Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Pulang Bareng Galang


__ADS_3

Mendengar ocehan dari seberang telepon, Juna sontak berganti pakaian dan langsung menunggangi kuda besinya dengan kecepatan penuh.


Sesampai di rumah sakit, Nia sudah stand by menyambut Juna dengan membawa jas kebanggaannya.


"Mana pasiennya?" tanya Juna yang langsung mengenakan jas putih bertuliskan namanya.


"Masih di IGD." Langkah jenjangnya segera menuju ke sana. Sampai di divisi yang dimaksud, Juna berdiri mematung. Kakinya yang semula bergerak cepat, justru terhenti tanpa bisa digerakkan.


"Jun," panggil Nia dengan mengusap lengan Juna. Namun, pria berahang tegas itu tetap terpaku. Luka orang yang terkulai tak berdaya di brankar sama persis dengan Ahmad.


Juna teringat kenangan silam sepuluh tahun lalu. Benar, luka, wajah, bahkan darah yang mengalir dari Ratna dan Ahmad masih sering menghiasi isi kepala Juna.


Dadanya terasa sesak, ritme jantungnya tidak beraturan. Udara yang masuk terasa menghimpit dadanya. Juna meremas sisi kiri tubuhnya, tepat posisi segumpal darah berbentuk hati itu di sana. Lalu ia tidak sadarkan diri.


Nia dan beberapa perawat di sana sontak kaget. Mereka tidak tahu kalau Juna memiliki trauma yang amat dalam dan membekas hingga sekarang.


Tiga puluh menit berselang, Juna pun sadar. Nia yang merupakan dokter umum di sana, menjaga Juna pria yang memang selama ini ia cintai.


Juna mengerjap pelan, lalu bangkit dengan tangan yang sudah terpasang infus. Ia meringis memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.


"Argh!" rintihnya yang membuat Nia sigap langsung berdiri di sampingnya.


"Kamu nggak apa-apa?"


Juna mengangguk pelan, lalu meminta Nia membuka selang infusnya. Jelas Nia menolak, dan mendorong tubuh Juna lagi ke kasur, tidak lupa ia menarik selimut. Juna menatap heran.


"Aku harus kerja, Ni."


"Nggak, hari ini kamu libur."


"He uh?"


"Ya, kamu sekarang itu pasien."


"Pasien apaan? Orang aku baik-baik aja!"


"Kamu itu kena anemia. Plus kelelahan, jadi stop kerja untuk hari ini."


"Aku nggak ada riwayat darah rendah," sanggahnya cepat.


"Hem, ya, ya, ya. Buktinya tuh," ucap Nia mengangkat dagu menuju ke arah layar monitor IGD yang menampilkan detak jantung juga tensi darah.


**


Sepulang sekolah, Embun juga Naura pulang dengan berjalan kaki. Embun tahu, saat ini Juna pasti tengah berada di rumah sakit. Bekerja, begitulah pikir Embun. Siapa sangka, pria tampan itu justru jadi pasien.


"Mbun, makan bakso dulu yuk tempat Mang Diman."


"Jauh, Ra. Jalannya muter."


"Ayolah, Mbun. Aku lagi pengen ngebakso, nih."


Naura merengek seraya menggoyangkan tangan Embun. Gadis centil itu memeluk lengannya, kakinya bergoyang naik turun. Seperti tengah gerak jalan.


"Malas, ah, Ra. Pengen pulang."


"Mbun," ucapnya lagi yang sudah menjembikkan bibir. Embun membuang napas kasar, lalu dengan terpaksa mengiyakan sahabatnya itu. Naura juga tahu, kalau Embun itu trauma dengan hujan.


Naura bersorak kegirangan, ia langsung menarik lengan Embun untuk segera tiba di warung bakso langganan mereka. Mereka berjalan sambil bercerita apa saja, tidak lepas satu nama ikut nimbrung di pembicaraan mereka.


Siapa lagi kalau bukan Galang. Naura terus saja mendesak Embun untuk mendekati Galang. Namun, Embun hanya terkekeh mendengar ocehan Naura.


"Ye, malah ketawa. Aku seriusan Embun."


"Udah ah." Langkah mereka rupanya sudah sampai di gerobak pinggir jalan dengan meja papan lengkap dengan kursi kayu memanjang.


"Mang, mie ayam bakso dua, ya."

__ADS_1


Pria berkuncir ekor kuda itu mengangguk seraya menyiapkan pesanan orang yang lebih dulu tiba. Embun dan Naura mendaratkan bokong di sana, lagi, Naura membahas Galang tanpa melihat situasi.


"Mbun, ini tuh Galang lho yang kamu suka. Banyak cewek-cewek yang ngantri untuk jadi pacarnya dia. Masa' kamu nggak mau usaha, sih untuk dapetin dia."


"Usaha buat apa? Toh, maupun suka atau enggak dia juga nggak akan tahu."


"Ehem, ehem." Deheman seseorang di samping Embun, membuat mereka berdua melongo. Belum lagi Naura yang langsung menutup rapat kedua bibirnya. Embun melotot lalu menggerakkan mata ke arah belakang. Tengsin, itu pasti.


Meski bukan Galang sendiri yang memergoki mereka berbicara tentang Galang. Bayu dan Azriel.


"Hayo, pada ngomongin Galang kalian, ya."


"Ya, pasti di antara kalian ada yang suka Galang. Ayo, ngaku," timpal Azriel yang menunjuk ke arah kami bergantian.


Embun juga Naura mengendikkan bahu acuh. Malas meladeni mereka yang akan panjang urusannya. Apalagi itu menyangkut Galang.


"Ini pesanannya ya, Neng."


"Makasih, Mang."


"Sama-sama, Neng."


Mereka berdua menyeruput mie yang sebelumnya sudah mereka aduk-aduk dengan menambahkan saus juga cabe.


"Emang, ya. Mie ayam Mang Diman ini is the best," puji Naura dengan mengacungkan kedua jempol.


"Halah, lebay," sahut Bayu yang ikut mendengar pernyataan Naura.


"Syirik aja, sih."


"Kalian berdua aja?" tanya Embun yang memang mengerti julukan mereka. Trio Ndablek, yang artinya itu bangor, susah dibilangi.


"Si Galang nyusul entar. Masih ada yang harus dibahas sama klub basketnya."


Naura juga Embun mengangguk-angguk sembari kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Wuih, curiga aku," ucap Embun yang menarik diri sedikit menjauh dari Naura, ia menyipitkan matanya melihat ke arah Naura tajam.


"Ya Allah, Mbun. Curiga amat sama sahabat sendiri."


"Ya, ya. Thank's, ya."


Suara sepeda motor membuat mereka menoleh seketika. Empat pasang bola mata menatap ke arah seseorang yang sudah memarkir kendaraan roda dua tidak jauh dari warung Mang Diman.


"Akhirnya datang juga nih, anak," cetus Bayu dengan menarik bibir ke dalam. Hidung kembang kempis.


"Biasa aja tuh lubang hidung," balas Galang yang langsung duduk di samping Embun.


Embun juga Naura bergeser memberi tempat untuk Galang. Embun juga Naura saling sikut seperti memberi kode, bahwa jantung Embun sudah berpacu cepat.


Dug, dug, dug!


Embun menutup mata dengan meletakkan tangan menyilang di depan dada. Membelakangi Galang. Lirikan mata Naura mengisyaratkan, 'Ini kesempatan, Mbun.'


Sedangkan mata Embun mengatakan, 'Sumpah grogi parah.'


Jelas Embun salah tingkah, bagaimana tidak. Pria yang selama ini ia suka duduk di sebelahnya, hanya berjarak beberapa centimeter saja darinya.


Galang menopang kepala menatap rambut Embun yang lurus dan hitam legam itu. Saat Embun berbalik, rambut mengenai wajah Galang. Harum, batin Galang seraya menutup mata menikmati aromanya.


"Eh, maaf," kata Embun yang membuat Galang membuka matanya. Ia tersadar dan membuka mata.


"It's, ok." Atensi Galang beralih dan balik badan, ke arah sahabatnya. "Kalian udah lama?"


"Belum, Lang. Baru juga habis dua mangkok. Tuh," jawab Azriel yang menunjuk ke arah dua mangkok bakso yang tersisa hanya kuahnya saja. Galang terkekeh.


"Kami duluan, ya." Naura juga Embun pamit, takut terlalu sore tiba di rumah.

__ADS_1


Naura juga Embun pamit, Galang masih memandang Embun dari kejauhan. Sorot matanya tidak lepas dari ransel biru yang ada di punggung Embun.


Tak selang berapa lama, Galang meninggalkan kedua temannya mengejar langkah Embun. Tidak lupa ia membawa sepeda motornya.


"Lang, mau ke mana?"


"Bentar, tungguin, ya."


"Ya elah, tuh anak. Udah ditungguin malah kita ditinggal," gerutu Azriel.


"Biarin aja, ntar juga balik," jawab Bayu yang tengah menopang tangan di belakang pinggangnya.


"Embun," panggil Galang yang membuat Naura langsung menoleh, ya gadis centil itu selalu peka akan suara pria.


"Embun, Galang ke sini itu," ucap Naura yang menepuk bahu atas Embun.


"Alah, kamu ngayal kali. Mana mungkin dia ngejar aku," timpal Embun cuek dan tidak menoleh.


Sepeda motor Galang menghadang perjalanan mereka. Sontak Embun menghentikan langkahnya.


"Aku anter kamu pulang, ya."


Embun menyatukan dua alisnya, lalu saling pandang ke arah Naura.


"Oh, ya. Kebetulan, Lang. Aku ada mau mampir ke suatu tempat dulu. Kamu bisa anter Embun pulang." Embun yang semula memegang tangan Naura, langsung dilepas begitu saja oleh gadis belia itu.


"Bye, Mbun. Ketemu di rumah kamu, ya."


"Ra, Naura!" panggil Embun yang melihat Naura berjalan lebih dulu dengan kegirangan, tak jarang ia sedikit menghentakkan kakinya dengan ritme cepat.


"Boleh, kan?" tanya Galang memastikan. Galang turun dari motor dan meninggalkan roda duanya di sana. Ia ikut berjalan bersama Embun.


"Loh, motornya ditinggal?"


"Ya."


"Kenapa?" tanya Embun yang sudah mulai melangkah beriringan dengan Galang. Terkadang Embun tertunduk malu seraya menyelipkam rambut di daun telinganya, sedangkan Galang terus mengukir senyum di wajahnya seraya menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.


"Nggak apa-apa, pengen aja."


"Terus itu motor gimana?"


"Tenang aja, aku udah chat Azriel sama Bayu."


Benar memang, Galang sudah mengirim pesan pada kedua sahabatnya untuk membawa pulang motor kesayangannya itu. Meski mereka berdua berdecap kesal, tapi rasa setia kawannya tidak bisa mengubur permintaan Galang begitu saja.


Di tengah perjalanan, Galang mengambil sesuatu dari tas ranselnya. Ia menyodorkannya pada Embun.


"Ini untuk kamu."


"Ini apa?"


"Buat kamu, diterima, ya."


"Tapi ...."


Galang tidak menerima penolakan, Embun sepertinya enggan mengembalikan. Tali sepatu Embun terlepas, sontak saja ia berjongkok membenarkan ikatannya.


Tiba-tiba hujan datang, meski tidak begitu deras. Tapi butiran yang turun itu berhasil membuat tubuh Embun diam mematung, dan kaku. Tangannya pun tidak bergerak.


Gemuruh di dada Embun semakin bergejolak. Tubuhnya bergetar hebat. Peristiwa sepuluh tahun lalu berputar di memori ingatan Embuun.


Bocah berumur lima tahun menyaksikan kepergian ayah dan ibunya di depan mata. Sakit mengerjap menusuk jantung dan ulu hati. Embun menatap langit yang seolah hujan selalu membuatnya kembali mengingat sosok Ahmad dan Ratna yang terkulai tak berdaya.


"Tuhan, aku nggak kuat. Semua kenangan saat hujan terekam jelas di sel otakku," rintih Embun. Dulu, ia selalu suka dengan hujan. Sekarang, ia justru tidak menginginkan hujan untuk membasahi bumi.


Kian lama, butiran itu semakin datang bergerombol. Embun terisak hingga bahunya berguncang. Ia menunduk dalam dan berusaha mengikat tali sepatunya. Namun, sial, untuk melakukan hal sepele begitu saja, ia tidak mampu.

__ADS_1


Hanya air mata yang jatuh berucucuran. Sebuah payung menghalau air yang turun. Galang berdiri tegak dengan sebelah tangan berada di saku celana.


__ADS_2