
Kegiatan belajar mengajar telah berlangsung, Embun tetap fokus meski kadang atensinya melirik ke arah Galang. Entah mengapa, gadis bermata bulat itu bisa membantah Juna.
Juna sendiri kini tengah melamun setelah berkeliling mengunjungi pasien. Ia duduk menopang dagu di ruangannya. Juna tidak habis pikir, kalau keponakan kesayangannya harus dilamar saat masih sekolah.
Benar memang, Ratna dulu juga dilamar Ahmad saat masih duduk di kelas dua SMA. Kini, kejadian itu terulang kembali. Knop pintu bergerak, membuyarkan lamunan Juna. Meski wajahnya juga masih kusut dan sebal.
"Jun, makan siang yuk."
"Lagi nggak nafsu makan, nih."
"Kenapa sih, Jun?" tanya Nia yang kini menyapu lembut pundak Juna. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sebelah tangan menopang di atas meja.
Juna masih tidak ingin melihat ke arah Nia. Ia paham betul kalau gadis seumuran dengannya itu tengah menggodanya. Belum lagi pakaian Nia yang sedikit terbuka di bagian dada.
Sekali Juna mendongak, terlihat jelaslah belahan dada Nia. Tidak dipungkiri, setiap lelaki yang melihat Nia pasti akan langsung terangsang dengan ukurannya yang sangat menggoda iman mereka.
Belum lagi rok mini dan sepatu high heels yang ia kenakan, sungguh memanjakan staf perawat dan dokter pria yang ada di rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Nia, please. Aku lagi pengen sendiri."
Wajah Nia bersungut, jelas ia merasa rendah diri karena berkali-kali Juna menolaknya. Bukan setahun atau dua tahun Nia berusaha mendekati Juna, tapi sudah sembilan tahun lamanya. Masih saja Juna tidak bisa melihat hati Nia.
Nia menyukai Juna saat kuliah dulu. Juna yang aktif dengan kegiatan mahasiswa kedokteran tanpa sengaja menabrak Nia dan membantunya memungut buku yang berserakan. Kala itu, Juna tengah buru-buru untuk pergi ke laboratorium.
Nia menatap Juna tanpa berkedip. Hidungnya yang bangir juga parasnya yang tampan membuat hati Nia terpatri nama Juna. Nia melihat name tag Juna di jas putih laboratorium.
Sejak saat itu, Nia mengikuti semua kegiatan Juna. Termasuk olahraga climbing meski Nia tidak begitu menyukainya. Setiap gerak-gerik Juna tidak lepas dari pandangan Nia.
Hingga akhirnya Nia memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Juna. Menurut Nia, Juna tidak dekat dengan siapa pun. Itu yang mendorong hatinya untuk mendekati Juna. Tapi sayang, Juna menolak mentah-mentah cinta Nia.
Sebulan Nia sebal dan merasa malu untuk bertemu Juna. Namun, Juna memberi alasan yang masuk akal hingga Nia bisa menerimanya kala itu. Sekarang, tidak ada lagi alasan Juna untuk fokus belajar.
"Jun, kenapa kamu masih belum bisa terima cintaku?"
Juna mengerutkan dahinya, pertanyaan Nia tidak ingin Juna jawab. Juna hanya menghela napas panjang.
"Sebaiknya kamu cari pria lain, Ni. Aku tidak akan pernah bisa membalas hatimu."
Juna bangkit dan menggantung jasnya. Ia malas jika terus-terusan Nia membahas hal yang itu-itu lagi. Juna melewati Nia yang berdiri di dekat daun pintu. Bak angin yang menghilang begitu saja di hadapan Nia.
Langkah jenjang Juna membawanya ke kantin yang sebenarnya ia tidak ingin makan. Embun masih menguasai pikiran Juna yang membuatnya semakin berkalut.
Ia mendaratkan bokong di kursi kayu panjang. Hanya memesan kopi latte dingin untuk menentramkan pikirannya yang ruwet.
"Anda?" tunjuk seorang perempuan pada Juna.
Juna berusaha mengingat-ingat siapa gerangan wanita yang menyapanya barusan. Kemelut pikiran yang keriting membuatnya lupa siapa wanita itu.
"Siapa?" tanya Juna.
"Saya yang kemarin makan sate." Juna tampak berpikir keras, ia sama sekali tidak melihat dengan jelas wajah gadis itu. Embunlah yang tahu persis wajahnya.
"Anda yang sama anak ABG kemarin itu, kan?"
"Ya," jawab Juna sambil berpikir keras.
Gadis itu menepuk tangannya, "Pas. Bener kalau begitu. Saya tidak salah orang," ucapnya yang kini duduk berhadapan dengan Juna. Juna terlihat gelisah, ia takut jika orang-orang di lingkungan rumah sakit salah sangka. Terutama Nia, yang jelas akan salah paham.
__ADS_1
"A-Anda ngapain duduk di situ?" tanya Juna gugup seraya matanya bergerilya melihat sekitar.
Gadis itu justru mencomot kopi yang Juna pesan. Ia menyeruputnya dengan santai, lalu mengaduk gelas berukuran panjang itu dengan sedotan.
"Eh, maaf. Nanti ini biar saya aja yang bayar," ucapnya nyengir kuda. Juna memutar bola mata malas. Lalu bangkit dari kursi, gadis itu mengikuti Juna dengan berjalan di depannya, ia melangkah mundur.
Hingga beberapa kali hampir terjatuh. Juna menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia berpikir bagaimana caranya lepas dari gadis aneh ini. Gadis dengan rambut sebahu itu, tersandung batu di belakangnya.
Tubuhnya limbung dan hampir jatuh terlentang. Juna refleks menangkap tubuhnya. Sebelah lutut Juna menahannya, dan tangan Juna berada di punggung gadis itu. Netra mereka bertemu beberapa detik.
Juna yang tersadar langsung berusaha melepaskan tangannya. Namun, Nia sudah terlanjur melihat adegan romantis itu. Ia langsung pergi dan Juna membanting tubuh gadis itu refleks. Juna langsung mengejar Nia, ia tidak ingin ada salah paham di antara mereka.
Juna lari tunggang langgang mengejar Nia. Sementara gadis itu, merintih kesakitan memegangi pinggangnya.
"Aw! Gila, sakit juga. Ngapain dia tolongin aku kalau ujung-ujungnya dijatuhin juga," gerutunya kesal dengan mencebikkan bibirnya.
"Ni, Nia," panggil Juna yang kini sudah berhasil menarik pergelangan tangan Nia.
"Apa, Jun? Kamu mau bilang ini salah paham? Jadi, itu alasan kamu selama ini tolak aku?"
"Ni! Itu bukan alasannya!"
"Ya, terus apa? Sembilan tahun loh, Jun. Sembilan tahun!" teriak Nia yang begitu menggema di lorong rumah sakit. Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
Juna menggenggam pergelangan tangan Nia dan membawanya ke rooftop. Mereka berdua berada di dalam lift tanpa percakapan apa pun.
Sesampai di rooftop, Juna melepaskan genggamannya. Membiarkan Nia meluapkan emosinya di sana.
"Silakan kalau kamu mau teriak-teriak dan maki-maki aku, Ni. Di sini tempatnya."
Nia memukul dada bidang Juna berkali-kali. Ia menumpahkan kekesalannya, tubuh Juna tidak bergerak akibat pukulan Nia.
"Maafkan aku, Nia. Aku tidak bisa membalas hatimu. Jangan berharap padaku."
"Aku nggak mau, Jun. Aku tetap mau tunggu kamu!" tolak Nia yang kini mengeratkan pelukannya. Juna menepuk bahu Nia pelan.
"Kamu harus bisa lepaskan cintamu untukku. Masih banyak pria lain yang lebih baik dari aku, Ni. Jangan buang waktumu untuk menungguku."
Nia menyandarkan kepalanya di bahu Juna. Sementara Juna berdiri tegak dengan kepala mendongak. Ia sebenarnya tidak nyaman dengan sikap Nia sekarang, tapi apa boleh buat. Hanya ini yang bisa Juna lakukan untuk menenangkan Nia.
Juna melepaskan pelukan Nia perlahan. Menghapus bekas air yang membasahi pipinya.
"Air matamu ini terlalu berharga untuk tumpah menangisiku yang tidak pernah membalas hatimu, Ni. Aku berkali-kali mengatakan, aku hanya akan fokus pada Embun."
Nia pun paham dan mereka turun bersama setelah semuanya baik-baik saja. Di dalam lift, Juna bersikap dingin dan datar.
"Jadi, perempuan tadi tidak ada hubungannya denganmu, Jun?"
Juna terkekeh sebentar lalu menjawab, "Tidak ada, Nia. Tidak kamu, tidak juga dia. Aku masih akan fokus pada Embun juga karirku."
Meninggalkan Juna juga Nia yang akan sibuk di rumah sakit, kini Embun sudah istirahat yang kedua di sekolahnya.
Galang langsung mengirim pesan pada Embun. "Mbul, ingat ya."
Embun menaikkan sudut bibirnya. Ia paling sebel dipanggil Embul, sekarang justru Galang ikut-ikutan memanggilnya begitu.
"Jangan harap!" balas Embun yang langsung turun menuju kantin sendirian.
__ADS_1
Galang menyusul dengan berlari kecil. Tangan Embun langsung digenggam Galang dan membawanya ke ruangan basket.
"Lang, lepasin!"
"Entar kalau udah sampe juga aku lepasin."
"Lang, anak-anak lihat."
"Biarin, Embul. Aku memang sengaja."
Embun menghentikan langkahnya. Ia jelas amat sangat kesal dengan sebutan itu. Galang melihat ke arah Embun yang sepertinya memberontak Galang.
"Ayo!" ajak Galang yang menarik tangan Embun. Namun, Embun masih saja enggan untuk beranjak dari tempatnya sekarang.
Galang menghelan napas panjang, lalu melepaskan pergelangan tangan Embun. Ia menggendong Embun di pundaknya. Sorak teriak suara para siswi terdengar. Embun menggoyangkan kakinya naik turun lalu memukul punggung Galang.
"Uh ...!" teriak siswi yang melihat. Kepala Embun hanya melihat ke arah belakang, yang sudah jadi pusat perhatian orang-orang.
"Galang, turunin!"
"Enggak!"
"Lang ...!"
Sesampai di ruang istirahat pebasket, Galang menurunkan Embun. Galang melangkah mendekat hingga Embun tersudut di tembok. Kedua tangan Galang mengukung Embun, tatapan matanya tajam.
Dada Embun bergemuruh, ada rasa takut juga deg-degan kala Galang menatapnya begitu. Ibu jari Galang menyapu lembut pipi Embun. Detakan jantung Embun tidak beraturan.
Wajahnya kini sudah merah padam. Ia menelan saliva berat, netranya tidak lepas dari Galang yang memandangnya nanar.
"Embun, bukannya kamu hutang dua kiss padaku?"
"Aish!" Embun melengos berpaling sejenak dari Galang. Namun, Galang menarik dagu Embun. Mendarat kecupan hangat di pipi Embun.
Embun memegang pipinya. Ia tertunduk malu, Galang masih saja belum melepaskan pandangannya dari Embun.
"Lang, kalau anak-anak lihat gimana? Malu," ucap Embun yang masih menunduk dan mengulas senyum mengingat kecupan singkat yang didaratkan Galang barusan.
"Aku udah kunci pintunya," bisik Galang. Embun melotot tidak percaya, ia justru merasa takut. Galang terkekeh melihat ekspresi Embun yang begitu.
Galang mengusap pucuk kepala Embun kasar hingga jepit rambutnya ikut berantakan. Galang membetulkan benda berbentuk bunga matahari itu. Lalu menyelipkan rambutnya di daun telinga.
Galang mencium kening Embun lembut. Gadis itu semakin menunduk dalam seraya memegangi dadanya.
"Kenapa?" tanya Galang yang mengusap lembut kepala Embun.
"Nggak apa-apa," ucapnya menyembunyikan perasaannya saat ini.
Knop pintu berputar dan seseorang muncul di sana. Galang juga Embun mengarahkan pandangan ke sana.
"Oi, Lang. Ayo, latihan."
"Oke. Sebentar, ya. Ada yang harus aku omongin sama Embun."
"Oke, aku sama anak-anak tunggu di lapangan, ya."
Galang mengangkat ibu jarinya. Sekarang seluruh sekolah sudah tahu kalau Galang dan Embun berpacaran. Posisi mereka tadi mempertegas status hubungan mereka berdua.
__ADS_1
Embun membulatkan matanya lalu berkedip dengan ritme cepat. Sedetik kemudian memicingkan matanya menatap tajam Galang.
"Kamu bilang dikunci? Tuh, buktinya Reza bisa masuk!" protes Embun yang mengerucutkan bibir.