Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Hujan Lagi


__ADS_3

Galang terkekeh sebentar dan tangannya masih saja sibuk di rambut Embun. Ia mengusap dan merapikan mayang Embun.


"Lang, jawab. Kok senyum doang," ucap Embun lagi yang sudah memukul pelan lengannya.


"Nggak mungkin aku kunci, Mbun. Apa kata anak-anak. Entar dikira mereka aku mesum lagi!"


"Kamu emang mesum!" ucap Embun yang kesal karena merasa dibohongi Galang. Galang mencubit pelan hidung mancung Embun.


"Terserah kamu, deh. Sekarang aku latihan dulu, ya. Boleh?"


Embun mengangguk, lalu keluar bersama dengan Galang. Embun kembali ke kelas, sedangkan Galang melanjutkan latihan hingga pulang.


Embun duduk di mejanya, semua mata teman-teman sekelasnya menyorot dan berbisik tentangnya. Embun ingin tidak peduli, tapi sikap mereka membuat Embun tidak nyaman.


"Anak-anak kenapa fokus lihatin aku, sih?" telisik Embun yang mengacuh pada Naura.


"Gimana enggak fokus ke kamu. Kalian berdua itu ngundang kontroversi tahu, nggak!"


"Hah?"


"Embun, tadi pagi yang kamu diantar Galang aja udah banyak yang gosipin. Apalagi kejadian barusan."


"Ya, gimana? Itu juga bukan kemauan aku."


"Ya, tapi Galang itu pujaannya mereka."


Embun menarik napas panjang. Benar yang dikatakan Naura, Galang itu pujaan mereka. Sekarang aja saat Galang latihan, sorak penonton siswi lain terus menyebut namanya. Itu terdengar hingga ke kelas Embun.


Memang salah, ia jatuh cinta dan menerima perasaan Galang. Harusnya Embun sudah siap dengan cibiran dan ocehan siswi-siswi di sekolahnya. Mulut Embun menggembung dan menghembuskan napas ke udara.


Bel sekolah pun berbunyi. Sesuai janjinya dengan Galang kemarin, Embun akan pergi menonton bioskop dengan pujaan hatinya.


Galang menunggu Embun di depan pintu. Beberapa siswi yang melintas menunjukkan wajah tidak suka pada Galang. Pasti mereka merasa kecewa dengan keputusan sang idola yang memilih Embun.


Embun keluar bersama dengan Naura. Melihat Galang yang sudah menanti, Naura pamit duluan. Begitu juga Bayu dan Azriel. Mereka bertiga sadar, tidak ingin menjadi nyamuk.


"Lihat tuh si Galang," ucap beberapa siswi yang masih di kelas Embun. Salah satu dari mereka melihat kebersamaan Embun dan Galang.


"Apa bagusnya Embun coba? Masih cantik lagi aku," ejeknya yang tidak suka dengan status mereka. Embun merasa insecure dengan pernyataan itu.


Galang pun ikut mendengar ocehan teman sekelasnya. Galang mendekati sekumpulan siswi nyinyir itu.


"Hai. Maaf, ada yang salah, ya dengan status kami?"


"Eng-enggak ada kok, Lang."


"Kalian pikir aku nggak dengar kalian jelek-jelekin Embun?" tunjuk Galang kepada ketiga gadis di sana, "Embun itu lebih baik dari kalian. Terutama kamu, Siska."


Galang berlalu dengan menautkan jemarinya di tangan Embun. Embun tertunduk diam, sedangkan Siska dan teman-temannya bersungut sebal.


Mereka berjalan bergandengan tangan menuruni anak tangga juga melewati koridor sekolah. Mereka berdua melangkah menuju tempat parkir sepeda motor.


Galang memakaikan helm pada Embun. Betapa romantisnya itu, belum lagi jepit rambut Embun diambil Galang sebelum memakaikan pelindung kepala itu.


"Nih, simpan." Galang menyodorkan benda berbentuk matahari itu, Embun refleks memegang rambutnya yang sudah tertutup helm. Galang tergelitik dengan sikap polos Embun.


"Kamu nggemesin banget, sih, Mbun," goda Galang yang mencubit pipi Embun. Mata Embun yang bulat dan bibirnya yang ranum sebenarnya mengundang desiran aneh di hati Galang.


Ingin rasanya ia mencicipi manisnya bibir berwarna pink alami itu. Jakun Galang terlihat naik turun, sebenarnya bagian bawahnya sudah tersengat aliran listrik, hingga tegang. Namun, Galang semampunya menghalau.


"Ingat, Galang. Embun harus kamu lindungi, bukan dirusak!" ucap Galang dalam hati menekan segala rasa yang muncul meraba jantungnya. Anak ABG yang memang sedang mengalami masa pubertas akan penasaran dengan hal-hal baru.


Apalagi sekarang Galang sedang bersama wanita yang dia cintai. Bukan tidak mungkin ada rasa penasaran atas ranumnya bibir mungil Embun.


Galang mengambil motornya keluar dari parkiran. Ia mengelus dada berulang, seraya menarik napas dan mengembuskannya beberapa kali.

__ADS_1


'Huh! Embun, bibir mungil itu begitu menggelitik hasratku,' batin Galang.


Galang menyuruh Embun naik ke atas motor. Kedua tangan Embun sudah melingkari pinggang Galang. Galang meremas jemari Embun lembut.


"Lang, kita jadi nonton hari ini?"


Galang tersentak, ia takut tidak bisa mengontrol sikapnya saat lampu bioskop dimatikan nanti. Lebih baik menghindar, Galang masih ada rasa takut untuk menghadapi Juna yang menatapnya bagai elang yang ingin menerkam mangsanya.


"Em, lain kali aja ya, Mbun."


"Kenapa?"


"Mmmh, aku masih harus fokus latihan sore ini di rumah, sama anak-anak," kilahnya yang masih membuat jantungnya berdebar kencang.


Embun mengerucutkan bibirnya, ia berpikir bahwa Galang tidak konsisten dengan ucapannya. Galang mengusap punggung tangan Embun ketika gadis bermata bulat itu diam.


"Mbun, kamu kok diam? Marah, ya?"


"Enggak. Cuma kecewa aja sama kamu."


"Kecewa?"


"Ya, kamu nggak konsisten sama ucapan kamu," ucap Embun merajuk. Galang jadi serba salah. Satu posisi ia takut tidak bisa mengatur gejolak dan desiran aneh yang akan mendorongnya untuk mengecup ranum bibirnya Embun.


Sebelah lagi, ia takut dengan Juna juga rasa kecewa Embun. Ah, Galang merasa bagai makan buah simalakama. Ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Mbun, maaf, ya. Anak-anak baru ngabari kalau hari ini mereka mau latihan di rumah aku. Maaf aku baru bilang sama kamu. Mereka juga mendadak ngasih tahunya."


"Oke."


Galang jadi tidak enak hati dengan sikap diam Embun. Sepanjang perjalanan mereka hening dan larut dalam pikiran masing-masing. Hingga tiba di rumah, Embun masih mengerucutkan bibirnya.


Galang pamit pada Marni yang tampak menyambut kepulangan cucu kesayangannya. Embun menghentakkan kaki lalu berbalik meninggalkan Galang yang belum beranjak dari halaman rumahnya.


"Embun, kamu kenapa?" tanya Marni yang tidak dijawab oleh Embun. Justru membanting keras pintu kamarnya, hingga rumah kayu itu bergetar.


"Maafin saya ya, Nek. Saya kemarin janji sama Embun untuk ngajak nonton, tapi tiba-tiba tim basket ngajak latihan di rumah saya. Jadinya, ya begitu."


Marni menghela napas pelan, beliau paham mengapa Embun bersikap tidak sopan begitu. Bukan hanya pada Galang saja, dengan Juna dia juga akan begitu kalau janjinya diingkari.


"Maafin, Embun, ya. Dia memang begitu. Udah terbiasa dimanja sama Juna."


"Ya, Nek. Nggak apa-apa. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Galang mengendarai motornya dengan perasaan yang serba salah. Bersyukur Juna belum pulang. Kalau saja Juna tahu Embun cemberut begitu, mungkin Galang sudah dicecar dengan pertanyaan dan berujung menjadi kalung di lengan Juna.


Juna tengah bersiap untuk pulang. Ia sudah meletakkan stetoskopnya di meja. Jas putih yang berbordir namanya sudah ia gantung di rak dekat dinding kantornya.


Shift kerjanya akan usai pukul tiga sore. Berarti setengah jam lagi dari sekarang. Ia bersantai dengan memainkan ponselnya. Ia menatap nanar fotonya dengan Embun saat dia wisuda.


Perilaku gadis nakal itu di foto.membuatnya terkekeh sebentar dan mengusapnya lembut. Ia tidak menyangka kalau jodohnya begitu cepat.


"Om nggak nyangka, Mbul. Kamu begitu cepat dewasa," gumamnya dengan merapatkan bibir.


Nia masuk tanpa mengetuk pintu, ia melipat tangan di depan dada melirik ke layar ponsel Juna.


"Itu, Embun?"


"Hem."


"Biasanya kalau menyangkut Embun kamu semangat empat lima, kenapa sekarang justru lesu?"


"Ck! Aku nggak nyangka aja, Embun yang selama ini aku jagain justru lebih memilih dijaga orang lain ketimbang aku."

__ADS_1


"Maksudnya?"


Juna menghelan napas panjang dan dalam. Sulit baginya untuk bercerita, tapi Nia memang sudah tahu seluk beluk kisah antara dirinya dan Embun. Hanya trauma sepuluh tahun silam yang tidak ia katakan pada Nia.


"Embun ada yang melamar," ucapnya dengan memijit dahinya pelan.


"What?!"


Juna melirik ke arah gadis bertubuh ideal itu yang kini sudah duduk di hadapannya. Wajahnya melongo karena begitu kaget akan ucapan Juna.


"Serius, Jun? Embun bukannya masih kecil?" tanya Nia bingung dan tidak percaya.


Juna berdehem, hanya itu yang mewakili pertanyaan Nia. Nia bangkit dan mengitari meja Juna, ia memainkan jari telunjuk di depan dagu.


"Itu artinya, kamu akan dilangkahi Embun, dong?"


"Hem ...."


Nia menggebrak meja, kedua tangannya bertumpu di sana. Ia menatap lurus Juna.


"Jun, kamu nggak mau melarangnya? Embun itu masih labil. Masa depan dia masih panjang. Dia berhak mendapatkan yang terbaik sesuai usianya nanti."


"Hem, entahlah, Ni. Percuma kalau tiga lawan satu. Pasti kalah yang satu."


"Maksudmu? Kedua orangtuamu mendukungnya? Begitu?"


Juna mengangkat kedua bahunya lalu mengambil jaket kulit berwarna hitam miliknya. Ia berjalan keluar meninggalkan Nia dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.


Juna berjalan menuju tempat parkir motornya. Ia mengendarai dengan kencang dan segera meninggalkan rumah sakit. Tugasnya sudah usai di sana.


Sesampai di rumah, Juna segera menghampiri Embun di kamarnya. Ketukan pertama tidak dibuka oleh Embun yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Embun, Om masuk, ya."


Embun tidak menjawab, ia hanya melirik pintu yang digedor Juna. Perlahan Juna masuk dan duduk di tepi ranjang. Embun tengah tergeletak di sana dengan memegang ponselnya.


"Kamu kenapa nggak jawab? Om dari tadi panggil kamu, loh."


"Om mau ngapain?" tanya Embun meliriknya sekilas.


"Om pengen ngajak kamu jalan-jalan. Yuk!"


"Ke mana, Om?"


"Kemana pun kamu mau. Om akan turuti.


"Serius?" tanya Embun yang langsung bangkit dan matanya terlihat berbinar. Ia meletakkan ponselnya asal.


"Om, Embun pengen nonton bioskop. Boleh?"


"Boleh."


"Asyik! Aku siap-siap dulu, ya. Om keluar sekarang," usir Embun yang mendorong tubuh Juna untuk segera meninggalkan kamarnya. Juna menurut pasrah.


Sebelum tiba di kamar Embun, Marni terlebih dulu bercerita soal Embun yang tengah ngambek. Hal itu juga yang membuat Juna berinisiatif mengajak Embun pergi.


Kebetulan ia tengah senggang. Juna mengenakan kaos slim fit menampakkan roti sobek miliknya, lengkap dengan celana sebatas lutut dan sepatu kets santai.


Embun keluar dengan mengenakan celana jeans sobek berwarna denim, lengkap dengan blazer ala Korea dan tas sling bag.


Mereka pergi mengendarai motor Juna menuju bioskop di terdekat. Saat di tengah jalan, hujan tiba-tiba mengguyur kota Bogor. Tubuh Embun bergetar, Juna yang mengerti langsung menepi. Ia mendekap tubuh mungil keponakannya.


Gadis itu pun menenggelamkan wajah di dada bidang Juna. Sama halnya dengan Embun, Juna juga memilikk trauma. Tapi, bukan kala hujan. Melainkan saat ia berhadapan langsung dengan pasien yang memiliki luka yang sama dengan Ahmad dulu.


"Om, Embun takut," ucap Embun yang semakin mengeratkan pelukannya. Juna mengusap punggung Embun dan mencium pucuk kepala Embun.

__ADS_1


"Ada Om di sini, Sayang. Kamu jangan takut, ya. Om akan selalu jagain kamu."


Suara petir semakin menggelegar dan air yang turun bak tumpah dari langit, semakin lama justru semakin deras. Embun tidak melepaskan dekapannya dari tubuh Juna.


__ADS_2