Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Pernikahan Dini


__ADS_3

Orang tua Galang terlihat berpikir, sampai akhirnya mereka pun setuju. Gadis bermata bulat itu dibantu Marni untuk berdandan. Memang, masih terlalu dini untuk Embun dan Galang menikah, tapi itu jauh lebih baik daripada mereka terkena pergaulan bebas.


Bram, terlihat sibuk menelepon. Ia mencari seorang penghulu yang bisa menikahkan Galang juga Embun secara siri. Ya, Embun masih di bawah umur.


Kalau sampai pihak sekolah tahu mereka menikah, mereka pasti akan dikeluarkan. Galang lebih tua satu tahun dari Embun. Namun, karena ia sempat berpindah-pindah, Galang masuk taman kanak-kanak saat umur enam tahun.


Sementara yang lain sibuk, Juna justru uring-uringan. Dia benar-benar nggak rela dengan keputusan ibunya menikahkan Embun. Menurutnya, masih panjang jalan Embun untuk menggapai cita-citanya. Kalau tiba-tiba Embun hamil, semua akan hilang sia-sia.


Juna, tidak kehabisan akal. Ia membuka laptop dan mengetik sesuatu di sana. Mungkin semacam perjanjian. Cukup lama berkutat dengan benda persegi di depannya, Juna keluar bergabung dengan yang lain.


Juna tidak ingin mengambil resiko, jika Embun harus merelakan masa depannya demi Galang. Juna, menatap sebal ibunya.


Sudah hampir satu jam lamanya keluarga Galang datang, mereka semua harap-harap cemas saat menunggu kedatangan penghulu yang diminta Bram tadi.


"Assalamualaikum," ucap pria berpeci lengkap dengan membawa tas tenteng di sampingnya.


"Ustadz," sapa hangat Bram sembari bersalaman diikuti semua orang.


"Jadi, saya akan menikahkan anak kamu?" tanya pria berumur setengah baya.


"Ya, Ustadz. Silakan dimulai."


"Tunggu!" kata Juna yang membuat semua orang beralih padanya. Ia mengeluarkan selembar kertas untuk diberikan pada keluarga Galang.


Ambar dan Bram saling pandang saat Juna menyerahkan itu. Marni mendekati Juna, ia berbisik pada putranya itu.


"Jun, kamu apa-apaan?"


"Bu, ini semua demi Embun."


Ambar dan Bram membawa poin-poin penting yang ditulis Juna di sana. Mereka menatap Juna dan tatapan yang sulit diartikan.


Poin pertama, Juna meminta keluarga Galang menjamin masa depan Embun dalam bentuk pendidikan yang layak, karena Embun sudah menjadi tanggung jawab Galang.


Poin kedua, jika Embun hamil di dalam perjalanan dan siap dikeluarkan oleh pihak sekolah, maka Embun berhak mendapat home schooling.

__ADS_1


Poin ketiga, tolong jaga dan sayangi Embun seperti anak kalian. Selama Embun masih sekolah, dia tinggal di rumah Marni.


"Poin ketiga saya kurang setuju," ucap Ambar tiba-tiba. Juna menyatukan alisnya. "Setelah menikah, Embun harus pindah ke rumah kami. Jadi, kami bisa memenuhi poin-poin yang lain. Kalau kalian ingin mengunjungi Embun, pintu rumah saya selalu terbuka."


Marni, Roy, juga Juna terpaku. Mereka bingung harus berkata apa. Benar, seharusnya memang begitu. Embun sudah menjadi tanggung jawab pihak pria.


"Baiklah, saya setuju. Tapi, boleh kan minggu depan baru Embun pindah?"


"Boleh, Bu."


Marni menarik napas lega, ia sebenarnya tidak rela ditinggal Embun. Tapi, keputusannya yang menikahkan Embun membuat ia harus mengikuti apa yang memang sudah seharusnya.


"Sudah bisa kita mulai?" tanya ustadz yang bertugas untuk menikahkan kedua remaja itu. Dua orang saksi tampak baru saja hadir, mereka diminta Bram untuk datang. Dua orang itu salah satu karyawannya.


Galang tampak gugup, ia berkali-kali menyapu kedua tangan di pahanya. Ia sama sekali tidak berpikiran menikah, tapi kalau sudah begini dia juga tidak bisa menolak.


Apalagi mengingat Fandy yang terus saja mendekati Embun. Badai di hadapannya pun akan diterjang Galang demi Embun.


Mereka menyerahkan wali Embun pada penghulu, Juna tidak sanggup menikahkan Embun. Harusnya, dari pihak Ahmad. Namun, Ahmad anak tunggal dan sudah yatim piatu setelah Embun lahir beberapa hari.


"Saya terima nikahnya Embun Rianti binti Ahmad Sudibyo dengan mahar cincin seberat lima gram dibayar tu... nai!"


"Bagaimana saksi?"


"Sah," seru kedua saksi. Semua orang mengucap syukur atas pernikahan tiba-tiba ini. Galang memakaikan cincin yang dibeli ibunya pada Embun. Tangan Galang mencengkeram lembut bahu Embun, ia mendaratkan kecupan di keningnya.


Tangan Juna menghalangi, aktivitas itu. Semua orang melotot melihat Juna.


"Masih kecil!" ucap Juna mendorong kepala Galang pelan.


"Jun...," desis Marni. Meski mereka masih remaja, tapi mereka sudah sah secara agama. Halal bersentuhan, Juna tidak tahu saja kalau Embun dan Galang sudah sama-sama merasakan manisnya bibir masing-masing.


Galang bersungut sebal, ia mendelik menatap Juna. Lantunan doa kini dipanjatkan untuk keduanya.


Setelah selesai, Marni mengajak semua orang yang hadir untuk makan. Galang dan Embun terus saja tersenyum bahagia dan malu-malu. Pikiran keduanya, sibuk menata malam pertama.

__ADS_1


Benar, masih remaja selalu pikirannya tidak jauh-jauh dari itu. Sekarang, mereka masih menjaga jarak karena Juna terus saja mengawasi mereka.


Mata Juna memicing tajam melihat Galang. Ia tampak sangat kesal, dan ingin menerkam Galang hidup-hidup. Tidak peduli dengan adanya kedua orang tua Galang.


Bahu Juna disapu lembut oleh Roy, Roy paham bagaimana dengan perasaan Juna. Ya, seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


"Jun, ayo makan."


"Ya, Pak."


***


Pukul sebelas malam, orang tua Galang pamit. Mereka membiarkan anaknya untuk tinggal di rumah Marni. Mereka paham, ini malam pertama bagi keduanya. Namun, Juna tidak mengizinkan Galang untuk satu kamar dengan Embun.


"Pulang aja, sana! Embun masih harus sekolah besok."


"Jun," panggil Marni yang membuat Juna menoleh kesal. Lalu berjalan meninggalkan semua orang untuk pergi kerja.


Sebenarnya, ini saja dia sudah terhambat. Harusnya Juna jam sebelas sudah datang absen di rumah sakit, tapi dia justru sibuk dengan pernikahan Embun. Juna mengambil jaket kulit lalu mengendarai motor untuk tiba di rumah sakit dengan cepat.


Suara motor Juna sudah terdengar menjauh, Marni meminta Embun untuk menuntun Galang masuk. Bagaimanapun juga, mereka sudah suami istri sekarang.


Marni tida perlu menjelaskan kewajiban istri untuk malam ini. Marni yakin, Embun dan Galang pasti sudah paham.


"Ingat, ya. Kalian masih sekolah. Harus bisa menjaga."


Galang terlihat menggaruk tengkuk belakangnya, ia paham maksud Marni. Tapi, malam ini dia tidak ada membawa pengaman untuk itu. Entahlah apa yang akan terjadi setelah mereka berdua berada di dalam kamar.


"Ayo, Lang."


Galang menurut, ia mengekor Embun untuk masuk ke kamar yang kecil tapi tetap tersusun rapi. Galang memandang sekeliling, ia tampak bingung harus apa dan akan bagaimana.


Galang menarik kursi meja belajar Embun, mendaratkan bokong di sana. Bohong, kalau dia tidak berpikiran kotor jika sudah berdua dengan Embun begini.


Embun masih berdiri kikuk, suasananya benar-benar membuat canggung. Embun bingung harus ngapain. Jika buka baju, tentu saja Galang akan lihat.

__ADS_1


__ADS_2