Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Hai, Pacar


__ADS_3

Embun menatap nanar. Ia tidak percaya, di saat kacau begini mengapa justru pria yang sukai sejak lama yang melihatnya hancur.


Galang hanya diam. Tidak ada tanya atau kata yang terlontar. Ia fokus memayungi Embun, lalu menyejajarkan diri dengan Embun. Payung hitam besar ia apit dengan leher, lalu kedua tangannya mengikat tali sepatu Embun.


Embun menarik kakinya ke dalam, ia tidak ingin Galang melakukan itu. Namun, pria itu seperti memaksa. Ia membawa kaki Embun lebih dekat dengannya. Setelah selesai ia bangkit, Embun mendongak melihatnya.


Tatapan mereka bertemu. Sekarang, Embun dan Galang berada di bawah payung yang sama. Kaki Embun kaku dan tidak ingin bergerak, menapaki jalan yang basah karena tetesan hujan.


Galang membungkuk di hadapan Embun. Galang sepertinya mengerti dengan sikap Embun yang terlihat pucat pasih karena hujan. Galang hanya berpikir, mungkin gadis yang ia suka itu takut sakit atau membasahi sepatunya.


Embun tidak langsung naik ke punggung Galang. Ia mengerutkan dahinya, bingung akan sikap Galang yang begitu tiba-tiba.


"Kamu ngapain?"


"Ayo, naik."


"Enggak, ah."


"Kalau kamu nggak naik, kamu jadi pacar aku, loh."


"Ck! Nggak lucu!" Pikiran Embun teralihkan sesaat melihat tingkah Galang. Embun tidak ingin orang-orang tahu kelemahannya atau kisah di balik traumanya.


"Beneran, ayo."


"Nggak, ah."


"Kalau kamu nggak naik, kamu juga jadi pacar aku. Itu syaratnya," ucap Galang menyunggingkan senyum.


Galang menarik pergelangan tangan Embun dan mengalungkannya di lehernya. Embun jelas membulatkan matanya. Ia begitu terkejut.


"Eh, eh. Apa-apaan, sih kamu."


Sekuat tenaga Embun ingin turun, tapi Galang sudah mengeratkan paksa tangan yang mengalung di lehernya. Galang terkekeh sebentar.


"Terima aja, ya. Kalau hujannya udah berhenti, aku turunin." Kedua kaki Embun sudah berada di pinggang Galang. Sebelah tangan Galang memegangnya, sebelah lagi pegang payung.


"Sini, aku pegang payungnya," pinta Embun yang meminta pada Galang. Jelas saja lelaki berwajah kecil dan oriental ini tersenyum penuh kemenangan.


Dia berhasil membawa gadis pujaannya itu di punggungnya. Galang juga sudah lama menyukainya. Meski diam, Galang sering memperhatikan Embun dari kejauhan.


Mereka berjalan menyusuri hujan. Dada Embun bergemuruh senang, hatinya bertalu-talu. Ia tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Galang.


Tengah asyik menyusuri jalan, ponsel Embun berdering. Ia merogoh saku di seragamnya. Juna meneleponnya. Jelas Juna tahu apa yang terjadi pada keponakannya saat hujan begini.


Sepuluh tahun lalu, saat pertana kali hujan turun, Embun menutup telinga dan menangis histeris di sudut kamar. Juna, Marni dan Roy panik melihatnya yang begitu.


Juna sontak memeluk erat gadis itu. Juna tidak trauma dengan hujan, hanya saja ketika melihat keadaan pasien yang sama kondisinya dengan Akbar dan Ratna ia terasa sesak di dada. Itu menyebabkan rongga udara terasa menyempit yang masuk di tubuhnya.


"Halo, Om."


"Halo, kamu baik-baik aja?" Juna tengah gusar di atas brankar. Ia mengusap tengkuk belakangnya. Sekarang Juna memang belum memakai baju pasien, dia hanya istirahat hingga petang. Lalu pulang ke rumah.


"Alhamdulillah, Om."


"Kamu di mana? Belum pulang?"


"Masih di jalan pulang Om."


"Tapi, ini hujan. Kamu yakin nggak apa-apa?"


"Ya, Om. Udah, Om tenang aja. Aku udah gede, Om."


"Oke deh, Embul. Hati-hati, ya."

__ADS_1


"Ya, Om."


Juna mengakhiri panggilan telepon. Nia berdiri bersedekap tangan di dekat kursi brankar.


"Perhatian bener, tapi sama diri sendiri justru nggak diperhatiin," cibir Nia sedikit sinis menatap Juna. Juna hanya memalingkan wajah menanggapi ocehan Nia.


"Siapa lagi yang perhatian sama Embun kalau bukan aku."


"Ya, ya, ya." Juna menyibak selimutnya dan akan pergi dari brankar.


"Mau ke mana?"


"Mau pulang."


"Tunggu dokter yang jaga dulu kalau kamu mau pulang."


"Nia, aku tuh nggak apa-apa. Nggak usah berlebihan."


"Hem."


Juna menyabet jas putih yang diletakkan di atas nakas. Juna mulai melangkah pergi.


"Jun, kenapa kamu nggak bisa lihat kalau aku tuh suka sama kamu."


Juna menghela napas, lalu berbalik. "Aku nggak ada waktu untuk itu."


"Jun, Juna!" panggil Nia yang diabaikan Juna. Nia berdecap sebal. Pasalnya, sejak di zaman kuliah dia sudah menyukai Juna. Nia juga terang-terangan mengatakannya. Namun, lelaki bertubuh atletis itu menolak dengan berbagai alasan.


Juna melajukan motornya, tidak ada rasa apapun di hatinya mendengar Nia berbicara begitu. Ia hanya terus fokus untuk membesarkan Embun. Hujan sudah reda, Embun sudah tiba di rumah bersamaan dengan Juna.


Juna mengernyit menatap Galang yang berdiri di samping Embun. Sebelah tangan Galang memegang payung. Embun terlihat kikuk, ia tahu apa yang ada di pikiran Juna.


Omnya itu selalu protective padanya. Marni dan Roy keluar. Mereka menyambut kepulangan Juna juga Embun.


"Loh, udah pada pulang," ucap Marni yang langsung disambut Embun punggung tangannya. Ia juga melakukan hal yang sama pada Roy.


"Temen, Om."


"Yakin cuma temen?"


"Kamu ini, Jun. Biarin Embun itu punya temen, lawan jenis ya nggak apa-apa, toh."


"Tapi, Bu. Semua cowok tuh sama!" protes Juna yang menatap tajam ke arah Galang.


"Kamu, baru pulang bukannya bawa energi positif malah udah marah-marah nggak jelas," timpal Roy.


"Om, kenapa sih selalu kayak gini!" Embun menatap sebel Juna, ia masuk dengan wajah yang ditekuk. Galang memilih pamit, tidak lupa ia permisi juga pada Juna meski Juna menatapnya tidak suka.


Embun masuk ke kamar dan langsung memeluk bonekanya. Ia menjembikkan bibirnya, dulu saat Juna menyuruhnya berhenti menemui Dicky, ia langsung menurut. Tapi kali ini, ia memang mendambakan Galang.


"Embun," panggil Juna dari balik pintu. Embun mengunci kamarnya, knop pintu bergerak. Embun hanya menatap sebel ke arah pintunya.


"Embun. Om, lakuin ini tuh untuk kebaikan kamu. Please, ngerti dong Embun."


"Nggak! Om Juna selalu kayak gitu, dari dulu!" jawab Embun yang masih sebel.


"Oke, oke. Om minta maaf, ya. Tapi tetap kamu nggak boleh pacaran!"


"Ish!"


"Buka, Embun."


"Nggak, Embun nggak mau!"

__ADS_1


Juna menggaruk kepalanya frustasi. Tangan keriput mengusap bahunya lembut. "Biarin aja dulu, nanti juga keluar."


Juna menarik napas dalam lalu kembali ke kamarnya. Marni juga Roy hanya menggeleng melihat anak dan cucunya.


"Kalau udah begini, suasana rumah jadi sunyi, ya, Pak."


"Ya, mau bagaimana lagi. Juna juga over protective sama Embun. Embun kan masih remaja, jadi agak sulit dibilangi."


"Ya, ya, Pak. Jadi ingat dulu, waktu Ratna Ibu larang sama Ahmad. Eh, malah pacaran diam-diam. Begitu tamat sekolah malah minta nikah. Hem."


"Ya, ya. Bapak kangen loh Bu sama Ratna."


"Ya, Pak. Besok kita ziarah, ya. Ajak Embun juga Juna."


Roy manggut-manggut. Juna justru sibuk meracau dengan pikirannya yang sudah membuat Embun kesal pada dirinya. Lebih baik ia dimarahi dokter senior daripada harus dicuekin Embun.


Begitula Juna. Juna sepertinya tidak rela jika Embun ada yang mengantar jemput. Itu berarti, tugasnya untuk itu akan tergantikan. Sama seperti seorang ayah, yang tidak rela anak perempuannya mengatakan bahwa temannya lebih tampan darinya. Itu bentuk patah hatinya.


Begitu juga yang dirasakan Juna. Harusnya dia bersyukur, sebab Embun gadis normal yang tertarik pada lawan jenis. Juna berkacak pinggang, mondar-mandir di kamarnya.


Ia keluar dan melintasi kamar Embun. Pandangannya masih tertuju ke sana.


"Biarin dulu, Jun. Jangan ganggu."


"Tapi, Bu."


"Udah, biarin. Besok Ibu sama Bapak mau ziarah ke makam Ratna juga Ahmad. Kamu mau ikut?"


Juna mengangguk lalu duduk bersama dengan mereka. Atensinya masih saja tidak beralih. Ia berharap Embun keluar dan berbicara padanya. Tapi gadis bermata bulat itu, memiliki sifat yang keras dan sulit melunak.


Sebuah notifikasi pesan di ponsel Embun terdengar. Ia menatap layar, nomor baru masuk tertera di sana.


"Hai, Pacar." Pesan teks itu dibaca Embun, ia tahu siapa yang mengirimnya. Benar, sejak.tadi Embun terus kepikiran akan ucapan Galang.


Naik tidak naik, dia tetap jadi pacarnya Galang. Namun, ia takut jika fans Galang di sekolah akan patah hati dan justru membully dirinya.


Pikiran ruwet begitu menari-nari di kepalanya. Embun mencerna kata-kata Galang tadi.


"Berarti sekarang, kami pacaran," desis Embun yang senyum bahagia. Sudah sejak lama memang, akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba.


Embun mulai membalas pesan itu. "Ih, enak aja panggil-panggil aku pacar. Kamu siapa juga aku enggak tahu," balas Embun yang kini sudah cekikikan.


"Lah, kamu tadi udah naik di punggung aku. Berarti kamu pacar aku, dong."


"Oh, jadi ini orang yang udah gendong aku. Emang aku ada bilang mau jadi pacar kamu?"


"Aku nggak terima penolakan! Mulai hari ini, kita resmi pacaran! Oke, Pacar?" Hati Embun sudah berbunga-bunga, padahal masih sebatas pesan yang ia baca. Lengkungan senyum terus terbit di wajahnya.


Embun meringkuk kegirangan. Kakinya mendayung cepat, lalu memeluk benda pipihnya. Nomor yang masuk tadi langsung ditulis Embun 'Pacar' tidak lupa disertai emoticon hati di kanan dan kirinya.


Embun tersadar akan Juna. Ia menaikkan sudut bibir mengingat Juna yang menentang keras dirinya dekat dengan lawan jenis.


Embun mengganti bajunya, lalu perlahan membuka pintu. Masih di ambang pintu, Juna langsung berdiri menghampiri Embun. Punggung tangannya diletakkan di dahi Embun.


"Embul, Om ...."


Embun acuh pada Juna. Embun melangkah menuju dapur, ia sontak membuka tudung saji. Duduk di sana dan mengambil nasi.


Juna menghampirinya, ulah jahilnya kumat kalau sudah begini. "Habis ngambek, laper juga, ya," goda Juna yang membuka kulkas meneguk air dingin itu.


Embun hanya melirik tajam ke arah Juna. Roy dan Marni bergabung dengan Embun.


"Gimana tadi sekolahnya?"

__ADS_1


"Baik, Nek. Tadi sebenarnya pulang sama Naura, tapi dia pamit duluan karena alasan tertentu."


"Naura temen kamu yang centil itu? Awas kamu kalau kayak dia, ya!" ancam Juna yang membuat Embun mendelik sebal. Juna kembali meneguk air mineral yang berada dalam genggamannya.


__ADS_2