Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Jadi Pacar Fandy?


__ADS_3

Pagi, Embun sudah bersiap akan berangkat. Namun, Juna masih setia di atas bantal. Embun tahu Juna hari ini dinas siang. Biasanya, pemuda tampan itu selalu ribut akan mengantar Embun.


Tapi tidak dengan hari ini, ia malas untuk berurusan dengan Embun. Kejadian semalam masih membekas di hati Juna. Ia jadi membiarkan Embun bertindak sesuka hatinya.


"Om Juna nggak keluar dari kamar, Nek?" tanya Embun setelah duduk di meja makan.


"Nggak kayaknya. Biarin aja. Kamu diantar sama Kakek aja, ya."


"Ya, Nek."


Selesai sarapan, Embun duduk di samping Roy yang sudah siap akan mengantar Embun. Meski pandangan mata Embun terus menatap ke jendela kamar Juna. Ada rasa kecewa dari balik tatapan itu.


"Biarin Om Juna berdamai dengan dirinya sendiri, Mbun. Sekarang kita berangkat, ya."


"Ya, Kek," jawabnya lesu.


Setelah Embun pergi, Juna keluar dari kamar. Ia duduk di depan Marni seraya mengunyah roti yang sudah dioles selai strawberry.


"Kamu kenapa nggak nganter Embun?"


"Malas, Bu."


"Nanti malam gimana? Kamu pulang cepat, kan?"


"Nggak bisa, Bu. Juna mungkin nggak pulang."


Juna bangkit setelah mengatakan itu, ia menuju garasi untuk mengeluarkan motornya. Pikirannya yang suntuk dan ruwet membuatnya ingin berkeliling desa.


Sebenarnya, ia masih memantau Embun melalui Naura. Ia berpesan pada Naura untuk melaporkan gerak-gerik Embun. Jika ia dalam bahaya, Naura diminta untuk segera menghubungi Juna.


Gadis centil itu menyanggupi permintaan Juna. Juna tidak segan untuk memberinya uang jajan sebagai imbalan informasi.


Embun kini sudah tiba di sekolah, ia langsung disambut oleh Naura. Naura yang ceria langsung mengapit tangan Embun.


"Mbun, kamu kenapa kok nggak semangat gitu?"


"Nggak apa-apa, Ra."


Fandy menghalangi jalan Embun dan Naura. Kaki jenjangnya terbuka lebar, untuk menghalau langkah mereka.


"Hai," sapa Fandy pada keduanya. Naura dan Embun saling pandang, mereka merasa heran dengan sikap Fandy yang sok akrab.

__ADS_1


"Minggir!" usir Naura yang mengibaskan tangannya.


"Aku nggak ada urusan sama kamu! Aku ada urusan sama Embun."


"Embun itu nggak punya urusan sama kamu!"


"Udah, Ra. Bener yang dibilang Fandy. Mulai hari ini, aku yang bertanggung jawab sama dia."


"Tanggung jawab dalam hal?"


"Udah, nanti aku ceritain."


Embun melangkahi kaki Fandy, Naura justru menginjaknya dengan sengaja. Fandy meringis dan mengepalkan tangan pada Naura.


"Rasain!"


Keduanya melangkah menuju kelas, Galang belum terlihat di sana. Fandy, dia mengekor kedua gadis itu. Pelajaran sudah akan dimulai, Galang masih belum datang.


Embun menoleh ke arah tempat duduknya yang dipojok. Hanya ada Fandy, pria yang sekilas mirip dengan Junior Roberts itu menaikkan sebelah alisnya.


Ia langsung menopang kepalanya dengan satu tangan. "Kamu kagum sama ketampanan aku?" ucapnya dengan penuh percaya diri. Embun sontak menggeleng, atensinya beralih ke arah Bayu dan Azriel.


"Galang ke mana?"


Embun membulatkan bibirnya. Santo masuk mengajar tentang budi pekerti, ya. Itu spesialisasinya, makanya ia dipilih sebagai guru pembimbing dalam pembentukan karakter.


"Fandy," ucapnya tiba-tiba. Semua mata tertuju pada pria tinggi dengan hidung mancung itu. Ia diminta Santo untuk berdiri di sampingnya.


"Ternyata kamu tinggi juga, ya," ucap Santo sambil melotot kaget.


"Kamu murid baru di sini, jadi kamu harus mengikuti aturan sekolah ini. Kejar ketertinggalan kamu dalam pelajaran, saya sudah menuruti permintaan kamu untuk belajar bersama Embun."


"Oke.Tapi, kalau nilai saya di atas rata-rata. Aku minta kamu," ucapnya yang menunjuk Embun dengan melipat jari manis dan kelingkingnya, "harus jadi pacarku!" sambungnya yang membuat satu kelas bersorak.


Embun menoleh kiri dan kanan, ia memastikan tangan Fandy menunjuk ke arahnya. Embun nyengir, tidak tahu harus berkata apa. Dia benar-benar kaget luar biasa. Berani sekali Fandy mengatakan itu di hadapan guru.


"Sudah, cukup! Kalau itu urusan kamu dengan Embun. Sebaiknya kalian selesaikan sendiri, nanti, ya! Kalau gitu, saya permisi dulu, ada rapat dengan guru yang lain. Selamat pagi," ucap Santo yang pamit meninggalkan mereka.


"Kamu udah gila, ya?"


Fandy hanya memalingkan wajah sebentar, ia terlihat menyapu bibirnya yang kering dengan lidah.

__ADS_1


"Aku nggak gila! Lagian, aku nggak minta sekarang."


Embun membuang wajah kasar, ia tidak ingin memberi harapan pada Fandy. Embun sudah memiliki Galang. Bayu juga Azriel langsung memukul meja Fandy.


"Kamu nggak tahu kalau Embun pacarnya Galang?"


Fandy tampak menyatukan alisnya, memang benar ia belum mendengar kabar tentang Embun yang berpacaran dengan Galang. Semua orang di kelasnya berbisik-bisik membuat Embun risih saja.


Embun keluar, ia tahu kalau mereka semua sedang membicarakannya. Embun duduk bersungut di kantin sambil menopang dagu. Ada sepasang tangan yang menutup mata Embun dari belakang.


"Siapa? Please, jangan main beginian!"


Galang yang iseng ternyata, meski tubuhnya bermandikan keringat, ia duduk di samping Embun.


"Kamu kenapa sendirian di sini?"


"Nggak apa-apa."


"Atau kamu memang sengaja goda aku untuk datang temenin kamu," ucap Galang yang menatap lekat pacarnya. Ia kesampingkan masalahnya dengan Juna. Di sekolah, Embun sepenuhnya dalam pengawasan Galang.


"Malas aja di kelas. Semua orang ngomongin aku. "


Galang menautkan tangannya di jemari Embun, ia menopang kepalanya menatap wajah Embun yang tengah cemberut.


"Kamu kenapa lihatin aku kayak gitu?"


"Nggak apa-apa. Aku suka aja lihat kamu kalau lagi cemberut. Imut and gemesin," ucap Galang yang mencubit pipi Embun.


Embun berdecap, Galang mengajaknya untuk melihat pertandingan basketnya. Embun tidak menolak untuk itu, ia memang tengah gabut.


Embun duduk di kursi panjang sambil melihat Galang yang sibuk mendribel bola. Teman satu timnya sudah mengetahui hubungan mereka, jadi tidak ada yang menanyakan soal kehadiran Embun di sana.


"Ini untuk kamu, Embun," ucap Galang yang melakukan shot jarak jauh, dan tepat sasaran. Galang mengedipkan sebelah matanya, memberikan kiss lewat tangannya. Embun tertunduk malu sambil memegang kedua pipinya.


"Mentang-mentang ditemenin pacarnya, langsung shot tepat sasaran," ejek salah satu teman Galang yang entah siapa namanya.


Galang hanya tertawa menanggapinya, mereka kembali fokus untuk latihan. Guru-guru masih sibuk rapat, jadi kegiatan belajar mengajar untuk saat ini tidak ada. Jadi, para siswa bebas melakukan apa saja.


Fandy tiba-tiba datang ke area basket tanpa diundang. Galang menatap tidak suka ke arahnya yang masih berdiri di dekat lapangan.


"Aku mau ikut main di tim kalian. Boleh?" tanyanya yang membuat tim Galang menghentikan aktivitas mereka sejenak.

__ADS_1


Fandy melangkah mendekat dan mengambil bola basket yang masih ada di tangan salah satu pemain. Ia melakukan shot tanpa melihat.


"Gimana?"


__ADS_2