Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Juna dilamar Febby


__ADS_3

Galang menunduk takut, ucapannya masih menggantung. Ia tahu Juna begitu murka dengannya. Apalagi ini menyangkut Embun. Marni yang membawa baskom untuk mengapresiasi Embun begitu terkejut dengan sikap putranya.


"Juna, hentikan!"


Perlahan Juna membuang kasar tubuh Galang, ia lebih fokus mengenai kesehatan Embun. Juna berjalan menuju arah dapur untuk mengambil kotak P3K. Mencari obat yang biasa Embun gunakan saat begini.


Marni tampak mengompres Embun, sedangkan Galang masih berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Ia tahu betul Embun trauma akan hujan, tapi ia ingin gadisnya itu sembuh total.


Galang kembali bersama dengan jarum suntik yang masih terbungkus. Memang Juna selalu sedia, untuk kebutuhan di rumah.


"Kamu kenapa masih diam di situ? Pergi!" usir Juna. Galang bingung harus bagaimana, hatinya benar-benar tak tega jika meninggalkan Embun dalam keadaan begitu.


"Pergi!" ucap Juna lagi, sorot matanya mengintruksikan agar Galang segera meninggalkan rumahnya.


Galang akhirnya patuh, ia tidak berani melawan Juna. Hal itu akan menimbulkan keributan lagi. Dengan wajah bersalah, Galang pamit pada Marni juga Juna.


Juna mulai memasukkan obat ke jarum suntik, lalu menyuntikkannya pada Embun. Marni masih terus mengompres dahi Embun.


Beberapa menit kemudian, dahi Embun mengernyit. Lalu perlahan mengerjapkan matanya.


"Nenek, Om Juna," liriknya yang membuat keduanya menatap Embun intens.


"Ya, Sayang. Kamu baik-baik aja, kan?"


Embun mengangguk, ia berusaha untuk duduk. Marni langsung membantunya. Juna berdiri melipat tangan di depan dada. Ia masih kesal mengingat kejadian yang menimpa Embun.


"Om larang kamu pergi sama Galang!"


Embun menatap bingung dan kecewa pada Juna. Ia seperti diktator yang mengharuskan semua orang mengikuti ucapannya.


"Maksud Om Juna?"


"Om nggak mau kamu bergaul lagi sama dia. Apalagi sampe tunangan, Om menolak dengan keras!"


"Om!" protes Embun yang tiba-tiba langsung punya kekuatan untuk membantah omongan Juna. Ia bangkit dan langsung berjalan menuju kamar. Menutup pintu dengan sedikit membantingnya kuat.


"Apa-apaan sih kamu, Juna?"


Juna melirik Marni sekilas, ada tatapan khawatir di sana. Marni masih menanti penjelasan dari Juna sebabnya melarang Embun dan Galang.

__ADS_1


"Ibu tahu Embun jadi seperti ini karena siapa? Karena Galang, Bu!"


Marni mengernyit bingung dan tidak mengerti ucapan Juna yang tampak begitu membenci Galang. Wajahnya langsung beringas kala menyebut nama Galang.


"Bocah ingusan itu, dia sengaja buat Embun hujan-hujanan."


"Astagfirullahalazim. Kamu tahu dari mana?"


"Aku sudah bisa tebak dari sikapnya yang begitu ketakutan."


Masih tidak percaya dengan yang dikatakan Juna, Marni lebih memilih diam sambil menimbang. Benar atau tidak yang dikatakan Juna. Ponsel Juna berdering, ia langsung mengambilnya dari saku celana.


"Halo."


"Jun, pasien yang kamu operasi mengalami kritis."


Juna langsung pergi setelah mendengar ucapan Nia, ia harus segera memeriksa pasien yang baru saja melewati proses panjang dengannya.


Secepat kilat Juna mengemudi, dan tiba di rumah sakit. Ia buru-buru masuk tanpa memarkirkan motornya di tempat semula.


Ia melempar kunci pada petugas parkir yang umurnya masih jauh di bawahnya.


"Tolong parkirkan motor saya," ucapnya yang berlari menuju ruangan pasiennya. Sesampai di sana, ia menarik napas terlebih dahulu lalu memeriksa pasien itu.


Juna melirik sebentar padanya seraya berkata, "Pak, ayo. Anda pasti bisa sembuh. Lihat, keluarga Anda sedang menunggu di luar."


Setelah mengatakan itu, Tuhan memang yang berkuasa atas umat-Nya. Kondisi pasien jadi stabil dan semuanya tampak normal seperti sedia kala. Juna menarik napas lega.


Ia menepuk pundak pasien pelan, "Terima kasih, Pak. Anda sudah berjuang."


Juna keluar menemui istri dari pasiennya, wajah wanita itu penuh harap. Seolah bertanya suaminya baik-baik saja. Juna berdiri di hadapannya dengan seulas senyum.


"Suami Anda sudah melewati masa kritisnya. Dia baik-baik saja." Mendengar penuturan Juna, wanita itu berlutut dan menarik napas lega.


"Terima kasih, Dokter."


"Ya, Bu. Kalau begitu, saya permisi."


Juna berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu dan Febby. Ya, Febby masih setia mendampingi si ibu. Namun, Juna menutup mata akan kehadirannya.

__ADS_1


"Dokter Juna, tunggu!"


Juna menghentikan langkahnya, ia tahu siapa yang memanggilnya. Juna berdiri tanpa menoleh, Febby berjalan mendekat, Juna memalingkan wajah malas melihat wanita di depannya.


"Jika tidak ada yang penting untuk dikatakan, silakan minggir. Aku masih harus mengunjungi pasien."


"Aku minta maaf soal tadi."


"Heh!" Juna menyeringai mendengar ucapan Febby, lalu pergi begitu saja.


"Dokter Juna, aku ingin menikah denganmu!" teriak Febby yang membuat semua orang di rumah sakit melihat mereka. Juna mengernyit heran.


"Maaf, aku tidak mau!" Suara sorak dari para orang yang melihat begitu ramai terdengar. Juna berlalu dengan santainya. Febby yang sudah terlanjur malu, melemparkan tas tangannya ke arah Juna.


Tepat sasaran, tas berwarna putih itu mengenai tengkuk Juna yang membuat Juna sedikit maju ke depan.


Juna berbalik melotot pada Febby. Tangan mengepal geram, jika bukan wanita mungkin sudah Juna layangkan satu tonjokan di wajahnya. Juna melemparkan tas Febby pelan, gadis itu menangkapnya.


Juna mendekat perlahan dan berkata, "Sampai jenazah yang di kuburan bangkit lagi, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!"


Febby hanya membuang napas kasar, Juna pergi setelah mengatakan itu. Di sudut ruang, terlihat Nia menarik sudut bibir yang tampak bahagia melihat adegan itu. Itu artinya ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Juna.


Nia berjalan menuju ruangan Juna, para perawat tampak berbisik mengenai sikap Juna yang selama ini terkenal dengan dingin dan mematikan. Hanya pada pasien ia menunjukkan sikap yang ramah dang hangat.


"Perempuan tadi itu gila, ya. Dokter Juna yang terkenal kulkas lima belas pintu malah dilamar begitu. Hihi, jelas ditolak mentah-mentah."


"Iya, kita aja yang udah kerja lama sama Dokter Juna nggak berani ngomong kalau nggak ada perlunya." Kedua perawat itu bergosip ria tentang kejadian tadi sambil terus menertawakan Febby.


Nia langsung duduk di depan meja Juna tanpa mengetuk terlebih dahulu. Juna hanya meliriknya sekilas, ia amat sangat lelah hari ini.


"Jun, kamu jadi bahan gosip satu rumah sakit."


"Hem, aku tahu."


"Kamu nggak ada niat mengubah image kamu?"


"Nggak perlu, Nia. Aku di sini untuk bekerja yang menyelamatkan pasien, bukan untuk disanjung."


"Terserah kamu. Dilamar wanita cantik kok malah kami tolak, sih."

__ADS_1


"Ni, kamu aja yang lebih cantik dari dia aku tolak. Apalagi perempuan gila begitu? Udah sana, aku mau istirahat."


Nia terus mengembangkan senyum di bibirnya, barusan ia dipuji Juna dengan mengakui bahwa dirinya cantik. Meski, Juna juga menolaknya. Namun, Nia tidak putus harapan, ia akan terus mengejar cintanya Juna.


__ADS_2