
Waktu operasi yang panjang pun selesai, Juna keluar dengan baju dinas yang tampak basah di bagian leher dan penutup kepala. Ia menemui keluarga pasien. Sorot matanya tampak kaget melihat Febby di samping wanita paruh baya itu.
"Bagaimana operasinya, Dok? Suami saya baik-baik aja, kan?"
Juna mengangguk pelan, lalu dua orang perawat memindahkan pasien ke ruangan ICU hingga ia benar-benar dalam kondisi stabil.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar berkat doa Ibu. Sekarang, pasien dipindahkan ke ruangan ICU hingga keadaannya stabil. Mudah-mudahan keadaannya membaik dan bisa pindah ke ruangan rawat inap biasa, ya, Bu. Saya permisi dulu. Silakan Anda mengikuti perawat tadi."
"Terima kasih, Dok. Terima kasih."
"Permisi."
Juna berlalu meninggalkan kedua wanita itu. Sebenarnya ia masih penasaran dengan Febby yang turut hadir menemani keluarga pasien. Namun, Juna terlalu lelah untuk sekadar bertegur sapa. Juna memilih pergi ke ruangannya dan langsung merebahkan diri di sofa panjang.
Sebelah tangannya ia letakkan di atas dahi. Masih dengan baju yang sama. Nia membuka pintu ruangannya kasar. Ia berdiri dengan tangan berasa di saku jasnya.
"Jun, kenapa tagihan pasien atas nama kamu? Kamu udah gila?"
"Ck! Pergi sana, Ni. Aku lagi capek malas berdebat sama kamu."
"Tapi, Jun."
"Nia!" bentak Juna yang seketika bangkit dan keluar dari ruangannya. Wajahnya begitu ditekuk dan tidak bersahabat. Beberapa perawat yang menyapa tidak dihiraukan Juna.
"Dokter ganteng kenapa? Biasanya ramah?" tanya salah satu perawat yang memakai kacamata.
"Pasti lagi berantem sama Dokter Nia. Mereka kan selalu begitu."
"Ya, ya udah ah. Kok malah jadi gosip, sih."
Juna masuk ke dalam lift, ia menuju rooftop, menghindari semua orang. Tidak ada lagi tempat nyaman bagi Juna selain memandang alam sekitar kala pikirannya kalut.
"Eh, dokter ganteng." Juna langsung menoleh ke asal suara. Ia memutar bola mata malas melihat Febby di ujung sana.
"Ck! Ngapain kamu?"
"Hehe. Maaf kalau aku ngikuti dokter ke sini."
"Kalian para wanita sama saja, nggak pernah buat hidupku tenang. Terutama kamu, stop cari perhatian dariku. Hal itu nggak bisa buat kamu untuk berarti di hidupku!" tandas Juna lalu melangkah pergi.
"Apa yang salah dari aku Dokter Juna! Sampai-sampai kamu begitu membenciku," ucap Febby yang matanya sudah mengembun. Juna menghentikan sejenak langkahnya.
"Tidak ada yang salah denganmu. Hanya saja, sikapmu yang membuatku muak untuk bertemu denganmu!"
"Kupikir kamu malaikat, ternyata iblis berbaju dokter. Bukankah Embun juga wanita!"
"Hei! Jangan bawa-bawa Embun dalam hal ini. Itu semakin membuatku membencimu." Juna semakin murka mendengarnya mem bawa-bawa Embun. Embun memang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
__ADS_1
Embun yang mereka bicarakan tengah tersedak, mungkin kontak ketika namanya disebut. Embun duduk di depan meja belajarnya, mengerjakan tugas.
Tiba-tiba panggilan masuk dari Santo, guru pembimbing masuk. Embun mengernyit heran, tidak biasanya Santo menelepon di luar jam sekolah.
"Halo, Pak."
"Embun, saya cuma mau minta tolong anak baru di kelas kamu tadi, tolong dibantu, ya. Kamu bertanggungjawab untuk nilainya, ya."
"Tapi, Pak. Masih ada temen-temen yang lain, kenapa harus saya?"
"Dia mintanya kamu, Mbun. Kalau nggak, dia nggak mau belajar."
Embun mengembuskan napas pasrah, tidak berani untuk menolak permintaan dari Santo. Embun diam sejenak, itu artinya tugasnya akan bertambah. Juga akan intens bertemu dengan Fandy.
"Embun?"
"Ah, ya, Pak."
"Mulai besok, kamu bisa mulai, ya."
"Baik, Pak."
Embun bersungut setelah mengakhiri panggilan. Embun keluar menemui Marni untuk berkeluh kesah. Ia mencari Marni yang duduk di depan meja TV. Embun memeluk erat tubuh Marni.
"Kamu kenapa, Mbun? Kok tiba-tiba begini?"
"Sayang, ilmu itu harus dibagi dan dikaji. Dari situ kamu bisa belajar dan tahu di mana letaknya yang kurang paham. Berbuat amal juga baik."
"Tapi, Nek."
"Embun, berbuat baiklah meski kamu nggak diperlakukan baik oleh orang. Oke?"
Embun melepaskan pelukannya duduk tegak di samping Marni sambil memonyongkan bibirnya. Marni mengusap pucuk kepalanya dan menyelipkan rambut ke daun telinga Embun.
"Makan dulu sana," bujuk Marni.
Embun berjalan tanpa semangat, itu artinya ia tidak memiliki waktu luang untuk sekadar bermain dengan Galang.
Galang berkali-kali menelepon Embun, gadis pujaannya itu meninggalkan ponselnya di kamar. Galang khawatir dan langsung mengambil motornya untuk menemui Embun.
Embun makan tanpa selera, hanya memainkan sendok di atas piringnya. Suara motor terdengar berhenti di halaman rumah Marni.
"Assalamualaikum." Suara Galang mampu membuat Embun langsung bangkit dari kursi meja makan. Ia menghampiri Galang yang masih berdiri di ambang pintu.
"Galang, kok kamu nggak ngabari kalau mau ke sini?"
"Aku udah telepon kamu, Mbun. Tapi, ponsel kamu mana?" Embun meraba mencari keberadaan benda pipih itu lalu nyengir kuda.
__ADS_1
"Hehe, ketinggalan di kamar."
Galang mengacak-acak pucuk kepala Embun, lalu Marni ikut bergabung bersama mereka. Galang menyalami wanita setengah baya itu dengan penuh hormat.
"Masuk, Galang."
"Ya, Nek."
"Sebentar Nenek buatkan minum dulu."
"Nggak usah, Nek. Galang mau ngajak pergi Embun, boleh Nek?"
"Boleh, tapi jangan malam-malam pulangnya, ya."
Galang mengangguk patuh, Embun bersiap-siap. Tidak mungkin pergi dengan pacarnya hanya mengenakan celana hot pants dan kaos.
Galang ditemani Marni selagi Embun pergi ke kamar. Galang juga mengutarakan niatnya yang akan datang bersama keluarganya esok lusa.
Embun keluar dengan mengenakan jumpsuit berbahan jeans warna denim, tidak lupa tas selempang menunjang penampilan manisnya.
"Nek, kami pergi dulu, ya." Embun mencium takzim tangan Marni, Galang mengikutinya.
"Kalian hati-hati, ya. Jaga Embun ya, Lang."
"Pasti itu, Nek."
Embun duduk di jok belakang Galang, jaket tipis yang Galang kenakan menjadi tempat Embun meletakkan kepalanya.
"Manja banget," ucap Galang yang sesekali melirik Embun.
"Nggak tahu kapan bisa begini lagi," jawab Embun yang menikmati aroma tubuh Galang.
"Kapan aja kamu mau, aku siap, Embun."
"Tapi, aku yang nggak bisa, Lang."
"Kenapa? Hem?"
"Pak Santo nyuruh aku untuk ngajari anak baru itu!" ucap Embung yang sudah bersungut-sungut. Galang langsung menghentikan motornya mendadak, hingga kepala Embun terbentur helm Galang.
"Aw!" pekik Embun meringis sembari mengusap-usap pucuk kepalanya yang terantuk. Galang menatap Embun intens dengan sedikit memutar badannya.
"Kamu serius? Pak Santo bilang gitu?"
"Ya, sebenarnya aku menolak. Tapi, Fandy tidak ingin belajar jika bukan aku yang membimbingnya mengejar ketinggalan pelajaran."
"Aish!" ucap Galang dengan mengepal tangan geram. Hatinya begitu terbakar cemburu mendengar apa yang baru saja Embun katakan.
__ADS_1