Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Gencar ditanyai Pacar


__ADS_3

Embun sontak bangkit, hingga kursi bederit. Embun mendekati Juna yang berdiri di depan lemari es. Embun menatap Juna penuh telisik.


Ia menyapu setiap mimik wajah Juna, Juna perlahan menelan saliva berat. Embun memeluknya erat. Telinganya berada di dada Juna.


"Om, cuma Om yang Embun punya. Jangan sakit, Om," ucap Embun yang membuat Juna terpelongo. Marni dan Roy juga sama terbengong melihat Embun begitu.


Juna mengusap punggung Embun lembut. "Insya Allah, Om akan jaga kesehatan. Kamu juga, ya. Makanya jangan pacar-pacaran. Kamu masih kecil."


Embun melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong tubuh Juna hingga terantuk kulkas.


"Ish! Udah, ah. Om Juna ngeselin!"


"Aw!" rintih Juna memegangi punggungnya. Marni dan Roy hanya tertawa melihat mereka.


"Baru aja kamu bilang Om jangan sakit, sekarang justru kamu yang nyakitin Om."


"Bodo'."


"Sudah, sudah. Kalian ini." Roy melerai agar tidak ada lagi pertengkaran kecil yang memang karena sikap mereka rumah sederhana ini menjadi ramai.


"Sayang, besok Nenek, Om Juna, sama Kakek mau ziarah ke makam Mama kamu. Kamu ikut nggak?"


"Ikut, Nek. Embun juga udah kangen sama mereka. Terutama Papa."


"Ya, Sayang."


Ahmad dan Ratna meninggalkan aset untuk Embun. Rumah yang mereka tinggali dulu, mobil yang digunakan Ahmad masih dirawat oleh Roy hingga sekarang.


Uang pensiunan dan beberapa tabungan untuk Embun hingga beliau selesai kuliah. Rumah milik mereka yang dulu, memang dibiarkan kosong. Namun, ada seorang penjaga rumah untuk membersihkan sekaligus tinggal di sana.


Embun, Marni dan juga Roy jarang pergi ke sana. Hanya Juna yang sesekali datang untuk melihat apa yang harus diperbaiki di sana. Entah itu genteng, pipa air atau cat yang sudah mengelupas. Juna yang aktif untuk segala perbaikan rumah sang kakak.


Kadang, kala ia ada tugas atau seminar di kota, ia akan bermalam di sana meski tidak lama. Penjaga rumah juga bukan orang yang tidak dikenal, Juna mencari orang yang masih sepupu jauh dari Roy.


**


"Embul," panggil Juna yang membuka pintu kamar Embun yang memang tidak dikunci.


Embun yang duduk di meja belajar menoleh ke arahnya. Tangannya masih memegang pena. Lampu di meja juga masih menyala.


"Ya, Om."


"Kamu masih lama belajarnya?"


"Dikit lagi selesai, Om."


"Em ... temeni Om jalan-jalan yuk. Entar aja kalau kamu udah selesai."


"Oke."


"Ya udah, Om tunggu di ruang TV, ya."


"Ya, Om." Juna mengusap pucuk kepala Embun lembut. Kedekatan mereka memang begitu. Juna lebih memilih jalan-jalan dengan Embun daripada Nia.


Juna tidak tertarik dengan siapa pun saat ini. Meski usianya sudah menginjak tiga puluh tahun, tapi dia masih santai. Wajah tampan dengan rahang tegas, sebenarnya tidak akan sulit baginya untuk mencari wanita yang ia inginkan. Apalagi dia seorang dokter, Nia saja yang terbilang cukup cantik tak mampu menggoyahkan hati Juna.


"Om," panggil Embun yang sudah rapi. Mengenakan celana jeans sobek dengan kaos lengan pendek.


"Udah selesai?"


"Udah, Om."


"Yuk."


Juna mengenakan celana sebatas lutut semi jeans dengan kaos oversize.


"Om pake celana pendek gitu nggak kedinginan?"


"Nggak."


Embun langsung saja naik ke motor Juna. Juna memberikan helm yang biasa Embun pakai.


"Kita mau ke mana, Om?"

__ADS_1


"Nggak ada tempat yang spesial, sih. Om cuma pengen ngangin aja sama kamu."


Mereka terus saja bercerita sepanjang jalan entah akan ke mana. Bagi Juna, ia hanya ingin berkeliling dengan keponakannya. Kadang Juna tersentil dengan pertanyaan Embun.


"Om, kenapa nggak punya pacar aja sih? Jadi, kalau mau jalan-jalan nggak perlu ngajak Embun, ajak aja pacar Om."


Juna melirik Embun sebentar yang berada di boncengannya. "Om, nggak mau. Bukan nggak laku, tapi itu udah prinsip Om."


"Tapi, kan Om. Aku pengen punya Tante. Jadi, kalau shopping ada temennya."


"Sama Nenek aja, kan bisa."


"Beda, dong Om. Emang Nenek bisa diajak hangout?"


Juna diam, malas menanggapi kata-kata Embun. Begitulah, Juna. Jika sudah mendengar hal yang menuntutnya untuk memiliki pasangan, dia akan diam dan menghindar.


Juna menghentikan motornya dekat pedagang sate. Embun membuka helmnya, lalu Juna meletakkannya di atas tangki. Bersebelahan dengan yang ia pakai.


"Kita makan sate dulu, Mbul."


"Om, kalau di luar panggil nama aku yang bener, dong," bisik Embun yang membuat Juna menunduk sedikit membungkuk.


"Ya, maaf, ya." Pucuk kepala Embun tempat terfavorit Juna. Mereka melangkah masuk ke tenda, dan mendaratkan bokong di kursi plastik berwarna merah itu.


"Bang sate kambingnya satu, kamu sate apa Mbun?"


"Em, ayam aja Om."


"Sate ayamnya satu, ya, Bang."


"Ya, Mas. Tunggu sebentar, ya."


Juna meletakkan ponselnya di atas meja. Benda pipih itu berdering, tertera nama Nia. Embun melongok melihat ke arah itu.


"Nggak diangkat, Om?"


"Nggak, malas."


"Bukan. Kan tadi Om udah bilang, Om nggak fokus ke sana. Pacar itu nggak masuk di dalam daftar hidup, Om."


Embun memonyongkan bibirnya mendengar ucapan Juna. Dia tahu betul bagaimana Juna. Teguh pada prinsipnya, meski berat ia tetap konsisten.


"Om, jadi dokter itu capek nggak?"


"Tergantung yang menjalani."


"Tapi, Om keren loh. Di usia muda udah jadi dokter bedah."


"Ck! Om udah tiga puluh tahun, mana muda lagi. Kamu tuh yang muda, makanya untuk masa muda sekarang, kamu harus fokus kejar mimpi. Bukan malah pacar-pacaran."


Embun bersungut, lagi-lagi Juna menyelipkan kata-kata itu. Embun sampai jengah mendengarnya. Sate yang dipesan pun akhirnya tiba.


"Habisin ya, Mbul," bisik Juna menggoda Embun. Embun bersungut, Juna justru mengulum senyum.


Ponsel Embun berderit, ia tidak berani melihatnya. Takut, kalau itu pesan dari Galang. Belum lagi nama kontak di benda pipih itu begitu romantis, Embun mendadak deg-degan. Sesekali ia melirik ke arah ponsel yang diberi mode silent.


Benar saja, Galang menelepon. Embun mematikan handphonenya. Takut ketahuan Juna. Juna sibuk mengunyah sate kambing dengan bumbu kacang yang dimasak sedemikian sempurna.


Ia begitu menikmati setiap daging yang lepas dari tusuknya itu. Tak jarang bergumam sendiri karena kelezatannya. Embun berada di mode harap-harap cemas. Namun, kegelisahan seseorang mengusiknya.


Gadis dengan rambut sebahu tengah sibuk mencari sesuatu. Ia menunduk-nunduk hingga ke bawah meja juga kursi.


"Aduh, di mana, ya?" gumamnya seraya menyelipkan rambutnya ke daun telinga. Ia sedikit membungkuk mengitari meja. Wajahnya tampak bingung.


"Tadi perasaan, aku bawa. Aduh, gimana bayarnya?" desisnya lagi yang membuat Embun prihatin juga kasihan. Embun menarik ujung baju Juna.


Juna dari tadi sibuk dengan makanan favoritnya itu. Ia tidak peduli lingkungan sekitar jika sudah menyantap sate kambing milik Bang Miun.


"Om," panggil Embun yang membuat Juna melirik ke arahnya.


"Om, Om bawa uang, kan?"


Juna menarik napas pelan, menghentikan makannya sejenak. "Masa' iya Om mau makan nggak bawa uang."

__ADS_1


"Banyak?" tanyanya lagi.


Juna sontak menyatukan kedua alisnya. "Emang kenapa?"


"Itu," tunjuk Embun pada gadi tadi yang saat ini ia tengah berdiri menunduk seraya meminta maaf. Bang Miun jelas saja marah-marah. Menurutnya tidak masuk akal jika makan tanpa membawa uang.


Atensi Juna mengarah pada objek yang Embun tunjuk. "Nggak usah ikut campur urusan orang, Mbul."


"Tapi, Om. Kasihan," ucap Embun lagi.


Juna menarik napas panjang. "Bang, biar saya aja yang bayar," ucap Juna yang membuat kedua menoleh. Tidak lupa gadis itu berterimakasih juga, pamit.


Juna hanya menjawab dengan anggukan. Embun tersenyum dengan mata yang berbinar menatap gadis itu.


"Om, cewek itu cantik, ya."


Juna hanya melirik sekilas. Enggan menanggapi ocehan gadis kecil itu. Juna sudah selesai makan, tidak lupa ia membayar pesanannya juga wanita yang tadi.


"Berapa, Bang?"


"Biasa, Dok. Dokter Juna kayam nggak pernah makan di sini, aja."


Juna menyerahkan selembar uang lima puluh ribu. Bang Miun sibuk mencari kembalian.


"Udah, Bang. Kembaliannya ambil, aja."


"Makasih ya, Dok. Semoga cepet dapet jodoh. Orang baik pasti jodohnya yang baik juga."


Juna menaikkan sudut bibirnya. Menghela napas pelan. Embun terkikik sambil menutup mulutnya. Juna menatap tajam Embun, gadis itu menutup rapat mulutnya.


Mereka bergegas pulang, tidak baik terlalu malam. Embun besok harus bangun pagi untuk sekolah. Di dalam perjalanan, mereka melintasi Febby, gadis yang tadi bertemu mereka.


"Om, Om nggak mau kenalan sama cewek yang tadi?"


"Ck! Embul, mending kamu belajar aja. Nggak usah ngurusi percintaan, Om. Oke?"


Jelas saja Embun mengerucutkan bibirnya. Ia mencubit pinggang Juna. Juna terlonjak geli.


"Ih, Om cemburuan ini! Ya, kan?"


"Ngaco kamu, Mbul."


**


Mereka pun sudah tiba di rumah. Marni dan Roy tengah duduk di kursi teras. Mereka menikmati sejuknya angin malam diiringi suara jangkrik. Ribuan bintang terbentang luas di langit, menambah indahnya suasana pedesaan ini.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam. Kalian dari mana?" tanya Marni melihat mereka yang baru saja menginjak teras ubin itu.


"Om Juna ngajakin Embun ngangin, Nek."


"Om, kamu tuh. Bukannya nemeni belajar malah ngajak kamu main."


"Sekali-sekali, Bu. Juna juga kangen pengen jalan-jalan sama Embun."


"Bapak nggak kamu ajak?"


"Idih, Bapak pergi sama Ibu dong. Masa' Juna yang ngajak."


"Ya, Ibu juga pengen, Pak. Mengenang masa lalu waktu kita pacaran dulu."


Juna juga Embun terkekeh melihat perdebatan kedua orangtua ini. Juna menggeleng heran lalu pergi ke kamar. Begitu juga Embun, ia langsung merogoh kantong celananya melihat ponselnya yang sejak tadi sudah mendering dalam panggilan Galang.


Sejak tadi Galang sudah cemas bukan kepalang. Meski ia tahu, kalau gadis bermata bulat itu belum menanggapi kata cintanya. Tapi, Galang yakin bahwa cintanya pasti terbalas.


Dari terakhir yang ia lihat dari mata Embun, ada benih-benih cinta yang terlukis di sana. Embun kembali melakukan panggilan pada Galang.


"Halo."


"Halo, Pacar. Dari mana aja, sih. Lagi selingkuh, ya?"


"Idih, selingkuh, selingkuh. Pacaran juga nggak pernah, gimana mau selingkuh," cibir Embun yang mengulum senyum tapi dengan suara yang amat sangat pelan.

__ADS_1


__ADS_2