Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Antara Febby dan Juna


__ADS_3

Juna sedikit membanting pintu kamarnya. Entah mengapa, jika menyangkut masalah wanita ia selalu enggan membahasnya. Juna menyabet jaketnya yang tergantung di belakang daun pintu.


"Argh! Ibu, ada-ada aja, sih!" gerutunya kesal.


Ia keluar dengan wajah yang ditekuk, langkahnya berat untuk pergi ke rumah Febby meski sekadar meminta maaf. Ia berharap tidak bertemu dengan Febby.


"Mau ke mana, Om?" tanya Embun yang masih membuka kaos kakinya di ruang tamu.


"Ck!" balas Juna cuek. Lalu pergi mengendarai motornya.


Sepanjang jalan sering ia ngomel sendiri, berulang kali dia bilang, "Kalau bukan karena Ibu, malas aku temuin si Febby, Febby itu."


Juna menuju pasar besar untuk membawa sesuatu. Tidak mungkin ia datang tangan kosong. Juna membeli buah di minimarket yang sudah disusun rapi dalam keranjang.


Juna mengambilnya asal, dan segera membayar. Meski wajah bersungut, ia tetap memenuhi keinginan Marni. Mengendarai motor dengan sangat lambat, keranjang buah tadi sudah berada di depan dadanya.


"Assalamualaikum," ucapnya saat sudah tiba di sebuah rumah minimalis dan cukup modern ini. Terbilang rumah yang bagus di desa mereka.


"Waalaikumsalam," jawab si empunya rumah, Sri, ibu Febby dari dalam dan melangkah menghampiri Juna yang berdiri di ambang pintu. "Eh, Nak Juna," sambungnya yang tampak merapikan sanggulan kecil rambutnya.


"Febby ada, Bu?"


"Ada, sebentar, ya. Masuk, masuk. Duduk dulu, Nak Juna."


"Terima kasih, Bu."


Juna memandangi sekeliling dinding rumah itu. Ia melihat berbagai foto Febby. Foto saat ia wisuda di Los Angeles dan mendapatkan predikat cumlaude. Juna menjembikkan bibir lalu manggut-manggut.


"Hai," sapa Febby yang tampak sumringah melihat kedatangan Juna di rumahnya. Gadis itu langsung saja duduk di hadapan Juna. Juna hanya melengos. "Ini buat aku?" tanyanya yang sudah mengangkat keranjang buah yang dibawa Juna tadi.


"Saya minta maaf soal kemarin. Kalau begitu, saya permisi," ucap Juna tanpa ada basa-basi terlebih dahulu dan berdiri untuk melangkah pergi.


"Loh, udah mau pulang Jun?" tanya Sri seraya membawa nampan berisi teh manis dalam gelas.


"Ya, Bu. Ada pasien yang harus diperiksa." Demi menghargai, Juna menyeruput teh itu sedikit lalu beranjak pergi.


Tidak ada rasa kagum atau yang lainnya. Hanya saja, Juna sempat berpikir gadis lulusan luar negeri melakukan kecerobohan berkali-kali. Juna sontak menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran tentang Febby.

__ADS_1


Sesampai di rumah sakit, Juna dihadiahkan oleh pasien yang tengah mengalami luka-luka ringan dan banyak, di IGD.


"Ada apa ini?"


"Ada kecelakaan bus."


"Terus? Kamu kenapa masih diam aja di sini?" Juna melihat Nia yang berdiri dengan kedua tangan ia letakkan di saku jas putihnya.


"Itu bukan wilayah kita, Jun. Biarkan aja orang-orang di IGD yang menyeleksinya.


"Terus? Kamu cuma mau diam aja, gitu?"


"Ya, kita harus apa? Kita ini dokter bedah, bukan dokter umum."


"Nia! Kita ini dokter, dengan melihat pasien yang begitu banyak dan butuh bantuan, kamu diam aja gitu? Sumpah kamu waktu jadi dokter dulu mana?"


Juna meninggalkan Nia dan mengambil jas putihnya. Dengan cepat ia melangkah kembali untuk membantu perawat dan dokter di IGD.


Juna melintasi Nia yang masih berdiri mematung dengan posisi yang sama. Wajahnya tampak kesal karena dimarah oleh Juna tadi.


"Kamu nggak waras, Jun!" cibir Nia yang melangkah pergi menuju ruangannya. Nia mengepal tangan geram. Pasalnya, kejadian tempo hari saja sudah membakar hatinya. Hari ini, ia justru kembali tersakiti oleh sikap Juna.


"Sus, kenapa bengong! Cepat bawakan alkohol untuk membersihkan lukanya."


"I-iya, Dok."


Pandangan Juna terus tertuju pada layar monitor dan pasien bergantian. Ia memastikan bahwa kondisi pasien stabil, pasien yang merupakan pria paruh baya terus mengeluh di bagian dada.


Perawat tadi kembali dengan alkohol dalam genggaman, Juna meminta perawat untuk ikut bersamanya melakukan CT Scan. Brankar didorong menuju ruang rontgen. Juna sendiri yang melakukannya.


Hasil pemeriksaan menunjukkan ada temponade jantung, Juna segera memerintahkan perawat untuk menyiapkan ruang operasi dan dokter anestesi yang bertugas.


Saat perawat keluar membawa pasien, seorang wanita paruh baya terlihat gelisah juga bingung. Juna berjalan mendekat, wanita itu langsung meremas lengan Juna.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya. Dia baik-baik aja, kan?"


"Suami Anda mengalami temponade jantung. Temponade jantung adalah kompresi jantung yang disebabkan oleh pengumpulan cairan dalam kantung yang mengelilingi jantung. Tamponade jantung memberikan tekanan pada jantung dan mencegahnya terisi dengan benar. Akibatnya, tekanan darah mengalami penurunan drastis yang bisa berakibat fatal."

__ADS_1


"Lalu? Apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya ingin suami saya selamat." Wanita paruh baya berbaju lusuh tampak *******-***** jemarinya. Ia begitu khawatir, entah itu masalah biaya dan lain sebagainya.


Juna tampak menggaruk pelipisnya, ia bingung harus bagaimana mengatakan yang sebenarnya. Jika tidak dilakukan operasi, pria tadi akan meninggal sia-sia.


"Sebaiknya, suami Anda melakukan operasi."


"Operasi?"


"Dok, ruangan operasi sudah siap. Dokter yang Anda minta juga sudah stand by bersama beberapa perawat."


Juna menoleh ke arah perawat bertubuh kecil itu, lalu mengangguk sebentar. Matanya teralih pada wanita di depannya.


Juna menggenggam tangan keriput itu, lalu merangkul bahunya.


"Saya akan usahakan yang terbaik, Bu. Anda hanya perlu menyetujui formulir yang diserahkan perawat."


"Tapi, Dok. Biayanya?"


"Sus, biayanya masukan ke tagihan saya, ya."


"Baik, Dok."


Juna buru-buru menuju ruang operasi. Pria paruh baya tadi sudah terbujur di hadapannya. Ia mengganti pakaiannya dengan baju khusus. Lalu siap bertarung dengan pisau yang mempertaruhkan nyawa pasien di tangannya.


Juna menarik napas dalam dan berdoa sebentar sebelum memulai.


"Bismillah. Pisau bedah," ucapnya pada perawat dan mulai membelah bagian dada pasiennya.


"Bagaimana dengan tanda vitalnya, Dok?" tanyanya pada dokter anestesi yang bertugas setelah sibuk membelah dada sang pasien.


"Stabil, Dok."


Juna melanjutkan operasi dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Dibantu oleh tim yang biasa ikut serta bersamanya. Waktu operasionalnya sekitar sembilan puluh menit.


Wanita paruh baya, tengah gelisah menantikan keadaan suaminya yang tengah berjuang untuk hidup. Lantunan doa dengan penuh harap ia panjatkan.


Nia berdiri di depan ruang operasi, lampu merah sedang berlangsungnya kegiatan membedah itu masih menyala meski sudah enam puluh menit berlalu.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu terus mondar-mandir, Febby tiba-tiba datang menghampiri. Sontak Nia melengos pergi. Rupanya, Febby yang menelepon ambulance, ia juga ikut serta dalam mengevakuasi para korban. Febby menyapu lembut baju wanita paruh baya di sampingnya.


"Kita doakan yang terbaik ya, Bu."


__ADS_2