau kira-kira pulang telat, minta Naura temeni. Bisa 'kan, Naura?"
"Emh, emh ... bisa, Om."
"Oke. Yuk sekarang, kita pulang. Naura, Om cuma bawa motor, jadi nggak bisa anterin kamu sekalian. Kamu nggak apa-apa pulang sendiri?"
"Nggak apa-apa, Om. Temen-temen yang lain juga banyak yang satu arah."
Juna tampak gusar, ia tidak tega melihat gadis itu pulang sendirian. Tapi, ia juga tidak mungkin membawanya bersama di atas motor miliknya. Galang keluar, Juna langsung meminta Galang berhenti.
Juna ingat, kalau kemarin anak laki-laki itu mengantar Embun hingga ke rumah. Jadi, ia berpikir bisa menitipkan Naura padanya.
"Hei, bocah."
Galang menunjuk diri sendiri, memastikan kalau Juna benar memanggilnya.
"Ya, kamu."
"Ada apa, Om?"
"Kamu yang semalam antar Embun pulang, kan?"
Naura menatap Juna dan Galang tidak percaya. Biasanya Juna selalu bersikap galak pada pria yang mendekati Embun. Tidak terkecuali dengan Galang. Namun, Galang tidak gentar.
"I-iya, Om."
"Antar Naura pulang!" perintahnya yang menyuruh Naura langsung naik ke motor Galang. Naura menatap ke arah Embun juga Galang.
"Boleh, Lang?"
Galang menarik napas panjang, mau menolak permintaan Juna. Diterima tidak enak dengan Embun. Embun memasang ekspresi datar, ia berpikir harusnya dia yang berada di belakang Galang.
"Em, tapi Om kalau pacar saya nanti marah gimana? Dikiranya nanti saya selingkuh, lagi."
"Alah, masih bocah. Udah anterin aja."
"Ya, Lang. Anter aja. Aku nggak enak loh, kalau Naura pulang sendiri."
"Em, oke. Bye."
__ADS_1