Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Tatapan Galang


__ADS_3

Wajah Juna sengaja mendekati Nia, seperti akan menciumnya. Itu Juna lakukan agar Febby berhenti berharap padanya. Nia menyunggingkan senyuman, lalu pandangannya tertuju pada Febby yang masih menyaksikan mereka berdua.


Febby merasa hancur akan sikap Juna, meski ia tahu kalau Juna tidak pernah membalas perasaan nya. Namun, Febby masih saja gadis biasa dan dia seorang wanita yang memiliki hati yang rapuh.


Juna dan Nia semakin bersandiwara, keduanya sepakat untuk membuat Febby mundur. Bukan tanpa alasan, Juna memang tidak ingin dekat dengan siapa pun.


Sekarang, kulkas lima pintu ini hanya fokus pada Embun. Embun sendiri tengah marah pada Juna. Itu yang membuat pikiran Juna kalut hingga terlintas untuk memanfaatkan Nia.


"Jun, aku senang bisa sedekat ini sama kamu."


"Stop, Ni. Jangan berharap sama aku."


Keduanya saling pandang sambil bercerita, juga kini jika dilihat dari jauh, mereka seperti akan berciuman. Belum lagi kedua tangan Nia yang sudah merangkul tengkuk Juna.


Juna memukul pelan dan berusaha menurunkan tangan Nia darinya. Mata Nia masih tertuju pada Febby yang masih memasang wajah masam melihat keduanya. Tangannya terkepal geram, ia semakin tertantang untuk mendapatkan Juna.


"Nia, lepasin!"


"Tenang, Jun. Gadis itu masih melihat kita," bisiknya yang membuat Juna mau tidak mau harus mengikuti arahan Nia.


Febby berusaha menyeberangi jalan, langkahnya tidak sabar untuk segera menghampiri kedua insan itu yang dilihatnya tengah bercumbu.


Masih dengan posisi tadi, Nia tiba-tiba mendongak. Juna mengernyitkan dahi, jemarinya digenggam oleh Nia. Bahu Juna dicengkeram kuat oleh Febby.


Juna menoleh, tatapan Febby tajam dan mengintimidasi Nia.


"Singkirin tangan kamu!" perintah Nia yang tidak suka gadis dengan celana jeans denim itu menyentuh Juna seenaknya. Dia saja yang dari dulu dekat dengan Juna tidak berani, Juna pasti akan membuangnya secepat kilat.


"Tidak! Juna calon suamiku!" tandas Febby yang langsung membuat Juna bangkit. Ia meninggalkan kedua wanita cantik yang tengah bersitegang itu. Sebelum pergi, Juna menghentikan langkahnya sebentar.


"Kamu, jangan ngaku-ngaku! Nia, ayo kita pulang."


Juna menyabet helm di atas motornya, ia meminta Nia untuk naik. Nia langsung memeluk tubuh atletis Juna.


"Maaf ya, Jun," bisik Nia dengan penuh kemenangan. Sudut bibirnya terangkat naik, saat menoleh ke arah Febby.


Laju motor Juna sangat cepat, di pertigaan ia menurunkan Nia. Juna tidak ada niat mengantar Nia pulang.

__ADS_1


"Maaf, Ni. Aku nggak bisa antar kamu pulang." Setelah mengatakan itu, Nia langsung turun dari motor kesayangan Juna. Juna mengebut untuk segera tiba di rumahnya.


Nia dan Febby sama-sama menggerutu kesal dengan sikap Juna.


"Awas aja kamu, Jun. Aku akan memenangkan hatimu, tunggu saja!" geram Febby sudah mengepal tangan kuat.


Begitu juga Nia, tapi ia masih tersenyum karena ia berhasil menikmati aroma tubuh Juna yang sama sekali tidak pernah ia gapai.


"Meski hanya sebentar, aku bisa memelukmu, Jun. Ada candu di hatiku untuk memiliki kamu," ucap Nia yang masih menantikan ojek online yang ia pesan tadi.


Sesampai di rumah, Juna mencari keberadaan Embun. Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan Marni. Marni berkedip dengan ritme cepat. Ia terlihat gelisah, sebab Embun belum kembali sejak pergi bersama Ambar.


"Embun mana, Bu?"


"Lagi pergi."


"Sama siapa?" tanyanya lagi yang duduk di sofa sambil membuka sepatunya. Marni merapatkan bibirnya, ia tidak berani menjawab Juna. "Bu?" panggil Juna saat tak lagi mendengar jawaban dari Marni.


"Sama ibunya Galang."


Juna berdiri lalu berkacak pinggang, Marni tahu betul Juna akan marah. Namun, ia bisa apa. Tidak mungkin menghalangi Embun yang tampak bersemangat saat diajak pergi oleh Ambar.


"Ibu nggak tahu. Palingan juga jalan-jalan biasa aja."


Juna merogoh saku celananya, ia mengambil gawai dari sana. Juna menelepon Embun, gadis bermata bulat itu tidak menjawab. Embun tengah asyik mencoba kebaya untuk ia kenakan esok.


Embun sangat senang bisa memiliki kesempatan yang jarang sekali ia temui. Berbelanja dengan sosok ibu, yang tidak pernah ia lakukan sejak ia beranjak remaja.


Kala membeli pakaian, Embun sellau ditemani Juna atau Marni. Menurutnya, keduanya kurang paham dengan mode anak zaman sekarang. Memang benar, sosok ibu yang paling mengerti anaknya.


"Mbun, kamu cobain yang ini juga, ya," pinta Ambar yang menunjukkan dua dress dengan model dan warna yang berbeda.


"Nggak usah, Tante. Embun udah dapat kok."


"Ih, nggak apa-apa. Ini untuk kamu, Tante beliin khusus. Nggak boleh nolak!"


Embun pun pasrah dan kembali ke ruangan ganti, ia mencoba dua dress kembang yang satu you can see dan satu lagi tanpa lengan.

__ADS_1


"Tan," panggil Embun yang unjuk diri di hadapan Ambar.


"Coba berputar?" Embun mengikuti arahannya, ia memutar badan sambil memegang ujung dress kembang itu. "Bagus itu, Mbun."


"Sama yang tadi, Tan?"


"Dua-duanya, bagus. Mbak, saya ambil keduanya, ya. Tiga sama yang tadi juga," ucap Ambar yang meminta barang yang dipakai Embun dibungkus.


"Loh, Tan?"


"Tante selalu pengen punya anak cewek, makanya kamu jadi bahan eksperimen Tante."


Embun tertunduk malu mendengar penuturan Ambar. Selesai berbelanja, Embun dibawa Ambar ke rumahnya.


Galang duduk di ruang tamu sendiri sambil menyalakan televisi. Embun membawa dua kantong paper bag. Galang melongo melihat kehadiran Embun tiba-tiba.


Kedua sahabatnya sudah pulang sejak Galang merasa sudah baik. Ya, Galang mengusirnya lebih tepatnya. Galang sudah membersihkan diri setelah puas menumpahkan rasa kesalnya pada bola basket tadi.


"Embun," ucapnya yang perlahan bangkit menuju Embun yang masih berdiri di depan pintu.


"Lang," ucap Embun menundukkan pandangan, ia menyelipkan rambutnya ke daun telinga.


"Ma, Embun kok dibawa ke sini?"


"Ya, Mama kan udah masak banyak. Sayang, kalau nggak dimakan. Jadi, Mama bawa Embun kemari, daripada makan di luar."


"Tapi, Ma."


Ambar menyapu bahu anak semata wayangnya itu lembut, ia seperti menenangkan Galang yang tampak gelisah dan tidak tenang. Ya, masih ada rasa takut di hati Galang. Ia belum siap jika Juna membentaknya lagi.


"Masuk, Mbun," perintah Ambar yang pandangannya tertuju pada Embun. Embun sendiri, canggung menatap Galang. Ia merasa kalau Galang akan menghindarinya karena traumanya.


"Mbun, bisa aku ngomong sebentar sama kamu?"


Duh dug dug


Jantung Embun berdetak tidak karuan, ia takut Galang akan memutuskan hubungannya. Sebab, memang Embun yang menelepon Juna dan minta dijemput. Jelas itu melukai harga diri Galang sebagai pacarnya. Pantas jika Juna bersikap tidak percaya dan sulit mengandalkan Galang untuk menjaga Embun.

__ADS_1


"Sana, Mbun. Galang tunggu kamu itu."


Galang melangkah naik ke tangga, Embun mengekor. Sesampai di balkon, Galang menatap Embun dengan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2